Perjalanan Melalui Padang Gurun
Kalangan Sendiri

Perjalanan Melalui Padang Gurun

Lori Official Writer
      973

Matius 4: 1-2

Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89; Lukas 1; Ulangan 25

Saat kita berada di periode kekeringan di area tertentu dalam hidup kita, kita secara naluriah berpikir pasti ada yang salah dengan kita. Kita berpikir, “Mungkin kalau aku lebih banyak berdoa dan hidup lebih baik, aku akan merasakan hadirat Tuhan.” Atau “Kalau aku punya lebih banyak uang, aku mungkin bisa membeli apapun yang aku inginkan." Atau “Kalau aku lebih dicintai, aku pasti bisa menemukan seseorang yang akan aku nikahi.”

Lalu kita berusaha dan terus berusaha mengisi kekosongan itu dengan harapan bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. 

Perasaan kekurangan ini disebut juga dengan pengalaman di padang gurun. Pengalaman ini bisa dalam berbagai bentuk seperti secara kerohanian, hubungan dan fisik.

Dengan usaha kita, kita mungkin akan kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Kadang, pengalaman di padang gurun diperlukan untuk menghasilkan buah yang lebih banyak di kemudian hari. Beberapa orang percaya menganggap pengalaman di padang gurun sebagai hal yang bermanfaat secara rohani.

Elisabeth Leseur, seorang ibu rumah tangga kelas atas asal Perancis di awal abad ke-20, menghabiskan banyak waktu di padang gurun hubungan dan kerohanian selama pernikahannya dengan sang suami, yang mengaku ateis. Dalam buku hariannya berjudul The Secret Diary of Elisabeth Leseur, dia mencatat saat-saat dia hidup dalam keterpurukan tanpa adanya sukacita atau penghiburan batin. 

Lalu saat dia kembali merenungi iman percayanya, dia menulis “Tetapi melalui semua cobaan ini dan terlepas dari kurangnya sukacita batin, ada dalam jiwaku satu pusat, yang tidak bisa dijangkau oleh semua gelombang kesedihan ini.” Ketekunan Elisabeth dalam mencari Kristus di padang gurun akhirnya mengilhami pertobatan suaminya.

Di Alkitab, kekurangan secara fisik seringkali mendahului momen-momen penting dalam sejarah keselamatan. Musa menulis Sepuluh Perintah selama 40 hari puasa (Keluaran 34: 28). Dan setelah berpuasa, Elia mendengar suara Tuhan yang lembut dan tenang (1 Raja-raja 19: 8). Kita melihat dalam perikop di atas bgahwa Kristus benar-benar pergi ke padang gurun untuk berpuasa selama 40 hari sendirian, sebagai persiapan pelayanan-Nya menggenapi keselamatan manusia melalui pengorbanan-Nya.

Anda tidak dianjurkan untuk menahan lapar atau membiarkan Anda hidup dalam depresi klinis tanpa pengobatan. Tetapi, di waktu hidup kita yang singkat ini, kita bisa memakainya untuk tujuan Tuhan.

 

Baca Juga:

Puasa Rohani Harus Dimulai Dari Hati

Tuhan Melayani Jiwa yang Kering Lewat Firman-Nya

 

Prapaskah adalah momen dimana orang-orang percaya mulai menyambut perjalanan di padang gurun seperti yang dilakukan oleh Yesus. Ini adalah masa perenungan yang panjang. Meskipun di dalamnya kita akan menjalani masa penderitaan, namun Tuhan akan memakai kekurangan kita untuk memurnikan kita kembali dan membawa kita semakin dekat kepada-Nya. 

Dengan itu, kita bisa mengalami sukacita yang lebih dalam, melampaui apa yang saat ini kita lihat secara kasat mata.

Setelah prapaskah, kita akan merayakan yang namanya Paskah. Ini adalah momen dimana Tuhan membuktikan kuasa-Nya dimana Dia menang melawan kematian.

Jadi selagi ada waktu, Tuhan mau kita memanfaatkan masa-masa prapaskah ini untuk melewati padang gurun kita masing-masing dan kembali menjadi pribadi yang penuh di dalam Kristus.

 

 

Hak cipta Sarah Jennings, diambil dari renungan Crosswalk.

Ikuti Kami