Heboh Sesajen di Buang, Ini Cara Menanamkan Toleransi Antar Agama Kepada Anak

Heboh Sesajen di Buang, Ini Cara Menanamkan Toleransi Antar Agama Kepada Anak

Contasia Christie Official Writer
338

Baru-baru ini publik di hebohkan dengan video yang merekam aksi seseorang yang membuang sesajen. Di satu sisi, jika memandang dari kaca mata agama pribadi pastinya kita tidak setuju untuk menyembah selain Tuhan. Tapi di sisi toleransi dalam hidup penuh keberagaman, itu adalah perbuatan yang tidak terpuji. Dalam kata lain, dia tidak menghormati orang dengan kepercayaan yang berbeda. 

Momin sangat bersyukur karena terlahir di bangsa dengan suku budaya dan kepercayaan yang beragam. Di negeri inilah, kita belajar saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan. Lewat firman Tuhan di Matius 22:37-39, “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Kita diingatkan bahwa Dia telah mengajak kita mengasihi manusia seperti diri kita sendiri. Allah sendiri telah mengasihi kita dengan tidak memandang perbedaan. Walaupun berbeda suku, budaya, dan agama, kita tetap diberikan udara, air dan segala berkat-Nya. Lalu apa yang bisa kita ajarkan kepada anak agar kelak mereka menjadi anak yang toleran?

1. Menerima perbedaan

Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. – 2 Timotius 3:17

Tuhan menciptakan setiap manusia secara unik, dengan segala karakteristik, potensi, dan bakat masing-masing. Toleransi tidak hanya bersinggungan dengan agama dan budaya, tetapi juga perihal menghargai keunikan setiap individu! Mari kita ajarkan anak untuk saling melengkapi dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia sesuai dengan panggilan masing-masing.

 

2. Menyesuaikan diri

Sikap toleransi bukan hanya menerima perbedaan, tapi juga bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan budaya di tempat kita tinggal atau berkegiatan. Kita juga perlu mengajarkan bagaimana cara anak bergaul dengan teman-teman yang berbeda dengannya. 

 

3. Menjadi GARAM DAN TERANG (Matius 5 : 13-14)

Tuhan sudah memberikan mandat kepada kita sebagai umat percaya, termasuk anak untuk menjadi garam dan terang. Menjadi garam, yaitu memberi rasa dimana kehadiran anak membawa dampak bagi sekitarnya. Dalam arti menjadi teladan yang saleh dalam tingkah lakunya. Misalnya anak tidak mem-bully temannya, berkelakuan baik di sekolah dan lingkungan, belajar dengan tekun, dll.

Sedangkan menjadi terang yaitu memberi sinar Ilahi dalam kehidupan sosial. Anak harus memiliki pondasi atau akar yang kuat dalam Tuhan, agar kehidupannya dapat mencerminkan kasih Kristus. 

 

Sumber : beberapa sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami