Seperti Orang Asing di Tengah Dunia

Seperti Orang Asing di Tengah Dunia

Lori Official Writer
      794

Yohanes 15: 18-19

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 85; Lukas 6; Yeremia 18-20

Di musim gugur yang lalu, saya pergi dengan beberapa teman untuk menyaksikan pertandingan tim sepakbola kampus kami, Richmond Spiders, berhadapan dengan rivalnya dari negara bagian James Madison University.

Kami cukup percaya diri saat berangkat ke pertandingan itu. Karena kami tahu tim kami adalah juaranya. Itu adalah hari yang sangat indah dan kami berhasil mendapatkan beberapa tiket terakhir sebelum semuanya terjual habis. Kami cukup berbangga diri dan yakin hari itu akan sukses.

Tapi tak lama setelah itu, kami salah jalan. Kami justru berputar-putar sebanyak dua kali di sekitar kota Harrisonburg. Satu setengah jam kemudian, kami akhirnya sampai di gerbang stadion tepat saat pertandingan dimulai, tepat saat kami mulai menaiki bangku penonton menuju tempat duduk kami. 

Kami mulai menyadari bahwa ternyata hanya kami saja yang mengenakan kostum Richmond merah biru di sana. Hingga membuat kami sadar bahwa ternyata tiket yang kami dapatkan dengan penuh kebanggaan itu tidak terletak di bagian kursi pendukung Richmond. 

Kami merasa seperti musuh yang berada di tengah lautan warna kuning ungu, wilayah kekuasaan musuh. Tapi tahukah Anda, kondisi itu tidak menghalangi kami untuk tetap bersorak merayakan kemenangan tim kami.

Tim Richmond segera melakukan touchdown untuk poin pertamanya dengan sangat baik. Tetapi setelah itu, kami tidak lagi mencetak gol hingga sisa pertandingan. Tim lawan mulai mengumpulkan poin demi poin mereka, hal ini membuat saya dan teman-teman tampak duduk dengan wajah sedih di kursi kami.

Seseorang lalu melempar pita kuning dan pesawat kertas ke arah kami lalu hujan mulai turun. Pertandingan berakhir dan kami meninggalkan stadium dengan kondisi basah kuyup dan penuh kesedihan. 

Cobaan itu belum berakhir. Kami mulai berjalan kembali ke mobil dengan cemoohan dari orang-orang. Kami terus berjalan dan terus diejek. Setengah jam berikutnya, kami terus mendengarkan ejekan demi ejekan selama terjebak dalam kerumunan. Hingga akhirnya kami sampai di mobil.

Sekarang,kami justru menertawakan bencana itu. Meski tentu saja saat itu kondisi tersebut tidak lucu.

 

Baca Juga:

Tuhan Sanggup Memulihkan Tahun-tahun Hidup Anda

Jangan Takut! Kamu Dirancang Tahan Uji Terhadap Badai

 

Mungkin Anda pernah mengalami hal serupa saat menghadiri acara olahraga atau mengalami perasaan yang sama di situasi yang berbeda? Atau Anda pernah dihina karena iman Anda? Walaupun Anda dan saya mungkin belum pernah mengalami perlakuan ekstrim seperti dihadapi olehorang-orang beriman di berbagai belahan dunia, tetapi kita semua pernah mengalami masa ketika kita merasa dihina karena iman kita.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang asing di tengah dunia yang tidak mengenal Tuhan. Seperti disampaikan oleh Petrus dalam 1 Petrus 2: 11, “sebagai pendatang dan perantau”. 

Semakin saya tua, saya semakin menyadari bahwa saya tidak lagi memiliki motivasi dan gairah yang sama seperti di masa muda. Semakin saya bertumbuh dalam iman, semakin saya merasa berbeda dari banyak orang yang saya temui. Semakin terbuka saya tentang iman, semakin nyata perbedaan itu.

Kita dipanggil untuk berbeda. Namun kita ada di dunia karena satu alasan yaitu menyiarkan kabar tentang Yesus. Kita seringnya akan ditolak.Tetapi kita harus melakukannya sebagai pengikut Kristus.

Sebagaimana disampaikan oleh Yesus dalam Yohanes 15: 18, perjalanan kita tidak akan selalu mudah. Jika Anda adalah milik dunia, dunia akan mengasihi Anda sebagai miliknya. Tetapi saat kita menerima Kristus dan terhubung dengan Dia, Dia memilih kita untuk keluar dari dunia ini. 

Saya dan teman-teman saya merasakan bagaimana rasanya ketika dikelilingi oleh penggemar dari tim lawan. Jadi, sebagai orang Kristen kita tidak akan pernah merasa dunia ini sebagai rumah kita. Selama kita masih ada di dunia, kita akan menghadapi tantangan. Tetapi Yesus sendiri mengatakan bahwa itu adalah lencana iman kita dan sebagai tanda bahwa kita adalah milik Allah.

Kita bisa memenuhi panggilan Tuhan atas hidup kita, jika kita bisa memberi dampak bagi dunia, seperti yang diteladani oleh Yesus.

 

 

Hak cipta Anna Kuta, disadur dari Crosswalk.com

 


Kamu diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

DAFTAR

Ikuti Kami