Benarkah Allah Mencobai Kita?
Kalangan Sendiri

Benarkah Allah Mencobai Kita?

Contasia Christie Official Writer
      913

Yakobus 1:13-15

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

 

Bacaan setahun : Amsal 24; Filipi 1; 1 Raja-Raja 11-12 

Siska terus bergumul untuk bisa berhenti dari kebiasaan berbohong dan sombong. Awalnya dia merasa jika berbohong dan menyombongkan diri kepada orang lain sangat menyenangkan. Dia dapat pengakuan gratis bahwa dia orang hebat tanpa perlu usaha yang besar, tetapi lama kelamaan dia terus berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya. Dia menyadari bahwa hidupnya terus menerus dalam dosa, karena dosa sangat memikat dan nikmat. Tentu saja efeknya membuat hidup jadi tidak tenang dan jauh dari sukacita. 

Tuhan menciptakan kita untuk hidup dengan menikmati kasih karunia Tuhan. Hidup menyenangkan Tuhan, menyembah, memuliakan Dia, dan penuh dengan berkat Tuhan. Dia tidak ingin kita hidup menderita dan tersiksa dalam dosa. Tetapi seringkali pilihan hidup kita jauh dari keinginan Tuhan. Kita lebih memilih hidup dalam dosa, tertarik dan tinggal bersamanya. Yakobus berkata bahwa “... tiap-tiap orang dicobai oleh keingginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yakobus 1:14) Siska sendiri mengalaminya. Siska membiarkan dirinya terseret oleh kesombongan dan hawa nafsu untuk dipuji manusia, ia juga dipikat oleh keinginan menikmati kebohongan. 

Tentu saja dari keinginan yang dibuahi dan mengakibatkan dosa, banyak hal yang harus dibayar. Dosa mengakibatkan penderitaan yang besar dan menyiksa. Tuhan tidak ingin kita hidup seperti ini. Untuk itu, mari kita hidup memuliakan Tuhan, sehingga kasih karunia Tuhan selalu beserta dengan kita. Dan ini kehidupan yang menyenangkan.

Saat teduh ini ditulis oleh Naomi Irmadiana.

Ikuti Kami