Ingin Pernikahan Langgeng dan Bahagia, Ini Rahasia Alkitabiahnya!

Marriage / 10 March 2022

Kalangan Sendiri

Ingin Pernikahan Langgeng dan Bahagia, Ini Rahasia Alkitabiahnya!

Contasia Christie Official Writer
1187

Kata siapa setelah menikah masalah dalam berpacaran bisa selesai. Justru itu adalah awal mula dari perjuangan yang lebih ‘mantap’ daripada yang saat ini kita jalani. Itu juga yang momin alami di awal-awal pernikahan. Dua tahun menikah, langsung dihantam pandemi Covid yang cukup panjang sampai sekarang. Kami pun sempat mengalami pergumulan dalam hal finansial sampai akhirnya belajar bertahan.

Apalagi setelah mendapatkan anak. Bulan-bulan awal semua dijalani penuh dengan emosi. Selain karena terlalu lelah beradaptasi dengan perubahan yang mendadak, kami juga belajar bisa saling bekerja sama untuk berbagi tugas rumah maupun pekerjaan. Dan… kini yang ada dalam pandangan momin, bagaimana cara mempertahankan rumah tangga kalau kehidupan yang sulit kembali melanda? Ternyata Tuhan telah mempersiapkannya bagi kita kiat-kiat agar pernikahan kita bisa langgeng lho! Semuanya ada di Alkitab.

 

1. Sepakat untuk menjaga keseimbangan emosi dalam setiap percakapan.

Yakobus 1:19, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

Buatlah sebuah keputusan bersama pasangan agar bisa mengerti satu dengan lainnya. Misalnya tanda-tanda ibu marah itu seperti apa sih? Jelas sebenarnya memang pria tidak sesensitif itu untuk mengerti bahasa tubuh wanita. Jadi ya komunikasikan saja kalau sedang marah karena hal a,i,u,e,onya. Dan bapak coba lebih peka lagi dengan kondisi rumah. Tugas seorang pria sebenarnya tidak hanya bekerja diluar rumah kok, tapi membantu ibu dalam mengelola rumah tangga, terutama mendidik anak juga.

 

2. Cepat mengatur ulang dan memulainya lagi

Efesus 4:26-27, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Baca Selengkapnya ---->

Kalau marah sebaiknya tidak perlu berlarut-larut ya. Anak bisa lho menyontohnya dan akhirnya belajar menjadi anak yang pendendam. Kita tidak mau donk anak-anak berlaku seperti itu. Jadi belajarlah meminta maaf untuk setiap kesalahan ataupun sesuatu yang merusak hubungan kita saat itu. Jika belum mampu saat itu juga, berhentilah sejenak, berpikir dengan tenang (bisa lewat berdoa, bersaat teduh, mendengarkan pujian, dan lainnya), barulah mulai kembali mengatasi masalah itu.

Kita pun harus belajar segera mengampuni kesalahan yang telah diperbuat oleh pasangan kita. Dengan pengampunan, hidup terasa lebih lega, damai, dan ringan kembali. Sehingga kebahagiaan dan damai Kristus menyertai keluarga kita selalu.

 

3. Tinjau secara kritis bagaimana cara kita menangani setiap situasi, berencana, dan mengoreksi

Matius 7:3, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Kita harus mengenali diri kita sendiri sebelum bekerja sama dengan pasangan. Bagaimana kita sendiri menangani setiap situasi yang terjadi dalam kehidupan pernikahan ataupun rumah tangga, bagaimana merencanakan yang terbaik untuk keluarga, dan mengoreksi perbuatan diri ataupun masing-masing anggota keluarga.

Catat pemicu yang biasanya membuat Anda mudah emosi dan cara mengatasinya. Dan komunikasikan pada pasangan tentang hal ini.

2 Korintus 13:11, “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”

Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami