Refleksi Kisah Lot: Jika Anda Ingin Mengalami Hidup yang Bermakna, Jangan Lakukan Ini

Kata Alkitab / 19 May 2022

Refleksi Kisah Lot: Jika Anda Ingin Mengalami Hidup yang Bermakna, Jangan Lakukan Ini

Dwi Agus Priono Contributor
434

Kisah Lot dan keluarganya yang harus segera meninggalkan Sodom dan Gomora yang diceritakan dalam Kejadian 19:1-29 ini menarik ketika kita memperhatikan nama Zoar. Kata ‘zoar’ berarti ‘unsignificant’ – tidak berarti, tidak signifikan, kecil dan tak bermakna. Lot berkata, Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara." (Kej. 19:20).

Tetapi apa yang terjadi? Justru disana moralitas anaknya hancur berantakan. Bagaimana tidak? Mereka keluar dari Zoar karena takut dan tinggal bertiga di sebuah gua. Demi kelangsungan keturunan, kedua anaknya membuat sang ayah mabuk dan terjadilah hubungan seks incest (Kej 19:30-38). Hasilnya Moab dan Amon, yang kelak menjadi musuh Israel. Dapat dipastikan bahwa moralitas yang rendah dari kedua anaknya ini memang menurun dari moralitas sang ayah. Peristiwa malam ketika rumah mereka di dekat Sodom disambangi para lelaki kota itu telah membekas di hati mereka. “Tega sekali ayah menyodorkan kita kepada mereka”, desis getir hati yang terluka itu.

Lot memilih yang mudah saja. Tidak perlu usaha keras untuk mencapainya. Dia tidak perlu berlari ke pegunungan. Pegunungan itu jauh, menanjak, dan perlu tenaga dan usaha keras untuk mencapainya. Zoar kecil. Tidak berarti. Tidak bermakna. Itulah pilihan Lot. Mudah. Nyaman. Padahal kalau Lot bersedia berlari menuju pegunungan yang ditunjukkan oleh malaikat itu, Lot pasti mampu mencapainya. Sayangnya, dia tidak melakukannya.

Banyak orang lebih memilih yang mudah bagi dirinya. Sengaja atau tidak disengaja. Tidak banyak yang mengejar value atau nilai kehidupan. Kalau ada yang mudah buat apa harus melalui yang sulit?” Ungkapan seperti itu sering kita dengar. Alhasil, tidak banyak yang dapat kita capai. Kita hidup dalam rata-rata, average saja. Mungkin malah berada di bawah rata-rata.

Setiap pilihan akan menentukan pencapaian. Apakah kita ingin mencapai sesuatu yang bernilai? Para tokoh Alkitab – sebutlah Abraham, Yakub, Yusuf, Musa dst – rela melalui proses panjang pembentukan kehidupan yang dikerjakan Tuhan dalam diri mereka. Pencapaian mereka tidak dibayar hanya dengan bertopang dagu duduk di kursi goyang. Hidup mereka seperti berada di ketinggian dengan angin yang besar. Tetapi kesediaan mereka melalui ‘pendakian jalan terjal kehidupan’ telah mengantarnya ke pusat kehendak Tuhan.

Apa pilihan jalan hidup kita? Pilihlah untuk mengikuti jalan Tuhan, sekalipun kelihatannya sulit dan mendaki. Jangan pilih sesuatu hanya karena mudah sebab biasanya itu Zoar, tidak berarti apa-apa. We should live by faith, not by sight. *

“Memilih yang mudah hanya akan menurunkan derajat pencapaian kita. Karena nilai kehidupan hanya diraih oleh mereka yang terus mendaki sekalipun berat dan terjal.”

 

Semua karya tulis yang dibuat oleh contributor adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Halaman :
1

Ikuti Kami