Ini 4 Tahap Emosi yang Umum Dialami Korban Pelecehan Seksual
Sumber: Eastern Eye

Health / 13 July 2022

Kalangan Sendiri

Ini 4 Tahap Emosi yang Umum Dialami Korban Pelecehan Seksual

Lori Official Writer
3240

Menjadi korban pelecehan seksual tentu saja adalah pengalaman yang traumatis dan akan selalu membekas dalam ingatan. Ada beragam emosi yang akan muncul. Emosi ini biasanya begitu menyakitkan dan sulit untuk hilang. 

Bagi Anda yang memiliki anak, saudara atau teman yang jadi korban pelecehan seksual perlu memahami 4 tahapan emosi yang mungkin akan mereka alami pasca kejadian, diantaranya:

1. Muncul Rasa Bersalah dan Malu

Umumnya, korban pelecehan seksual maupun pemerkosaan akan merasa bersalah dan malu pasca kejadian. Pasalnya, pelaku bisa membuat korban merasa terintimidasi dan bahkan memaksa untuk merahasiakan apa yang ia alami. Hal inilah yang kemudian membuat korban kerap disalahkan oleh orang lain karena tidak memberikan adukan sesegera mungkin.

Sementara sebagian korban lainnya bisa mengalami emosi rasa bersalah dan malu ketika kembali mengingat peristiwa yang mereka alami. 

Jika tidak ditangani dengan tepat, maka korban akan selamanya dihantui oleh perasaan yang tidak sehat ini. Karena itulah, penting untuk membantu korban supaya merasa kembali berharga sebagai pribadi dan yang terpenting berdamai dengan diri sendiri bahwa peristiwa itu bukanlah kesalahan mereka sendiri. Karena mereka hanyalah korban dari kejahatan orang lain.

 

Baca Juga: Cegah Pelecehan Anak! Ini Pentingnya Ajarkan Buah Hati Anda Tentang Organ Intim

 

2. Menyalahkan Diri Sendiri dan Marah

Rasa bersalah yang muncul pasca kejadian kemudian akan membuat korban mulai menyalahkan diri sendiri diikuti dengan kemarahan. Korban biasanya akan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi lalu akan mulai marah pada diri sendiri. Korban akan menyalahkan diri sendiri dengan pikiran dan komentar yang kritis, menyakitkan dan kejam. Beberapa diantaranya mungkin akan mulai melukai diri sendiri, seperti melakukan pencobaan bunuh diri.

Dalam kondisi ini, korban memerlukan bantuan dan dukungan dari pihak lain. Korban perlu diarahkan untuk berdamai dengan diri sendiri dan membuat emosinya tetap stabil. Membantu korban dengan memberikan perspektif baru dan positif juga sangat penting untuk meredam emosi negatif tersebut.

Jika emosi ini tidak ditangani maka korban akan mengalami kemarahan kronis yang berujung pada isolasi diri, kesepian dan depresi. Jadi pastikan supaya korban bisa memvalidasi kemarahannya, mengenali kemarahan sebagai tanda peringatan dan belajar mengelolanya sebelum berubah menjadi tindakan fisik maupun verbal.

 

Baca Juga: Katakan ‘Tidak’ Pada 5 Kalimat Ini, Jika Ingin Melayani Teman Yang Alami Pelecehan Seksual

 

3. Berkabung atau menangis

Menangis bisa membantu korban pelecehan seksual untuk melepaskan diri dari trauma dan mulai bertekad untuk bangkit kembali. Walaupun faktanya korban banyak dirugikan oleh pelaku, seperti kehilangan keperawanan, kehilangan harga diri dan kehilangan rasa aman, namun masa-masa berkabung ini bisa menjadi proses untuk sembuh.

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sayangnya, tidak semua korban bisa meluapkan semua emosi yang dia alami di masa-masa berkabung ini. Sebagian mungkin menahannya dan membuat korban terus hidup dalam rasa bersalah dan kemarahan.

Karena itulah penting untuk meluapkan semua emosi tercurah melalui masa-masa berkabung. Karena itu penting untuk membantu korban mengeluarkan semua perasaan yang tertahan. Anda bisa membangun ruang dan waktu untuk membantu korban keluar dari situasi tersebut. 

 

4. Takut dan Cemas

Setelah mengatasi rasa bersalah, malu, menyalahkan diri sendiri, marah dan meluangkan waktu untuk berkabung atau berduka, banyak korban trauma pelecehan seksual kemudian akan mengalami perasaan hampa.

Perasaan hampa ini tentunya sangat tidak menyenangkan. Karena setelah kejadian menyakitkan yang dialami, korban harus terus menata hidupnya. 

 

Baca Juga: Pasangan Alami Pelecehan Seksual, Lakukan 8 Hal Ini Untuk Menolongnya Atasi Trauma

 

Di tahap ini, korban memang akan mulai merasakan kekosongan. Karena itulah penting untuk terus mendukung korban untuk mengisi kekosongan tersebut dengan berbagai hal, mulai dari membangun hubungan dengan orang lain, mengisi waktu dengan berbagai aktivitas maupun sesuatu yang bisa menyibukkan diri korban. Semakin lama korban tinggal di dalam kekosongan tersebut semakin besar kemungkinan bagi korban kembali mengalami depresi dan rasa terisolasi.

Dibutuhkan banyak upaya untuk membantu korban keluar dari kondisi ini, karena kecenderungannya mereka akan memiliki keraguan untuk keluar dari situasi menyakitkan mereka untuk mencoba sesuatu yang baru. Penghalang utamanya adalah ketakutan dan kecemasan korban akan banyak hal, mulai dari takut ditolak dan takut gagal.

Penting sekali untuk membantu korban trauma pelecehan seksual untuk menghadapi ketakutan mereka.

Jadi kehadiran dan dukungan orang-orang terdekat adalah hal yang sangat membantu korban untuk kembali bangkir dan melanjutkan hidup mereka. Dukungan itu bahkan tidak hanya bisa dilakukan melalui kehadiran secara fisik, tetapi juga menberikan dukungan secara emosional maupun spiritual kepada korban.

Yakinkan bahwa korban tetap diterima sebagai pribadi yang berharga dan layak mendapatkan kehidupan yang terbaik.

Sumber : Goodtherapy.org
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami