Waduh Gereja Bersejarah China Ini Ditutup, Alasannya Bikin Sedih!

News / 29 August 2022

Kalangan Sendiri

Waduh Gereja Bersejarah China Ini Ditutup, Alasannya Bikin Sedih!

Lori Official Writer
358

Gereja Kelimpahan, sebuah gereja bersejarah di Xi’an, provinsi Shaanxi tiba-tiba ditutup karena menolak untuk bergabung di bawah kekuasaan Partai Komunis.

Gereja Kelimpahan yang sudah berdiri selama 30 tahun ini, mendapatkan tekanan dari pemerintah lantaran dianggap sebagai sekte yang melakukan tindakan pengumpulan dana secara ilegal dan menyebut gereja sebagai organisasi sosial ilegal. Pemerintah juga menganggap gereja ini melawan karena menolak untuk bergabung dengan Gereja Tiga-Pribadi yang dikendalikan Partai Komunis Tiongkok. 

Tindakan ini dianggap sebagai realisasi dari pernyataan Presiden China Xi Jinping di akhir tahun 2021 silam untuk menindak kelompok agama yang dianggap ilegal.

Gereja Kelimpahan sendiri diminta untuk menghentikan semua kegiatan. Sementara beberapa anggota jemaat pendetanya ditangkap dan ditahan. Seperti disampaikan dalam media Bitter Winter, Pendeta Gereja Kelimpahan Lian Changnian dan juga putranya Pendeta Lian Xuliang, ditahan di bawah pengawasan khusus.

 

Baca Juga:

Tak Kunjung Usai, Umat Kristen China Dianiaya Bahkan di Tengah Pandemi

Ubah Gereja Jadi Pabrik Cara China Larang Umat Kristen Ibadah. Teganya!

 

Mereka ditangkap pada 17 Agustus 2022 lalu. Bahkan istri Pendeta Lian Xuliang mengaku jika suaminya mengalami memar besar di bagian dahi akibat kekerasan fisik yang diterimanya.

“Matanya merah, dan ada darah kering di sudut matanya. Masker wajahnya juga memiliki garis-garis darah. Lengan dan tangannya memar dan bengkak. Tidak diragukan lagi ada pelecehan fisik oleh petugas penegak hukum mereka,” ungkapnya.

Peristiwa ini menyusul penggerebekan yang dilakukan di Gereja Sion, mentougou, Beijing pada 14 Agustus 2022 lalu. Sebanyak 9 orang jemaat ditahan, termasuk pendeta gereja. Namun tak lama dari itu mereka segera dibebaskan.

Sumber : Christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami