Menang Karena Pengorbanan Iman

Menang Karena Pengorbanan Iman

Lori Official Writer
      338

Kejadian 22: 2

Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 19; Matius 19; Kejadian 37-38

Dalam kunjungan baru-baru ini ke Yerusalem, saya menyaksikan pemandangan indah pegunungan Moria dan Bukit Bait Suci. Sungguh menakjubkan membayangkan pengorbanan yang pernah terjadi di gunung itu, dimana Abraham mempersembahkan Ishak dan Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri.

Abraham berusia lebih dari 100 tahun kala itu saat Tuhan menyampaikan perintah-Nya. Kata-Nya, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana...”

Beberapa ahli Alkitab berpikir bahwa Ishak mungkin sudah berusia 35 tahun kala itu. Dia bisa saja menolak, namun dia menaati bapanya.

Lalu perhatikan ketika Yesus berada di Taman Getsemani saat Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” (Lukas 22: 42)

Apa yang membuat seseorang bertanya: Saya akan menjadi korbannya?

Saat Yesus menubuatkan bagaimana Petrus akan mati, Petrus menjawab dengan bertanya kepada Yohanes. Lalu Yesus menjawab: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (Yohanes 21: 22)

Bertahun-tahun kemudian, setelah murid-murid lain menjadi martir, Yohanes membuat pernyataan yang mendalam ini: Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1 Yohanes 2: 16)

Dalam budaya kita saat ini, keinginan daging tak lagi terkontrol. Tetapi Raja Salomo yang telah memiliki segalanya bahkan tidak pernah merasa puas. 

Kesombongan pun menjadi godaan lain dan muncul dalam 3 bentuk yaitu:

1. Kehendak diri dimana banyak orang sering berkata “Segalanya akan lebih baik kalau aku yang memegang kendali.”

2. Percaya diri, dimana banyak orang berkata, “Aku punya ini! Aku tahu apa yang aku lakukan!”

3. Memuliakan diri sendiri, dimana orang kerap berkata, “Bukankah aku sudah melakukannya dengan baik? Kenapa kamu tidak mengakuinya?”

Semua bentuk kesombongan ini berpusat kepada diri sendiri. Semakin kita menghargai diri kita sendiri semakin rentan kita tersandung dalam kesombongan.

Bagaimana mengatasi ketiga bentuk kesombongan ini?

Dalam 1 Yohanes 2: 17, Yohanes berkata, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”

Daripada mencintai hal-hal yang sementara, kita perlu melakukan kehendak Tuhan dan menuntun orang kepada Yesus supaya banyak orang masuk ke dalam kerajaan –Nya yang kekal.

Saat Yohanes menulis kata-kata ini, saat itu terjadi penganiayaan besar-besaran terhadap orang percaya. Banyak diantara mereka yang dipaksa memilih antara iman dan hidup mereka. 

Namun Paulus menyampaikan kerelaannya untuk mati demi iman. “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” (Roma 8: 36)

Meskipun kita rela mati karena iman, kita tetap adalah pemenang di dalam Dia yang mengasihi kita. 

Kita tidak berperang melawan darah dan daging, tetapi kerajaan dan kuasa kegelapan. Saat kita bertindak seperti Ishak dan Yesus, yang rela mengorbankan diri mereka demi kepentingan kerajaan surga, maka musuh kita kalah. Dia tidak lagi punya kuasa untuk menuduh kita.

Kita menyadari dunia ini bukanlah rumah kita. Karena tujuan akhir kita adalah Yerusalem yang baru, kota dimana Tuhan bertahta.

Jadi mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita sudah disalibkan bersama Kristus? Maka hidup yang kita jalani sekarang benar-benar cerminan iman di dalam Kristus, yang mengasihi kita dan rela mengorbankan nyawa-Nya untuk kita. 

 

 

Hak cipta Gordon Robertson, disadur dari CBN

Ikuti Kami