Amanat Agung untuk Memuridkan
Kalangan Sendiri

Amanat Agung untuk Memuridkan

Contasia Christie Official Writer
      821

Ayat Alkitab : Matius 28:19-20

Matius 28:19

“Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”

 Bacaan setahun :  Mazmur 121; 1 Korintus 10; 1 Samuel 8-9

Pemuridan adalah perintah Tuhan Yesus bagi setiap orang percaya. Kapanpun waktu dan jamannya, kita memiliki tugas untuk memuridkan. Murid artinya orang atau anak yang sedang berguru/belajar/bersekolah. Melalui hal ini kita melihat bahwa konteks pemuridan sebenarnya adalah sebuah hubungan antara pengajar dan murid atau yang diajar. 

Jika kita melihat sejarah, pemuridan termasuk ciri pembelajaran dunia kuno sebelum kita mengenal teknologi. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini menjelaskan, dalam pemuridan para filsuf Yunani dan para rabi Yahudi mengumpulkan sejumlah murid atau pelajar. Mereka dan para muridnya hidup bersama, sehingga seorang murid mengerti benar apa yang diajarkan oleh gurunya. Melalui kehidupan bersama inilah, hubungan guru dan murid sangat dekat atau akrab sehingga tercapai sebuah tujuan.

Pola pemuridan dengan kedekatan inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus selalu menempatkan murid-murid-Nya dalam komunitasnya. Para murid melihat apa yang dikerjakan Yesus, mulai dari mengajar, menegur orang, menyembuhkan, mengusir setan, bahkan sampai pada kematian, kebangkitan dan kenaikanNya ke Surga.

Lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang? Apakah konsep pemuridan seperti Yesus masih bisa kita lakukan? Tentu saja perintah Yesus ini harus kita kerjakan. Memang pola pemuridan telah jauh berbeda. Namun ditengah perkembangan ilmu dan teknologi, konsep pemuridan berdasarkan hubungan tetap dapat kita lakukan. Caranya bisa melalui grup media sosial anak-anak sekolah minggu kita. Satu orang guru dapat memuridkan 4-5 anak. Mereka ada dalam pengawasan kita. Misalnya anak-anak harus melaporkan apa yang mereka aplikasikan dari firman Tuhan.

Guru juga memberikan petunjuk atau nilai-nilai Firman Tuhan yang relevan secara tatap muka. Sehingga hubungan guru dan murid terus terjalin sampai anak-anak makin mengasihi Tuhan dan mencintai Firman Tuhan. Mari kita dukung pelayanan anak mulai dari sekarang!

 

Renungan ini ditulis oleh Samuel Agus Santoso

Ikuti Kami