Apakah Efesus 4 : 26 Dapat Dijadikan Landasan Untuk Mengelola Konflik Pernikahan?
Sumber: genpi.co

Marriage / 10 May 2023

Kalangan Sendiri

Apakah Efesus 4 : 26 Dapat Dijadikan Landasan Untuk Mengelola Konflik Pernikahan?

Bella Tiurma Official Writer
1150

Kehidupan pernikahan pasti akan ada masanya menghadapi sebuah konflik bersama pasangan. Dimana saat sebelum memasuki kehidupan pernikahan sering mendapatkan nasihat bahwa jangan pergi tidur dengan amarah satu sama lain. 

Nasihat yang sering diucapkan sebagai bekal setiap pasangan dalam menjalani kehidupan pernikahan berasal dari Firman Tuhan yang telah tertulis dalam Efesus 4 : 26 “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” 

Sebagian orang menggunakan ayat ini sebagai petunjuk dan landasan untuk menjalani kehidupan di dalam iman Kristiani. Melalui ayat ini setiap umat Kristiani dapat menjadi pribadi yang menyelesaikan suatu konflik dengan cepat. Tak hanya itu, berlandaskan ayat tersebut setiap pasangan dapat mengelola konflik dalam pernikahannya dengan menekankan berkata jujur, menghindari bicara yang tidak baik, menghindari kemarahan yang berlebih, dan memberikan pengampunan. 

Selain itu, melalui ayat ini akan membantu setiap pasangan dalam memahami kehidupan Kristen yang diinginkan Yesus. Dimana ayat ini menawarkan pada setiap pasangan sebuah nasihat yang bagus tentang cara menjadi pasangan yang penuh dengan kasih dalam kehidupan pernikahan. Serta akan dijauhkan dari kemarahan, ketidakjujuran, sikap tidak mengampuni, dan kurangnya rasa empati terhadap pasangan yang memiliki otoritas untuk menjadi penyebab kehancuran kehidupan pernikahan. 

Oleh karena itu, simak 3 cara yang bisa digunakan setiap pasangan dalam mengelola konflik pernikahan yang berlandaskan dari Efesus 4 : 26 

1. Membuat kesepakatan untuk menghentikan perdebatan 

Ketika diperhadapkan dengan suatu perselisihan yang panas dan berpikir bahwa tidak ada jalan keluar berdasarkan percakapan yang sudah dilakukan, akan menyebabkan bertambahnya suatu konflik. Oleh karena itu, setiap pasangan harus sama-sama memiliki keinginan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. 

Ketika sudah memiliki keinginan yang sama untuk menyelesaikan  masalah dan dilandaskan oleh Firman Tuhan dari Efesus 4 : 26 ini, setiap pasangan dapat melakukan sebuah kesepakatan bersama bahwa ketika konflik datang tidak mengabaikannya meskipun terasa terlalu sulit untuk dibahas. 

Kesepakatan dalam menghentikan perdebatan dengan melihat kembali percakapan yang telah berlangsung dan berdiskusi kembali di waktu yang telah disepakati. Selain itu dengan memberikan waktu sendiri untuk bisa mengendalikan emosi. Sehingga suatu kesepakatan yang disetujui bersama ini tidak akan melihat sebuah konflik untuk dihindari lagi. 

2. Meningkatkan komunikasi 

Melalui peningkatan cara berkomunikasi dalam kehidupan pernikahan akan bekerja sama seperti umat Kristiani menghidupi setiap buah Roh. Dimana setiap pasangan secara terus menerus melatihnya sebelum suatu konflik datang, sehingga setiap pasangan dapat menjadi lebih siap dan mampu meredakan pertengkaran. 

Dalam menghadapi konflik pernikahan, dapat menggunakan sebuah ungkapan pernyataan yang menggambarkan perasaan kita. Dimana hal ini membantu setiap pasangan untuk terhindar dari saling menyalahkan yang akan menambah konflik di dalamnya dan saling mencoba untuk mengkomunikasikan situasi yang dikhawatirkan. 

Sebuah komunikasi di dalam kehidupan pernikahan tentu suatu hal yang perlu dilatih oleh setiap pasangan, karena konflik adalah sesuatu hal yang tidak mungkin terhindarkan. Sehingga dengan meningkatkan komunikasi merupakan salah satu cara terbaik untuk berbicara dengan tutur kata yang baik. Supaya ketika konflik muncul, setiap pasangan dapat berkomunikasi dengan baik dan terhindar dari kemarahan dan kepahitan tumbuh dalam kehidupan pernikahan. 

3. Memiliki rasa empati dengan pasangan 

Salah satu pemicu konflik dapat muncul, jika seseorang merasa dirinya diserang secara verbal oleh pasangannya. Hal inilah yang menyebabkan sebuah kemarahan akan muncul di dalam diri seseorang yang merasa terancam ataupun terluka yang tidak terlihat oleh pasangan. 

Ketika setiap pasangan diperhadapkan dengan konflik seperti ini, dengan adanya rasa empati terhadap pasangan kita lah yang mampu membantu tanpa pamrih untuk mengesampingkan perasaan diri sendiri sejenak. Lalu setiap pasangan dapat duduk dengan tenang mendengarkan dan melihat sudut pandang dari pasangan kita. 

Disisi lain, konflik juga dapat dipicu karena kelelahan, khawatir, setres, cemas, ataupun kecerobohan. Oleh karena itu, ketika salah satu pasangan memiliki kemampuan untuk melihat dari sudut pandang yang lain dan rasa empati, pertengkaran besar dapat terselesaikan. 

Dengan demikian melalui Efesus 4 : 26 ini sangat berpengaruh untuk dijadikan sebagai landasan dalam mengelola konflik pernikahan. Dimana setiap pasangan selalu diingatkan untuk tidak membiarkan kemarahan dan kepahitan dapat tumbuh di dalam hati setiap pasangan. Alangkah baiknya setiap pasangan dapat berdamai kembali sebelum tidur malam  atau langsung membicarakannya keesokan paginya. 

Jangan sampai kemarahan dan konflik yang terjadi mencuri momen-momen indah kegembiraan dan koneksi yang tercipta di dalam pernikahan. Karena kehidupan pernikahan Kristiani atas kemurahan kuasa Roh Kudus yang bekerja akan membuat sebuah pernikahan berhasil.

Sumber : crosswalk.com
Halaman :
1

Ikuti Kami