Lemah Lembut dan Murah Hati

Lemah Lembut dan Murah Hati

Naomi Irmadiana Contributor
      954

Matius 5:5-7

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

 

Bacaan setahun : Amsal 17; Galatia 6; 2 Tawarikh 6-7

Saat ini, kelembutan dan murah hati dianggap sebagai musuh dari kehormatan, keberanian, dan kekuatan. Kelembutan dianggap sebagai ketidakberdayaan dan murah hati dianggap sebagai mudah dibohongi. Orang yang bicaranya pelan dan tidak terburu-buru dianggap lemah lembut. Orang yang sering menolong orang miskin termasuk murah hati.

Padahal yang dimaksud lembah lembut dari ayat ini memiliki beberapa arti. Pertama, rendah hati. Roh Kudus pasti akan memimpin orang yang lemah lembut atau rendah hati. Kedua,  menguasai diri bukan hanya self-control tetapi juga God Control. Dia tidak akan segan-segan tegas dengan dosa. Seperti Musa, dia adalah orang yang lemah lembut. Tetapi ketika bangsa Israel membuat dan menyembah patung lembu emas, dia marah dan melempar dua loh batu sampai hancur.

Sedangkan murah hati, bukan berarti harus sering memberi bantuan, tidak pelit atau kikir. Tetapi seperti yang seringkali Yesus ajarkan “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Matius 9:13).

Maksudnya murah hati yang tidak menghakimi orang lain atau bersukacita atas kesalahan yang orang lain buat. Karena saat kita menghakimi, kita bisa dengan mudah memberikan pengukuran pada orang lain, padahal kesalahan sendiri terlewat. Kita juga kadang bangga atas balasan yang kita berikan pada orang lain, padahal murah hati adalah ketika kita bisa melepaskan pengampunan.

 

Mari kita belajar untuk memiliki sikap lemah lembut dengan hidup dalam kendali Tuhan dan sikap murah hati untuk tidak mudah menghakimi kesalahan orang lain. Amin.

 

Renungan ini dibuat oleh Naomi Irmadiana.

Ikuti Kami