Kesaksian 23 Guru: Dapat Ancaman dari Orangtua, Juditha Pandoh Tetap Melayani

Milenial / 26 October 2022

Kalangan Sendiri

Kesaksian 23 Guru: Dapat Ancaman dari Orangtua, Juditha Pandoh Tetap Melayani

Claudia Jessica Official Writer
490

Kehadiran Sanggar Belajar CBN di KBGI Aer Terang, Manado, sangat membantu guru-guru dalam mendidik anak-anak di sana. Hal ini dinyatakan oleh Juditha Pandoh, salah satu guru sekolah minggu KBGI Aer Terang.

“Saya sangat bersyukur dan merasa senang dan sangat bangga kepada anak-anak ini. Sejak ada School of Life (Sanggar Belajar CBN) di Aer Terang, anak-anak mengalami perubahan,” ungkap Juditha dalam kesaksiannya di Youtube Jawaban Channel.

Menurut Juditha, anak-anak di gerejanya seringkali melihat tindak kekerasan, baik dalam keluarga maupun di lingkungannya. Tetapi setelah aktif mengikuti kegiatan di Sanggar Belajar, anak-anak kini berubah. Karakter anak-anak yang awalnya keras, kini mereka berubah menjadi anak yang baik. Bahkan beberapa di antaranya mendapatkan prestasi di sekolahnya, mereka juga menjadi lebih berani untuk menampilkan bakat yang mereka miliki, dan anak-anak juga lebih mengasihi Tuhan.

Pelayanan KBGI Aer Terang telah dimulai sejak tahun 2013. Awalnya sekolah minggu KBGI Aer Terang dihadiri oleh sepuluh sampai lima belas anak dan para guru pun harus mempersiapkan materi untuk mengajar anak-anak secara manual.

 

BACA JUGA: Kesaksian 23 Guru: Dari Desa ke Desa Demi Melayani Anak-anak di Papua – Frezal Masang

 

Di tahun 2017, KBGI Aer Terang bekerjasama dengan CBN dalam Superbook. Melalui materi dan kurikulum yang dibuat oleh Superbook, sangat mempermudah guru-guru sekolah minggu dalam mengajar anak-anak. Tak hanya guru-guru yang sangat terberkati melalui pelayanan Superbook ini, anak-anak pun merasa sangat senang saat menyaksikan kisah Alkitab melalui video animasi Superbook.

Saat ini di tahun 2022, anak-anak sekolah minggu di KBGI Aer Terang bertambah hingga berkali lipat menjadi dua ratus anak yang dilayani.

Bagi Judhita, ia ingin melayani anak-anak agar mereka dapat mengenal Tuhan Yesus yang mengasihi anak-anak seperti mereka, dan anak-anak sangatlah istimewa di mata-Nya.

“Mengenalkan mereka bagaimana karakter Kristus supaya karakter mereka semakin baik. Baik di dalam di keluarga, di rumah, di sekolah, dan di masyarakat,” ujar Juditha.

Pelayanan anak KBGI Aer Terang sangat berdampak bagi anak-anak. Hal ini dapat dilihat dari prestasi anak-anak di sekolah yang meningkat, kerohanian anak-anak semakin mengenal dan mengasihi Tuhan sebagai Tuhan dan Juru selamat, memiliki karakter yang baik sesuai dengan firman Tuhan, diubahkan dan menjadi berani tampil serta melayani.

 

BACA JUGA: Kesaksian 23 Guru: Rela Tempuh Jarak 80 KM Demi Layani Anak Sekolah Minggu – Dina Tambunan

 

Salah satu guru sekolah minggu yang membantu Juditha, adalah Reyne.

Reyne adalah salah satu guru sekolah minggu KBGI Aer Terang. Sayangnya, ayah Reyne tidak mengizinkan Reyne untuk menjadi guru sekolah minggu di KBGI Aer Terang. Bahkan ayah Reyne tidak jarang melakukan kekerasan pada istri dan keluarganya.

Karena ketidaksukaannya terhadap Reyne yang menjadi guru sekolah minggu, ayahnya mengancam untuk membunuh gembala KBGI Aer Terang.

Tidak tinggal diam, Juditha dan tim gereja berusaha membujuk orang tua Reyne, khususnya sang ayah agar Reyne diperbolehkan mengikuti sekolah minggu dan memiliki sikap serta karakter yang baik sesuai dengan firman Tuhan.

Lewat proses yang Tuhan izinkan, Reyne mengaku kuat untuk menerima kenyataan bahwa dirinya terlahir dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh, dan melalui Superbook Reyna dapat menjadi berkat untuk keluarganya serta orang-orang di sekitarnya.

Saksikan kesaksian Juditha Pandoh dari kesaksian 23 guru melalui video di bawah ini:

Yuk dukung terus pelayanan Superbook dan CBN dengan menjadi mitra CBN. Kontribusi Anda dapat menjadi saluran berkat secara langsung melalui program pendidikan yang terus dikerjakan di berbagai daerah. Daftarkan diri Anda melalui tombol di bawah ini:

DAFTAR MITRA CBN

Sumber : jawaban channel
Halaman :
1

Ikuti Kami