3 Alasan Kenapa Anak Enggan Bicara Terbuka Dengan Orang Tua yang Diungkapkan Psikolog
Sumber: canva.com

Parenting / 6 June 2024

Kalangan Sendiri

3 Alasan Kenapa Anak Enggan Bicara Terbuka Dengan Orang Tua yang Diungkapkan Psikolog

Claudia Jessica Official Writer
797

Ketika anak memilih untuk tidak mau bercerita atau enggan bicara secara terbuka dengan orang tua, artinya ada rasa takut yang anak-anak alami.

Rasa takut inilah yang akhirnya membuat anak-anak enggan untuk bicara secara terbuka atau bercerita kepada orang tua. Mengapa demikian?

Psikolog Alexandra Gabriela A., M.Psi, Psi., C.Ht mengajak kita untuk menelaah kembali hubungan orang tua dan anak di masa anak kanak-kanak dan menjelaskan beberapa alasan mengapa anak enggan untuk terbuka kepada orang tua.

 

BACA JUGA: Membangun Kembali Kepercayaan Anak yang Enggan Berbicara atau Bercerita dengan Orangtua

 

1. Ketakutan Mengalami Kemarahan Orang Tua

Penyebab pertama mengapa anak enggan bicara terbuka dengan orang tuanya adalah karena rasa takut yang ditanamkan kepada anak sejak dini.

“Ketika seorang anak memilih untuk tidak bicara atau tidak mengungkapkan isi hati kepada orang tua, artinya kan ada rasa takut. Rasa takut ini yang mengunci mereka untuk tidak ngomong sama orang tuanya,” ungkap Alexandra.

“Kita perlu telaah hubungan ketika anak masih kecil. Apakah ketika anak melakukan kesalahan yang mereka tidak tahu, mereka malah dibentak dan dimarahi, bukannya ditenangkan atau diajarkan cara mengelola emosi bahwa ini salah, dan yang benar seperti ini,” sambungnya lagi.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua seharusnya merespon dengan mengajarkan anak tentang konsep benar dan salah. Kemarahan orang tua justru membuat anak merasa takut dan enggan berbicara.

2. Tidak Merasa Aman Setelah Bercerita

Alexandra menjelaskan, ketika anak masih kecil, mereka belum memahami konsep benar dan salah. Mereka hanya menikmati apa yang menyenangkan bagi mereka.

 

BACA JUGA: Menjadi Teman Curhat yang Baik

 

Misalnya, ketika anak main pukul-pukulan dengan temannya sampai mengalami luka, kemudian orang tua meresponnya panik. Padahal bagi anak, peristiwa itu hanya sekedar permainan yang menyenangkan tanpa ada yang mengajari mereka bahwa memukul adalah tindakan yang tidak baik.

“Jadi dia akan mereka, kok aku baru cerita yang aku rasa baik-baik aja main pukul-pukulan doang. Tapi kok mama wajahnya cemas begitu? Ah lain kali gak mau cerita deh,” pungkas Alexandra sambil mencontohkan pemikiran anak.

 

Baca halaman selanjutnya →

Sumber : Psikolog Alexandra Gabriela
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami