Teruntuk Istri: Biar Pernikahan Anda Langgeng, Jangan Sampai Katakan 9 Hal Ini Ya (1/2)

Relationship / 3 June 2022

Kalangan Sendiri

Teruntuk Istri: Biar Pernikahan Anda Langgeng, Jangan Sampai Katakan 9 Hal Ini Ya (1/2)

Claudia Jessica Official Writer
726

Pernikahan adalah hubungan yang kudus. Tuhan mempersatukan dua orang menjadi satu melalui pernikahan. Namun tidak semua hubungan itu sempurna. Tak jarang pasangan suami istri berselisih karena komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.

Khususnya para istri, sebisa mungkin hindari beberapa kata dan perilaku di bawah ini:

 

1. Mengatakan bahwa Anda baik-baik saja padahal sebenarnya tidak

Mengatakan bahwa Anda baik-baik saja padahal sebenarnya tidak, adalah salah satu akar permasalahan. Anda menumpuk masalah sedikit demi sedikit lantaran ingin menghindari masalah dengan mengatakan bahwa Anda baik-baik saja. Lambat laun, perasaan Anda jadi tidak terbendung dan Anda bisa meledakkan kemarahan itu tanpa kita tahu kapan akan terjadi.

Jujur dengan pasangan memang terkadang bisa menjadi hal yang menakutkan, tetapi imbalan dari keberanian Anda untuk terbuka dapat menimbulkan keintiman jauh lebih besar.

“Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.” (Kolose 3: 9)

 

2. Kata-kata pamungkas kaum hawa yang sebenarnya gak banget: “Terserah”

Pernyataan “terserah” karena gak mau repot, ditambah silent treatment, sesungguhnya dapat mengakibatkan rasa lelah dalam hubungan, lho.

Melansir dari crosswalk, sebuah studi menunjukkan kepuasan pernikahan terhadap istri yang pemarah atau pendiam lebih melelahkan daripada pasangan yang sering bertengkar kemudian berbaikan kembali, serta memiliki tingkat kepuasan yang rendah.

Alih-alih mengatakan “terserah” karena gak mau repot, cobalah untuk mengatakan apa yang Anda pikirkan dan inginkan. Jika Anda memang tidak bisa melakukannya saat itu, berilah pengertian kepada suami bahwa Anda membutuhkan waktu untuk berpikir dan menjernihkan pikiran.

“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” (Filipi 2:3)

 

BACA JUGA: 3 Langkah Menumbuhkan Pernikahan yang Membawa Orang Lain kepada Kristus

 

3. “Santai Aja Sih”

Bagi orang-orang yang memiliki kepribadian cenderung mencegah konflik, kemarahan dapat terasa menakutkan. Kami ingin menghentikannya, tetapi dalam konflik yang sehat, kita harus mengakui setiap emosi. Kita perlu mendengar pikiran jujur pasangan tanpa memaksanya untuk berbicara hanya untuk kenyamanan kita sendiri.

“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (Amsal 18:13)

 

4. Kenapa kamu melakukannya seperti itu?

Berhenti mendikte apa yang harus dilakukan oleh suami Anda. Perintah seperti ini sering kali ditujukan kepada anak-anak, tetapi tidak ada pria yang ingin merasa seperti anak kecil di mata istrinya. Ada cara yang lebih bijaksana untuk membantu Anda.

Alih-alih bertanya, “Mengapa kamu melakukannya seperti itu?” sebaiknya tanyakan dengan kalimat yang lebih positif seperti, “Apakah kamu membutuhkanku untuk melakukan sesuatu?”

Kalimat yang positif memberikan dampak yang positif juga. Kita menghapus segala tuduhan atau penilaian yang membuat suami merasa kecil dihadapan istrinya.

“Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Efesus 4:16)

 

5 Poin lainnya akan kita bahas di artikel selanjutnya ya!

Sumber : crosswalk.com
Halaman :
1

Ikuti Kami