Memahami Dampak Negatif Pola Asuh Otoriter pada Anak
Sumber: canva.com

Relationship / 5 April 2023

Kalangan Sendiri

Memahami Dampak Negatif Pola Asuh Otoriter pada Anak

Wisnu Prianggani Contributor
1363

Tahukah Anda pola asuh otoriter adalah salah satu dari tiga pola asuh yang dikenalkan oleh Diana Baumrind, seorang psikolog yang mempelajari pola perkembangan anak. Pola asuh otoriter adalah salah satu metode yang memegang kendali penuh atas anak-anaknya dan tanpa disadari seringkali dipraktikkan oleh orang tua tanpa mengetahui kebutuhan anak dan tidak menyesuaikan dengan fase pertumbuhan anak.

Oleh karena menginginkan anak yang patuh, orang tua akhirnya menerapkan pola asuh otoriter yang cenderung menggunakan pendekatan ketat dan kontrol terhadap anak-anaknya tanpa memberikan kesempatan bagi anak untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sehari-hari keluarga. Padahal hal ini tentu saja memiliki dampak negatif pada perkembangan anak, baik dari segi emosional, sosial, maupun psikologis mereka.

Menurut studi yang dilakukan oleh Baumrind sendiri pada tahun 1960-an, pola asuh otoriter cenderung menggunakan kekerasan fisik atau verbal untuk memaksa anak untuk melakukan apa yang diinginkan oleh orang tua. Beberapa dampak buruk yang mungkin terjadi antara lain adalah anak cenderung memiliki rasa tidak percaya diri yang tinggi, kurang mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang lain, sulit menerima kritik, dan memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap orang yang berwenang atau punya kekuasaan. Selain itu, anak-anak yang diberikan pola asuh otoriter juga cenderung tidak bisa mengekspresikan emosi dengan baik dan akhirnya menumpuk hingga mencapai titik puncak dan meledak.

 

Baca Juga: 7 Tanggung Jawab Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak

 

Hal ini tentu saja menjadi dampak buruk pada anak. Pola asuh otoriter pada anak juga benar-benar bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Anak-anak yang merasa terkekang dan tidak memiliki kebebasan yang cukup, sering mengalami stres dan depresi. Bahkan, anak-anak yang menerima pola asuh otoriter cenderung lebih rentan terhadap kecanduan obat-obatan dan alkohol di kemudian hari. Jika Anda adalah orang tua tentu tidak menginginkan hal itu terjadi bukan?

Sebagai orang kristen, kita punya Alkitab yang dapat merujuk pada beberapa ayat Alkitab yang dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa pola asuh otoriter memang tidak sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Dalam Efesus 6:4 disebutkan, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Hal ini menunjukkan bahwa sebagai orang tua, khusunya seorang kepala keluarga yang biasanya memiliki sifat otoriter harus memberikan pendidikan yang benar kepada anak-anak tanpa menggunakan kekerasan atau kemarahan sebagai sarana untuk mendidik.

Lalu harus bagaimana sebagai orang tua? Tentu saja pendekatan yang benar dalam mendidik anak harus didasarkan pada kasih, seperti identitas orang Kristen itu sendiri. Kita bisa membaca 1 Korintus 13:4-7, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

 

Baca Juga: Belajar Dari Kasus Mario Dandy, Alasan Pentingnya Bentuk Karakter Anak Sejak Belia

 

Dalam ayat tersebut, khususnya orang tua diajarkan untuk bersikap sabar, murah hati, tidak sombong, dan tidak mencari keuntungan dalam hubungan dengan sesama. Kita juga diajarkan untuk mengampuni kesalahan orang lain, dan menjunjung tinggi kebenaran. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita seharusnya memberikan kasih sayang dan pengertian yang tulus pada anak-anak dan bukan memaksakan kehendak kita dengan kekerasan atau membatasi kreativitas anak. Dengan memberikan pola asuh yang benar, kita dapat membantu anak-anak kita untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu yang berkenan di hadapan Allah, mandiri, percaya diri, dan berprestasi dalam hidup.

Halaman :
1

Ikuti Kami