Setiap kita yang pernah duduk di bangku sekolah pasti mengalami proses belajar. Jika demikian apakah kita sudah bisa disebut sebagai seorang pembelajar?
Tapi tahukah Anda bahwa semua pembelajar pasti belajar, tetapi tidak semua orang yang belajar adalah pembelajar!
Jadi bagaimana kriteria seseorang bisa disebut sebagai seorang pembelajar? Mari kita bersama belajar dari Salomo, seorang raja yang mendapat anugrah dari Tuhan hikmat yang luar biasa.
Ketika Salomo naik takhta sebagai raja Israel, ia menyadari keterbatasannya. Ia tidak mengandalkan kekuatan atau pengalaman pribadinya, tetapi justru meminta hikmat dari Tuhan.
“Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkau telah mengangkat hambamu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, walaupun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hambamu ini hati yang paham untuk menghakimi umat-Mu dan untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat.” (1 Raja-raja 3:7-9)
Kerendahan hati ini adalah langkah awal seorang pembelajar. Salomo tidak merasa dirinya sudah cukup pintar, tetapi ia sadar bahwa ia masih perlu Tuhan, untuk itu ia meminta hikmat dari Tuhan.
Salomo tidak hanya menerima hikmat secara supernatural, tetapi ia juga mengembangkan hikmatnya dengan cara mengamati kehidupan, alam, dan manusia.
Pengamatan terhadap manusia: Salomo dikenal sebagai hakim yang bijaksana. Kisah yang terkenal adalah ketika ia menyelesaikan perselisihan antara dua wanita yang berebut bayi (1 Raja-raja 3:16-28). Ini menunjukkan bahwa ia belajar memahami manusia dan menggunakan hikmat dalam keputusan-keputusannya.
Pengamatan terhadap alam dan ciptaan Tuhan: Salomo meneliti berbagai aspek kehidupan, seperti flora dan fauna, yang kemudian ia bagikan dalam tulisannya.
"Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara tentang hewan, tentang burung-burung, tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan.” (1 Raja-raja 4:33)
Salomo tidak hanya menerima hikmat, tetapi ia memperdalamnya dengan terus mengamati dunia di sekitarnya.
Seorang pembelajar sejati bukan hanya menyerap ilmu, tetapi juga mengolah dan membagikannya. Salomo menuangkan hikmatnya dalam tulisan-tulisan yang masih kita baca hingga sekarang:
Dengan menulis, Salomo semakin memperkokoh pemahamannya dan membagikannya kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa menuliskan dan mengajarkan hikmat juga merupakan bagian dari pertumbuhan hikmat itu sendiri.
Meskipun ia adalah orang paling berhikmat, Salomo tetap membuka dirinya untuk menerima nasihat. Salah satu bukti bahwa ia menghargai pembelajaran dari orang lain adalah karena ia sering menulis tentang pentingnya mendengarkan nasihat:
"Orang bijak mendengar dan bertambah ilmu, dan orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.” (Amsal 1:5)
"Janganlah menolak didikan, hai anakku, janganlah engkau bosan akan teguran, karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.” (Amsal 3:11-12)
Salomo tidak hanya mengajarkan ini kepada orang lain, tetapi ia sendiri juga seorang pencari nasihat.
Meskipun Salomo sangat berhikmat, ia tetap membuat kesalahan dalam hidupnya.
Ia menikahi banyak istri dari bangsa asing yang akhirnya membuat hatinya berpaling dari Tuhan (1 Raja-raja 11:1-4).
Ia membangun banyak proyek besar tetapi akhirnya menyadari bahwa semuanya sia-sia jika tidak dilakukan untuk Tuhan (Pengkhotbah 1:2).
Namun, dari kesalahan-kesalahan itu, Salomo belajar dan menuliskannya dalam Kitab Pengkhotbah. Di akhir hidupnya, ia menyimpulkan:
"Akhir kata dari segala yang didengar ialah: Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pengkhotbah 12:13)
Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan dalam hikmat tidak hanya berasal dari keberhasilan, tetapi juga dari pembelajaran melalui kegagalan.
Kisah Salomo mengajarkan bahwa menjadi pribadi pembelajar adalah proses seumur hidup. Meskipun seseorang telah menerima hikmat dari Tuhan, ia tetap perlu mengembangkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang hanya belajar untuk tujuan tertentu, maka ia hanya sedang melakukan aktivitas belajar. Namun, jika seseorang menjadikan belajar sebagai gaya hidup dan terus bertumbuh dalam pemahaman, maka ia adalah seorang pembelajar.
Apakah kita sudah menjadi pribadi pembelajar seperti Salomo?
BACA JUGA :
7 Prinsip Keuangan Raja Salomo Yang Membawa Keberhasilan
Fakta Alkitab: Ratu dari Selatan yang Mengakui Kebenaran Tuhan Meski Bukan Orang Beriman
#FaktaAlkitab – Inilah Lokasi Bait Suci yang Dibangun Raja Salomo
Sumber : Jawaban.com | Puji Astuti