Kesembuhan Terjadi Bahkan Dengan Cara yang Mustahil
Kalangan Sendiri

Kesembuhan Terjadi Bahkan Dengan Cara yang Mustahil

Lori Official Writer
      1239

Markus 2: 5

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 63; Markus 7; Bilangan 9-10

Momen pelayanan yang paling memberi sukacita adalah ketika melihat hidup seseorang berubah setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus.

Markus dalam kitab injil mencatat satu kisah klasik tentang peristiwa seperti ini.

“…ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (Markus 2: 3-5)

Mujizat ini penting karena tidak hanya menunjukkan kuasa Yesus, dan kasih karunia-Nya kepada mereka yang membutuhkan-Nya, tetapi juga menunjukkan cara kita bisa menjadi bagian dari pelayanan-Nya.

Ada kelembutan dalam cara Yesus menyapa orang lumpuh itu. Pria itu adalah orang berdosa. Hal itu jelas terlihat karena salah satu hal yang Yesus lakukan adalah mengampuni dosanya. Sekarang teman-temannya menurunkan dia dari atas atap tepat di hadapan Yesus, pribadi paling suci yang pernah ada. Hal itu akan mengintimidasi. Dia lumpuh, diturunkan lewat atap, dan sekarang terbaring tak berdaya di depan Putra Allah. Memahami dilema pria itu, Yesus pertama-tama berkata kepada-Nya, “Tenanglah, anakku.” (Matius 9: 2)

Hal yang sangat menghibur untuk disampaikan kepada orang berdosa yang sudah mengganggu sesi pengajaran-Nya. Yesus secara harafiah berarti, “Tidak ada yang perlu ditakuti di sini.”

Berapa kali kita pernah memikirkan Tuhan sebagai seseorang yang harus ditakuti? Karena malu akan dosa-dosa kita, kita terlalu sering menghindari hadirat-Nya, padahal hadirat-Nya adalah tempat teraman bagi kita.

Yesus pada akhirnya mengampuni dosa orang lumpuh itu dan menyembuhkan dia dari kelumpuhan tersebut. Dia mulai dengan menghilangkan rasa takut orang tersebut.

Siapapun bisa melihat bahwa pria itu lumpuh. Yesus akan berurusan dengan hal itu. Yang tidak bisa dilihat orang lain adalah kondisi hati pria itu. Tetapi Yesus memulainya dari sana. Dia menyelidiki lebih dalam, lebih daripada yang bisa dilakukan orang lain. Dia melakukannya juga untuk kita. Dia langsung ke akar masalah dan menanganinya terlebih dahulu. Yesus memulai pelayanan-Nya kepada kita dengan menghilangkan rasa takut kita akan Dia dan menghapus dosa kita.

Ketika Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”, pria itu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya. Tanggapan alami untuk kondisi itu adalah, “Saya tidak bisa melakukannya, saya lumpuh.” Tetapi pria itu tidak mengatakan hal itu. Dia mencoba sesuatu yang tidak mungkin sebelumnya dan berdiri. Itulah yang terjadi kepada kita ketika rasa takut dan bersalah kita lenyap. Kita tidak takut untuk mencoba sesuatu yang mustahil.

Aspek unik dari cerita ini adalah keempat temannya dan sejauh mana mereka membantu orang lumpuh tersebut. Dia lumpuh dan tidak bisa menghampiri Yesus sendirian. Dia membutuhkan bantuan teman-teman yang peduli terhadapnya untuk membawa tubuhnya yang tak berdaya ke tempat Yesus berada saat itu.

Bagian paling menarik dari keseluruhan cerita ini adalah metode yang digunakan pria tersebut untuk mendapatkan bantuan dari teman-temannya. Seperti diketahui, saat itu gedung tempat Yesus melayani dipenuhi dengan kerumunan orang sehingga mereka tidak mungkin bisa masuk ke dalam. Jadi mereka berinisiatif untuk menaiki tangga di luar rumah dan menggali lubang di atap yang cukup untuk menurunkan pria lumpuh tersebut beserta tempat tidurnya. Mereka membongkar atap demi pria lumpuh itu bisa bertemu Yesus.

Keempat pria putus asa itu melakukan sesuatu yang melanggar prinsip hak milik bangunan. Karena mereka mencoba merusak rumah orang lain. Siapapun yang menghancurkan atap orang lain adalah pelanggaran hukum. Kita mungkin mengharapkan Yesus untuk melihat ke atas dan berkata, “Perampok.” Tetapi Yesus tidak melakukannya.

Markus menyampaikan bahwa Yesus menoleh ke atas dan ‘melihat iman mereka’.

Kita hidup di dunia dimana orang-orang terluka. Mereka dibanjiri oleh rasa malu, rasa bersalah, dan penghukuman. Mereka membutuhkan seseorang untuk membawa mereka kepada Yesus. Ketika kita mau datang kepada Yesus, seseorang bisa saja mau menggendong kita. Beberapa orang tidak akan pernah sampai kepada Yesus kecuali mereka digendong. Saat Anda menjalani hidup minggu ini, apakah Anda mau menjadi teman-teman orang lumpuh yang membawa temannya kepada Yesus?

 

Hak cipta Wally Odum, disadur dari CBN

Ikuti Kami