Jika Hak Asuh Anak Jatuh Pada Sang Ibu, Bagaimana Tanggung Jawab Sang Ayah Terhadap Anak?
Sumber: canva.com

Kata Alkitab / 30 June 2023

Kalangan Sendiri

Jika Hak Asuh Anak Jatuh Pada Sang Ibu, Bagaimana Tanggung Jawab Sang Ayah Terhadap Anak?

Claudia Jessica Official Writer
1321

Meski Firman Tuhan menentang perceraian (Maleakhi 2:16), pada kenyataannya saat ini masih banyak pasangan yang memilih bercerai. Diantara pasangan yang bercerai, tentunya ada saja pasangan yang sudah memilih anak.

Baik suami maupun istri, memiliki hak untuk mengajukan permohonan hak asuh anak dan menyampaikan argumentasi mereka kepada pengadilan atau lembaga yang berwenang. Keputusan mengenai hak asuh anak biasanya didasarkan pada kepentingan terbaik anak, yang melibatkan pertimbangan faktor-faktor seperti kualitas hubungan dengan masing-masing orang tua, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan pendidikan anak, serta stabilitas lingkungan tempat tinggal.

Pertanyaannya adalah, jika hak asuh anak jatuh kepada sang ibu, bagaimana tanggung jawab sang ayah terhadap anaknya? Begitu juga sebaliknya, jika hak asuh anak jatuh kepada sang ayah, bagaimana seorang ibu bertanggungjawab terhadap anaknya?

Proses perceraian yang sarat dengan emosi negatif merusak diri sendiri maupun pasangan, tetapi ketika pasangan yang memiliki anak memilih untuk bercerai, mereka harus mengesampingkan emosi negatif tersebut dan mendahulukan kebutuhan anak-anaknya.

Alkitab mengatakan bahwa anak-anak adalah pemberian Tuhan dan Dia peduli tentang bagaimana mereka dibesarkan (Mazmur 127:3, 34:11, Amsal 23:13–14). Sekalipun pasangan memilih bercerai, mereka tetaplah orang tua dari anak-anak mereka dan harus berperan sebagaimana mestinya.

Saat memilih siapa yang mendapatkan hak asuh anak, tanggungjawab dan keputusan dalam menjadwalkan hak pengunjungan mantan suami atau istri Anda harus dilakukan dengan mengesampingkan perasaan pribadi dan mengutamakan apa yang terbaik untuk anak.

Setiap orang tua yang memilih untuk bercerai, harus mendorong hubungan anak dengan orang tuanya yang lain, tidak peduli sebesar apapun Anda menyimpan luka pribadi terhadap mantan suami atau istri Anda. Menghabiskan waktu yang berkualitas dengan kedua orang tuanya adalah hal yang sangat penting dan bermanfaat bagi kestabilan emosi anak serta kemampuan untuk mengatasi kehilangan maupun kesedihan yang mereka alami.

Rekonsiliasi dan pengampunan harus menandai kehidupan seorang Kristen, sekalipun dalam perceraian (Lukas 11:4, Efesus 4:32). Jangan pernah Anda mengadu anak domba untuk membenci orang tuanya yang lain atau menimbulkan kemarahan di dalam diri mereka (Efesus 6:4).

Sementara itu, pasangan yang bercerai harus mengatasi gejolak emosi mereka sendiri dan tetap harus memperlihatkan perilaku yang saleh demi anak-anak mereka (Ulangan 6:6-7). Ketika anak-anak melihat orang tua mereka yang bercerai memperlakukan satu sama lain dengan cara yang saleh, mereka memiliki kesempatan untuk merasakan kedamaian Tuhan saat melalui masa-masa sulit (Ibrani 12:24).

Perceraian adalah tantangan hidup yang berat dan kejam serta tidak pernah menjadi bagian dari rencana awal Allah. Saat anak-anak terjebak di tengah perceraian, penderitaannya pasti berlipat ganda.

Namun sebagai orang tua Kristen yang mengalami perceraian, Anda dipanggil untuk bertahan melewati pencobaan ini (Yakobus 1:12). Untuk itu, berdoalah bagi anak-anak Anda secara teratur. Berdoa juga untuk hubungan anak Anda dengan mantan suami atau istri Anda, serta untuk pemulihan pribadi mereka (Filipi 1:6, 2 Tesalonika 3:3, 3 Yohanes 1:4).

 

Yakobus 1:12 “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

Sumber : gotquestion
Halaman :
1

Ikuti Kami