Divonis Tak Akan Sembuh, Rumah Sakit Paksa Cabut Perawatan Anak Usia 12 Tahun Ini

News / 26 July 2022

Kalangan Sendiri

Divonis Tak Akan Sembuh, Rumah Sakit Paksa Cabut Perawatan Anak Usia 12 Tahun Ini

Lori Official Writer
574

Archie Battersbee, seorang anak berusia 12 tahun, sudah tidak sadarkan diri selama hampir tiga bulan karena divonis mengalami kematian otak. 

Kondisi ini dia alami setelah ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya dalam kondisi leher yang terikat pada 7 April 2022 silam. Setelah diperiksa, dia mengalami cedera otak yang cukup parah. 

Archie menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Royal London.  Sayangnya, pihak rumah sakit mengklaim jika harapan hidup anak tersebut sangat kecil. Bahkan jika sembuhpun, dirinya tidak akan mungkin sembuh sepenuhnya. Karena itulah, dianggap akan jauh lebih baik jika dilakukan pencabutan perawatan sepenuhnya. 

Hal inipun membuat berang pihak keluarga. Mereka meminta pihak rumah sakit tetap menghormati keinginan keluarga atas pilihan yang akan diambil terhadap Archie. Apalagi mengingat bahwa kondisi jantungnya masih berdetak. Sehingga keluarga menilai tawaran pihak rumah sakit untuk menghentikan dukungan hidup terhadap Archie tidak tepat. 

Hollie Dance, ibu Archie bahkan percaya jika putranya merespon ketika dia berbicara. Dia bahkan yakin anak tersebut masih punya kesempatan untuk sembuh.

“Yang kami minta dari awal adalah ahar Archie diberi lebih banyak waktu, dan agar keinginan Archie dan kami dihormati. Selama Archie masih hidup, saya tidak akan pernah menyerah untuk dia. Dia terlalu baik untuk menyerah,” ungkap Dance.

Dia bahkan menegaskan bahwa jika pun sekiranya Archie tidak memiliki harapan hidup, akan lebih baik jika dia meninggal karena kehendak dan waktu Tuhan.

“Saat dia meninggal, kami percaya itu harus di jalan dan waktu Tuhan. Mengapa rumah sakit dan pengadilan begitu ingin mengambil langkah untuk melepaskan dukungan perawatan?”

Dance mengaku jika keputusan rumah sakit hanya akan menorehkan trauma terbesar bagi orang tua pasien. 

“Orang tua membutuhkan dukungan, bukan tekanan. Apa yang telah kita lalui ini melelahkan. Kita seharusnya berjuang tanpa henti di rumah sakit untuk Archie,” terangnya.

Sayangnya, pengadilan justru mendukung keputusan rumah sakit untuk menghentikan perawatan terhadap Archie. Pengadilan menilai bahwa kematian adalah jalan terbaik bagi Archie.

Namun dengan pendampingan dari Christian Legal Center (CLC), orang tua Achie memutuskan untuk mengajukan banding terhadap putusan tersebut. Mereka meminta supaya pihak rumah sakit dan pengadilan memberikan waktu lebih banyak untuk pemulihan putra mereka.

“Tidak ada keluarga yang mau menjalani siding pengadilan tanpa akhir atas perawatan rumah sakit anak-anak mereka. Orang tua harus diberi lebih banyak suara tentang bagaimana anak-anak mereka seharusnya diperlakukan,” ungkap pihak pengacara keluarga Archie.

Terkait kasus ini, keluarga tidak akan berhenti untuk mencari dukungan. Rencananya mereka akan mendorong anggota parlemen dan masyarakat untuk mencari dukungan atas hak hidup bagi Archie.

“Kami akan mendorong anggota parlemen dan anggota masyarakat untuk terlibat dan mendukung ‘keadilan untuk Archie’ dimana kami berdoa hal itu bisa mencegah lebih banyak keluarga mengalami perlakuan serupa seperti yang dialami keluarga Archie,” ungkap sang pengacara.

Tentu saja keluarga jauh lebih berhak dalam menentukan pilihan apa yang harus diambil untuk menyikapi kondisi anggota keluarganya. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Sumber : Christiantoday.com | Christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami