Mau Ikut Kata Dunia atau Jadi Serupa Dengan Kristus?

Mau Ikut Kata Dunia atau Jadi Serupa Dengan Kristus?

Claudia Jessica Official Writer
      604

Roma 12:2

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

“Karakter selalu hilang ketika suatu cita-cita yang tinggi dikorbankan di atas altar kesesuaian dan popularitas,” – Charles Spurgeon.

Sebagai seorang yang gemar membaca, saya selalu membawa buku dan membacanya setiap ada kesempatan. Seperti ketika terjebak dalam kemacetan, menunggu kopi, atau berdiri di antrian. Saya hampir mengalami serangan panik karena daftar buku yang ingin saya baca mulai menipis.

Saya berencana untuk membuat daftar bacaan baru dan mulai mengumpulkan buku-buku ke keranjang online saya. Saat saya hendak membayar buku-buku itu, sesuatu yang kita sebut sebagai “akal sehat” muncul di benak saya. Saya memarahi diri dan sayang berkata, “Meghan, tahan dirimu!”

Setelah beberapa waktu, saya akhirnya dapat berpikir rasional kembali. Separuh buku yang saya masukkan ke keranjang tidak akan pernah saya baca karena rasa ketidaksukaan saya pada penulisnya atau pada jenis sastranya. Saya tahu apa yang saya suka dan membacanya. Namun terkadang saya ingin mencoba sesuatu yang baru atau sesuatu yang menantang untuk bersenang-senang. Tapi sayangnya saya seringkali justru tidak melakukannya karena merasa nyaman dengan penulis favorit saya.

Terkadang kita terjebak melalui hal-hal yang sedang trending dan dilakukan oleh semua orang.

Sebagai orang Kristen, kita harus extra berhati-hati dengan pesan yang ada pada suatu hal, dalam hal ini khususnya buku.

Misalnya ada beberapa buku yang tidak boleh saya baca karena saya adalah pengikut Kristus. Bukan tentang apakah saya bisa “menangani” isinya, namun tentang menjalani kehidupan yang mencerminkan dan menyenangkan Kristus. Ketika saya memilih untuk membaca buku, saya membuat keputusan untuk menghabiskan berjam-jam untuk terhanyut dalam cerita itu.

Saat kita memilih apa yang akan kita pakai, dengarkan, tonton atau baca kita perlu mengingat apa yang dikatakan Kitab Suci tentang bagaimana kita menghabiskan waktu dan untuk apa kita menghabiskan waktu kita untuk fokus.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu,” (Filipi 4:8)

Seorang teman bercerita kepada saya bahwa seorang guru sastra di perguruan tinggi Kristennya terus-menerus menjatuhkan penulis Kristen dan buku-buku mereka, kemudian malah mendorong para siswa untuk membaca literatur yang “baik”. Diskusi kami diakhiri dengan beberapa pemikiran hebat.

Pertama, hanya karena sesuatu ditulis dengan baik, tidak membuatnya menjadi “baik” atau pantas untuk orang Kristen. Sama juga dengan sesuatu yang dirulis orang Kristen, belum tentu bagus untuk dibaca. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa membenarkan menghabiskan waktu untuk buku-buku tidak memuliakan Tuhan ketika ada banyak sekali buku yang baik dan ditulis dengan baik oleh penulis Kristen maupun non-Kristen?

Pada dasarnya, ketika waktu saya di bumi selesai, saya ingin menjadi jelas bahwa bagi saya, menjadi serupa dengan Kristus lebih penting daripada menyesuaikan diri dengan budaya.

Sebagai orang Kristen, kita perlu mengingat bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah dan dengan mengingat hal itu, pertimbangkan bagaimana kita akan menggunakan waktu-Nya.

 

Hak cipta oleh Meghan Kleppinger, disadurkan dari crosswalk.com.

Ikuti Kami