“Eloi Eloi Lama Sabachthani,” Allah Meninggalkan Yesus Saat Disalibkan?

Kata Alkitab / 15 April 2022

“Eloi Eloi Lama Sabachthani,” Allah Meninggalkan Yesus Saat Disalibkan?

Claudia Jessica Official Writer
591

Saat Yesus di kayu salib, sekitar pukul tiga, Yesus berseru, “Eloi Eloi Lama Sabachthani,” yang berarti, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Mengapa Yesus mengucapkan kata-kata ini? Mengapa Yesus mengatakan Dia ditinggalkan oleh Allah?

 

1. Penyaliban

Kematian Yesus melalui penyaliban adalah kematian terburuk yang harus dialami oleh siapapun. Terlepas dari rasa sakit dan penderitaan di kayu salib, Yesus memilih untuk mati dan menebus kita dari dosa-dosa dunia karena kasih-Nya pada kita.

Yesus berkata, “Eloi Eloi Lama Sabachthani” di kayu salib sebagai penggenapan dari Mazmur 22: 1 yang berkata, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.”

Melalui ayat ini, kita diberi tahu bahwa Yesus bertanya pada Bapa mengapa Dia meninggalkan-Nya. Dari sudut pandang-Nya, Dia merasa ditinggalkan oleh para murid dan Bapa-Nya. Dia ditinggalkan sendirian di kayu salib. Yesus tahu apa yang Dia lakukan saat mati di kayu salib. Dia menanggung seluruh dosa dunia dan mati dengan kematian yang paling mengerikan di kayu salib.

Dia mewakili kita merasakan semua rasa sakit yang harusnya kita tanggung. Dia mengambil tempat kita untuk mati di kayu salib agar kita semua menerima keselamatan melalui iman di dalam Dia.

Sulit untuk menguraikan apa yang Yesus maksud ketika Dia berkata bahwa Bapa meninggalkannya. Padahal kita tahu bahwa Bapa sangat mengasihi-Nya.

Maka dari itu, makna mengapa Yesus mengatakan Dirinya ditinggal oleh Bapa adalah penggenapan nubuat Mazmur 22:1. Yesus bisa mengatakan ini karena Dia merasa ditinggalkan saat tergantung di kayu salib. Yesus adalah sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Tuhan (Kolose 2:9).

Dia merasakan emosi, rasa sakit dan penderitaan seperti yang kita rasakan sebagai manusia. Dia merasakan sakit di tubuhnya ketika disalibkan, Dia merasakan penderitaan dan pengabaian. Hanya Yesus yang melakukannya, oleh karena itu Dia dapat merasakan sakit dan penderitaan karena ditinggal dan diabaikan.

 

BACA HALAMAN SELANJUTNYA -->

2. Menanggung dosa seluruh manusia

Di kayu salib, Yesus mati untuk dosa seluruh dunia. Terlepas dari kenyataan bahwa Yesus tidak pernah berdosa, Dia mati di kayu salib untuk menanggung dosa-dosa kita. Sejak kejatuhan umat manusia, kita telah dipisahkan dari Allah karena dosa-dosa kita.

Hanya melalui kematian, dan kebangkitan Yesus , kita dapat diampuni dari dosa-dosa kita dan dipulihkan dalam hubungan yang benar dengan Bapa. Karena kita tidak dapat memperbaiki hubungan kita yangs terputus dengan Bapa, maka Yesus memperbaikinya untuk kita.

Sekarang, siapapun dapat diselamatkan dengan iman. Ketika kita menaruh iman di dalam Yesus, kita diberikan pengampunan dosa, penebusan, dan hidup yang kekal. Tidak ada keselamatan selain Yesus karena Dia adalah jalan, kebenaran, dan hidup (Yohanes 14:6).

Yesus mengalami kematian yang paling berdarah dan menyakitkan karena kasih-Nya yang besar bagi kita. Yesus mengalami dan merasakan keterpisahan total dari Bapa sehingga kita tidak perlu melakukannya. Hal ini seharusnya sudah lebih dari cukup bagi kita untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Yesus.

 

3. Penderitaan Kristus

Tidak diragukan lagi bahwa Tuhan mengalami rasa sakit yang hebat di kayu salib. Yesus menggenapi nubuat Yesaya 53:4-5, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

Seperti yang dikatakan bagian Kitab Suci ini, Yesus menanggung rasa sakit dan penderitaan kita untuk menebus kita. Dia tertimpa, menderita, dan berkerak karena dosa-dosa kita. Melalui penderitaan Yesus di kayu salib, itu membawa damai bagi kita, dan melalui luka-luka-Nya, kita disembuhkan untuk selama-lamanya.

Kita terlalu sering kita mengabaikan kematian Yesus di kayu salib. Kita bisa terbiasa dengannya sehingga kita melupakan pentingnya kematian dan kebangkitan Tuhan kita. Benar, Yesus adalah Tuhan, tetapi Dia masih merasakan sakit dan penderitaan karena disalibkan, dipisahkan dari Bapa, dan mati bagi dosa-dosa dunia.

Tuhan mengasihi semua orang dan Dia rela mati bagi kita agar kita dapat hidup bersama-sama dengan-Nya selamanya.

Kasih Yesus tidak bersyarat dan kekal.

Sumber : christianity.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami