Tepis Ketakutan, Hadapi Tahun yang Baru Dengan Penuh Senyuman

Tepis Ketakutan, Hadapi Tahun yang Baru Dengan Penuh Senyuman

Lori Official Writer
      556

Amsal 31: 25

Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 2; Matius 2; Kejadian 3-4

Kami tidak pernah menyadari kalau dinding rumah kami mulai retak. Awalnya retakan itu sangat kecil. 

Setelah sekian tahun tidak menempati rumah itu, kami mulai menyadari keberadaannya. Tampak sedikit belahan di sana, tapi nyaris tidak terlihat dan tidak ada yang harus dikuatirkan.

Tetapi setelah beberapa saat, retakan itu mulai meluas. Kami pun memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kami mencoba memplester dan mencat ulang dinding tersebut. Retakan itu tampak menghilang, tapi untuk sementara waktu.

Kami kembali melihat retakan tersebut bukan saja kembali muncul, tetapi semakin meluas sampai memotong bagian bingkai di atas pintu sampai ke bagian atap. 

Kami mulai menyadari bahwa masalahnya bukan saja hanya sekadar menutupi retakan. Masalah yang jauh lebih fatal adalah ternyata fondasi rumah kami amblas dan perlu diperbaiki. Retakan itu tidak muncul dari dinding itu sendiri, melainkan dari fondasinya.

Di ayat kunci hari ini, kita membaca tentang seorang wanita yang berpakaian dengan kekuatan dan martabat dan dia tersenyum tanpa rasa takut pada apa yang ada di depan.

“Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.” (Amsal 31: 25)

Anda mungkin membaca ayat ini dan merasa sepertinya Anda tidak akan pernah bisa tersenyum tanpa rasa takut saat memikirkan masa depan. Atau Anda mungkin membaca beberapa ayat kunci dan menentukan bahwa wanita yang dituliskan di dalam kitab ini tentu saja semacam pahlawan super rohani yang tidak punya apapun untuk ditakuti.

 

Baca Juga:

Memasuki Tahun Dengan Rasa Cukup

Ada Sukacita di Tahun yang Baru

 

Bagi sebagian Anda pastinya ada perasaan takut untuk menatap masa depan. Bahkan untuk tersenyum pun sulit. Tapi mari kita merenungkan ayat-ayat ini dengan kacamata yang berbeda.

Pertama, tentunya wanita yang ditulis di dalam Amsal 31 menggambarkan bahwa kita tidak perlu berusaha untuk tersenyum. Tetapi senyuman itu akan terpancar sendiri ketika kita mau meresponi Tuhan dengan hati yang murni.

Kedua, secara fisik jantung merupakan organ vital. Tanpa jantung, kita tidak mungkin hidup. Tapi hati sangat penting bukan hanya untuk menunjang kehidupan kita secara fisik, tetapi juga rohani kita. Untuk hidup secara rohani, kita membutuhkan lebih dari sekadar jantung yang berdetak, tetapi kita juga membutuhkan hati yang murni di hadapan Tuhan.

Ketiga, dengan hati yang murni kita percaya kepada Tuhan dan dimampukan untuk mengasihi Dia (Roma 10: 10; Lukas 10: 27). Kondisi hati kita menentukan apa yang keluar dari sana, apakah menghasilkan kebenaran atau memancarkan kebohongan (Yeremia 17: 9; Matius 12: 34). Hati kita adalah sumber mata air kehidupan (Amsal 4: 23).

Tuhan jauh lebih tertarik dengan motivasi kita daripada tindakan kita. Tindakan kita memang penting, tetapi sebelum kita menghasilkan tindakan yang memuliakan Tuhan, sebelum kita tersenyum tanpa rasa takut akan masa depan, kita harus memiliki hati yang mau meresponi Tuhan.

Setelah bertahun-tahun menahan beban atas rumah kami, balok-balok yang menahan rumah kami mulai bergeser. Pergeseran ini menyebabkan semua bagian ikut bergeser. Saat fondasi roboh, dinding dan langit-langitnya juga retak.

Kami pun menyewa kontraktor untuk membantu kami. Kami kembali memperbaiki fondasi itu dengan kerja keras. Hingga akhirnya retakan bisa diperbaiki kembali.

Mungkin Anda sudah bertahun-tahun diam dalam beban dosa, ketakutan dan kekuatiran hidup. Mungkin Anda sudah melelahkan diri dengan upaya menambal dan mencat setiap hari setiap masalah maupun beban dosa itu sampai Anda mulai kehabisan tenaga. 

Tetapi firman Tuhan memberi kita kekuatan untuk kembali berdiri di saat-saat yang tidak pasti.

Saat kita memposisikan dan mengkondisikan hati kita untuk meresponi Tuhan, kita akan menemukan diri kita menjadi seperti wanita dalam Amsal 31, yang tersenyum tanpa rasa takut akan masa depan.

Sebelum melewati tahun ini, mari ambil waktu Anda bersama Tuhan dan minta Dia untuk memberi Anda kemampuan melalui segala ketidakpastian dengan keberanian.

 

Mari berdoa:

Tuhan yang baik, aku mengaku bahwa terkadang lebih mudah untuk mencoba mengatur masa depanku dengan usaha dan rencanaku sendiri.

Hari ini, bantu aku menangani hatiku sendiri lebih dulu dan mau percaya bahwa Engkau mampu mengurus masa depanku. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin

 

Hak cipta Katy McCown, disadur dari Crosswalk.com

 


 

Anda diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

DAFTAR 

Ikuti Kami