Tuhan Melayani Jiwa yang Kering Lewat Firman-Nya
Kalangan Sendiri

Tuhan Melayani Jiwa yang Kering Lewat Firman-Nya

Lori Official Writer
      971

Mazmur 119: 105

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 76; Roma 4; Bilangan 35-36

Pernahkah Anda merasa seperti hilang arah? Maksud saya, Anda tidak mampu mengungkapkan apa yang sedang terjadi kepada Anda dengan kata-kata. Yang Anda tahu adalah bahwa segala sesuatunya tak lagi sama. 

Anda merasa seolah-olah mengering dan tak tahu kapan atau bagaimana semua itu terjadi. Hidup tampaknya terus berjalan tetapi Anda memutuskan untuk berhenti. 

Saya pernah membaca bahwa dalam perjalanan rohani kita, kita melakukan salah satu dari dua hal. Kita mau maju atau mundur. Tidak ada pilihan netral dalam hal ini.

Ya, ini akan sangat mengganggu. Karena sejujurnya, saya ingin menarik nafas lega. Anda tahu maksud saya? Sampai akhirnya saya mendengar jingle kecil katanya, “Kamu pantas istirahat hari ini’. Jadi, tentu saja, saya melakukannya.

Saya beristirahat dari pekerjaan rohani saya. Tapa terasa, saat-saat berubah menjadi satu jam, satu ham menjadi sehari, sehari menjadi seminggu dan sebelum saya menyadarinya, enam bulan telah berlalu.

Saya akhirnya menyadari bahwa saya sudah jatuh ke dalam kemunduran yang sangat serius.

Pikiran saya dipenuhi dengan rasa bersalah, dendam, kemarahan, pembenaran dan ketidakpedulian. Hal-hal yang pernah saya pedulikan, tak lagi mengganggu saya. Hati saya yang dulu begitu sensitif kini berubah menjadi sangat tidak berperasaan. Hingga saya hampir tidak bisa mengenali siapa diri saya lagi.

Lalu firman Tuhan muncul tepat waktu. Tuhan melayani saya melalui firman-Nya. Dia berkata dengan lembut, “Hancurkan tanah kosong di dalam hatimu dan izinkan aku menebus kembali waktu yang sudah dicuri oleh musuh.” 

Suaranya begitu lembut dan tegas. Dia sama sekali tidak mengutuk atau membuat saya ketakutan seperti di dalam imajinasi saya. Saya melihat Tuhan dan memperhatikan saat Dia perlahan membungkuk dan menaruh sebuah batu loncatan di depan kaki saya.

Lalu saya membungkuk dan membaca tulisan di atasnya. “…kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Roma 2: 4b).

Mata saya bengkak karena air mata. Dia dengan penuh kasih tersenyum kepada saya dan berkata, “Majulah ke sini.” Saat saya melangkahkan kaki ke atas batu itu, Dia membungkuk ke depan dan menulis kalimat di batu berikutnya.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1: 9)

Saya mendengar suara lembut-Nya berbicara kepada saya lagi. “Majulah ke sini.” Saat saya melangkah ke batu itu, saya merasakan ada beban berat dari jiwa saya yang terangkat. Saya merasa dibersihkan sepenuhnya. 

Tuhan kembali menaruh batu yang lain di depan saya dan menuliskan satu ayat di sana.

“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3: 8)

Saya kembali ragu sebelum melangkah keluar. Saya memejamkan mata dan berbisik, “Ya Tuhan, Engkau tahu bagaimana aku sudah mengecewakan Engkau dalam hal ini. Apa bedanya kali ini?”

Lalu saya mendengar Tuhan berkata, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya…” (Mazmur 37: 23)

 

 

Hak cipta Missey Butler, diambil dari renungan CBN

Ikuti Kami