Makanan dan Mood: Rahasia Koneksi Antara Perut dan Otak yang Jarang Diketahui
Sumber: Jawaban

Health / 15 March 2024

Kalangan Sendiri

Makanan dan Mood: Rahasia Koneksi Antara Perut dan Otak yang Jarang Diketahui

Puji Astuti Official Writer
975

Beberapa kejadian mengejutkan terjadi beberapa waktu ini  membuat masyarakat Indonesia lebih peduli tentang kesehatan mental. Karena kesehatan mental yang buruk yang dialami salah satu anggota keluarga, seperti ibu atau ayah dan bahkah anak, bisa berdampak kepada seluruh keluarga. Jadi apa yang bisa memicu kesehatan mental seseorang? 

Mitos atau fakta kalau  perut dan otak kita itu terhubung. 

Hal tersebut ternyata fakta, dan dibenarkan oleh dr.Sepriani Timurtini Limbong MD.,M.Sc seorang dokter dan Nutrition Scientist.  

“Makanya ada yang sering bilang, perut itu atau our gut itu our second brain. Karena di dalam perut kita, sistem pencernaan khususnya, banyak banget saraf-saraf disitu. Dan salah satu saraf terpanjang di otak itu namanya saraf vagal, itulah saraf yang ke perut,” demikian jelas dr.Sepriana kepada Jawaban.com.  

Itu sebabnya apa yang kita makan dan apa yang terjadi di perut kita mempengaruhi otak kita. Namun cara mempengaruhinya tidak terjadi secara langsung atau instant, seperti apa yang kita makan bisa langsung membuat kita senang atau sedih.  

Sebagai contoh, otak manusia mendapatkan energi untuk berpikir dari asupan yang kita makan, sebab itu jika seseorang lapar bisa mempengaruhi kinerja otaknya. Jika anak-anak rewel atau nangis, biasanya orangtua akan memeriksa apakah anak tersebut sudah makan atau minum susu, sebab bisa saja anak tersebut bereaksi seperti itu karena lapar.  

Jadi apakah apakah asupan makanan kita bisa berdampak pada mood atau perasaan kita? 

“Kalau hal ini prosesnya kompleks ya. Bukan seperti jika aku makan pedes maka aku akan marah-marah, bukan seperti itu ya,” ungkap dr.Sepriana.  

Karena mood seseorang bisa dipengaruhi banyak faktor, seperti apakah sedang kelelahan, kurang tidur, ada masalah dalam keluarga yang dihadapi, atau sedang sakit dan juga makanan yang dia konsumsi dalam metabolisme tubuhnya. Semua itu diproses di dalam orang tersebut, yang membuatnya merespon dengan mood tertentu.  

“Namun memang ada makanan-makanan tertentu yang jika dikonsumsi secara berlebihan bisa mempengaruhi emosi atau afeksi. Sebagai contoh alkohol, jika dikonsumsi sedikit bisa menenangkan (relaxing), tapi jika terlalu banyak bisa jadi stimulating,” tambahnya.  

Contoh lain adalah makanan manis, makanan yang sering jadi comfort food atau makanan pelarian kalau sedang stres,  Makan coklat satu batang, kalau sedikit memang comforting atau menenangkan. Mengapa? Sewaktu tubuh stres, maka tubuh memerlukan energi dan hal tersebut bisa di dapat dengan cepat melalui asupan gula. Tapi jika terlalu banyak, malah dampaknya bisa memperburuk mood atau perasaan kita. Sama seperti dampak dari alkohol, jika terlalu banyak bisa berdampak merusak.  

Makanan lain yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental adalah junk food atau makanan cepat saji, karena kandungan lemak jenuhnya yang tinggi. Jadi junk food dan makanan olahan bukan hanya berdampak buruk bagi kesehatan secara fisik, namun juga pada kesehatan mental seseorang.  

Makanan yang baik bagi yang sedang sedih atau berduka.  

Pola makan yang sehat dan seimbang sangat menunjang kesehatan mental kita. Sehingga kesehatan mental dan fisik adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Lalu makanan sehat itu seperti apa? 

“Makanan yang lengkap, karbohidratnya ada, proteinnya ada, sayur-sayurannya ada, dan juga buah. Meskipun kita sedang tidak mood untuk makan itu, kita harus usahakan dalam piring kita ada makanan tersebut,” jelas dr.Sepriana.  

Lalu ada makanan yang sudah banyak diteliti berdampak meningkatkan mood adalah kacang-kacangan atau legume, seperti kacang merah, kacang hijau, edamame, kacang tanah dan ubi. Makanan tadi tinggi serat, mengandung protein dan vitamin B nya banyak sehingga berdampak baik untuk otak dan menunjang kesehatan mental kita.  

“Dan hal ini juga bisa terapkan kepada orang yang sedang berduka atau baru kehilangan orang yang dikasihi, biasanya kita sarankan selain meditasi atau berdoa, konsul pada profesional jika diperlukan, atau cerita dengan orang lain, kita sarankan juga makan makanan yang sehat. Kalau kita memberi tubuh kita makanan yang sehat, maka tubuh kita akan mengeluarkan neurotransmitters- neurotransmitters yang baik seperti dopamin, sehingga hal tersebut akan memicu rasa nyaman, rasa tenang, sehingga proses berdukanya bisa dilalui dengan lebih mulus. Ketimbang, mereka yang berduka dan pola makannya tidak benar dan malah minum alkohol, dll,” terangnya.  

Untuk itu mari mulai kita perbaiki pola makan kita dan keluarga, mulai dengan makan makanan yang sehat seperti yang disarankan oleh dr.Sepriana di atas. Lakukan juga olahraga secara rutin, instirahat yang cukup, dan juga ambil waktu untuk berdoa dan membaca firman Tuhan. Pola kehidupan yang sehat, bukan hanya dibangun di satu sisi, tapi secara holistik baik kesehatan fisik, mental dan kerohanian.  

Butuh dukungan doa?  

Mari ceritakan pada kami apa yang sedang hadapi sehingga kami bisa berdoa bagi Anda dan mengirimkan kepada Anda materi yang bisa menguatkan Anda. KLIK DISINI untuk terhubung dengan Layanan Doa dan Konseling CBN. 

Sumber : Puji Astuti | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami