Hati-hati Saat Mulai Andalkan Diri Sendiri

Hati-hati Saat Mulai Andalkan Diri Sendiri

Lori Official Writer
      965

Efesus 6: 12

karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 16; Matius 16; Kejadian 31-32

Pemuda itu antusias, energik dan termotivasi. Dia bertekad untuk setia kepada pemimpinnya tak peduli jumlah imbalan yang dia peroleh nanti. Dia percaya diri dengan kemampuannya sendiri dan mulai membual, “Bahkan jika yang lain meninggalkanmu, aku akan tetap setia!”

Tapi hanya dalam waktu beberapa jam kemudian pemuda ini menundukkan kepalanya karena malu setelah ayam berkokok. Dia tidak hanya meninggalkan pemimpinnya, tetapi dia menyangkal tiga kali bahwa dia tidak mengenalnya. Apa yang tak pernah terpikirkan oleh Petrus menjadi kenyataan.

Kami membesarkan kedua putri kami supaya mereka mengasihi Tuhan. Saya yakin jika mereka menikah dengan pria Kristen yang aktif dalam pelayanan, mereka pasti akan hidup bahagia selamanya. Saya juga berpikir bahwa anak-anak saya juga tidak akan bercerai.

Namun seiring berjalannya waktu, pernikahan mereka diperhadapkan dengan masalah. Kedua putri saya menghadapi kehancuran yang menyedihkan karena perceraian. Saya mulai protes. Apa yang saya dulu yakini tidak akan terjadi, menjadi kenyataan.

Berapa banyak dari kita yang berkata situasi atau peristiwa tertentu tidak akan pernah terjadi kepada kita, seperti saat orang yang kita kasihi kecanduan alkohol, pornografi, narkoba, pelecehan seksual, perceraian, penyakit yang tak sembuh-sembuh, melakukan kejahatan, bolos dan berselingkuh? Kita meyakini sejumlah daftar ini tidak terjadi kepada kita secara pribadi atau kepada anggota keluarga kita, tapi itu malah terjadi.

Saya menyadari banyak faktor yang bisa menyebabkan hal ini bisa terjadi. Kita terlibat dalam perang rohani yang serius. Ini bukan fantasi atau imajinasi orang-orang fanatik. Ini benar-benar nyata.

“…karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6: 12)

Musuh kita si iblis lebih licik dan kuat daripada kita dan merencanakan rencana jahat dalam pikiran kita. Si iblis bertujuan untuk menghancurkan kesaksian, pernikahan, keluarga, gereja dan kehidupan kita. Untuk mencapai rencananya, dia dengan licik memasang perangkap, menunggu kesempatan yang sempurna untuk menyasar kelemahan kita.

Mudah sekali bagi kita menjadi sibuk dengan kehidupan, menjadi percaya diri pada diri kita sendiri. Tapi, saat hal itu terjadi, kita lengah dan musuh kita memiliki kesempatan untuk menyerang. Akibatnya, hidup bisa berubah secara tak terduga dan kita mengalami peristiwa seperti yang dialami Petrus. 

Kabar baiknya adalah kita tidak harus bergantung kepada diri kita sendiri. Kita punya Yesus Kristus, Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala Tuhan yang mau membantu kita (Yakobus 4: 6-8). Tuhan kita menyediakan perlengkapan senjata rohani yang kita butuhkan dan memberi kita senjata yang bisa mengalahkan apapun yang musuh lemparkan ke arah kita. Senjata itu adalah FIRMAN TUHAN dan kita perlu memilikinya di dalam hati dan pikiran kita, menjadi tajam dan siap berperang (Efesus 6: 13-17).

Walaupun musuh kita kejam, kita tidak perlu takut. Penting bagi kita untuk menghadapi pertempuran ini dengan serius. Jangan pernah lupa bahwa kita punya musuh dan belajar untuk mengenakan perlengkapan senjata rohani kita setiap hari. Saat zaman akhir sudah dekat, musuh kita semakin kuat. Semoga kita diingatkan dengan apa yang terjadi kepada Petrus.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Petrus 5: 8-9)

Kita perlu mengklaim supaya kemenangan menjadi milik kita.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8: 37)

 

 

Hak cipta Sandra Hastings, digunakan dengan izin CBN.

Ikuti Kami