Menularkan Kebaikan

Menularkan Kebaikan

Riris Neil Yulinar Pakpahan Contributor
      781

Ayat Alkitab: Galatia 6:7-10

 

Galatia 6: 10a

Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 141; Yohanes 1; 2 Samuel 9-10

Sejak masa anak-anak, Daud selalu merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Keberhasilan demi keberhasilan dicatat dalam Alkitab sebagai prestasi Daud. Terlebih saat dia mampu mengalahkan Goliat, raksasa Filistin.

Saat ia semakin dewasa, Daud tetap merasakan bahwa Allah adalah tempat perlindungan dan perteduhan baginya. Saat raja Saul mengejar dan ingin membunuhnya, Daud terus menghindar dan tidak melakukan pembalasan akan perbuatan Saul. Berkali-kali ia memiliki kesempatan untuk melakukan pembalasan, namun hal itu tidak dilakukannya. Daud tetap mengingat bahwa Saul adalah orang yang diurapi oleh Allah.

Hingga suatu kali dalam pelariannya ia sampai didaerah Filistin. Raja Filistin pun mengingat bahwa Daud adalah pahlawan bangsa Israel, dan raja Filistin berminat untuk membunuhnya. Dalam ketakutan, kekhawatiran dan himpitan, apakah Daud melupakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya?

Sama sekali tidak!!! Imannya teguh berdiri bahwa Allah, tetaplah Allah pembela baginya. Pengenalannya yang benar akan Yesus mengantarnya merasakan dan terus menikmati kebaikan Tuhan dalam hidupnya.

Saat kita semakin mengenal Tuhan dengan baik, kita tidak hanya menerima dan merasakan kebaikan Tuhan secara pribadi. Namun kita terus belajar untuk membiarkan Kristus hidup dalam diri kita. Setiap kebaikan yang kita rasakan, secara otomatis akan kita bagikan juga kepada orang disekitar kita.

Orang lain pun akan merasakan kebaikan kita, yang semuanya bersumber dari Allah. Dan benar, kebaikan itu harus ditularkan.

Seperti firman yang kita dapatkan hari ini, mari kita menularkan kebaikan dari Allah kepada orang lain. Salah satunya dengan cara membagikan firman yang Anda dapatkan hari ini ke orang terdekat Anda.

 

Renungan ini dibuat oleh Riris Neil Yulinar Pakpahan.

Ikuti Kami