Kasih Karunia yang Memberi Kehidupan

Kasih Karunia yang Memberi Kehidupan

Claudia Jessica Official Writer
      848

Yakobus 4:6

Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 54; Markus 4; Yesaya 61-62

Beberapa tahun yang lalu, Tuhan menunggang balikkan dunia saya dan menempatkan saya di jalan yang memaksa saya untuk belajar bagaimana menjadi pemberi kehidupan ketika naluri saya adalah mengambil kehidupan. Jika Anda berapa apakah saya adalah pemberi kehidupan, ya saya adalah seorang pemberi kehidupan.

Saya seorang ibu dari empat anak dan hal ini membuat saya memenuhi syarat sebagai pemberi kehidupan. Meskipun tiga dari mereka bukan anak biologis saya, tetapi mereka masih membutuhkan saya untuk merawat mereka.

Saya memberikan homeschooling pada mereka berempat dan berharap hal tersebut mampu memberi kehidupan bagi seseorang. Saya sangat mengasihi Tuhan, keluarga saya, dan gereja. Jika Tuhan berkata rancangan-Nya untukku adalah menjadi pemberi kehidupan, maka, tentu saja saya akan mengiyakannya.

Hidup terus berjalan, dan keadaan yang di luar kendali menghancurkan hati saya. Saya merasa seperti ibu terburuk. Rasa bersalah, malu, ragu, dan takut menguasai saya. Saya gagal pada panggilan tertinggi saya, yang saya pikir bahwa saya akan berhasil, yakni menjadi seorang ibu.

Kebanggaan diri saya benar-benar hancur ketika keibuan saya tidak membawa hasil yang saya harapkan. Saya telah berusaha menjadi yang terbaik versi saya, dan berharap sepenuhnya bahwa saya dapat memuliakan Tuhan dengan berusaha keras.

Kesulitan sering kali membuka sikap berhala hati kita.

Sifat bawaan saya bereaksi dengan kemarahan dan rasa sakit terhadap keadaan dan orang-orang yang terlibat.

Sedikit yang saya tahu bahwa hal yang menghancurkan hati saya, akan membuka mata saya terhadap panggilan untuk mati bagi diri sendiri sehingga kuasa kebangkitan-Nya dapat mengubah hati saya. Sikap hati saya yang merasa selalu benar dalam memberi tahu orang lain, “kecaplah dan lihatlah bahwa Tuhan itu baik”.

Sekarang saya tahu bahwa Tuhan sedang menghancurkan pot tanah liat yang memegang hati saya yang sombong sehingga kasih-Nya yang indah dapat bersinar.

Tuhan menggunakan musim yang menyakitkan itu untuk mengambil wajah saya di tangan-Nya dan berkata melalui Firman Tuhan, “Lihatlah, Aku membuat segala sesuatu menjadi baru.”

Engkau akan belajar bahwa sikapmu yang merasa selalu benar telah mengambil kehidupan. Rendahkan dirimu di hadapan-Ku dan bersiaplah untuk mati atas dirimu sendiri. Kemudian lihatlah kehidupan baru yang akan menerobos tanah keras dari tempat yang berantakan ini.

Perjalanan saya dalam belajar bagaimana menawarkan kata-kata yang memberi kehidupan daripada kata-kata yang mengambil kehidupan ini sulit dan terkadang sangat menyakitkan.

Belajar untuk menempatkan kemuliaan dan tujuan Tuhan di atas diri saya sendiri dan percaya bahwa Tuhan melakukan banyak hal yang tidak terlihat oleh saya, membuat otak saya lelah ketika saya mempelajari cara berpikir yang baru.

Sepanjang jalan, Tuhan telah memberi saya rahmat atas kasih karunia dan membuka mata serta hati saya untuk merendahkan diri di hadapan-Nya, menyerah pada panggilan untuk mati terhadap diri sendiri, sehingga melalui Dia kehidupan kebangkitan datang.

Saya sangat ingin Anda mengalami kebebasan yang datang dari penyerahan diri kepada cara Tuhan. Saya telah meneteskan begitu banyak air mata dalam prosesnya, dan jujur saja bahwa itu tidak mudah.

Tapi, kecemasan itu hilang karena saya tidak berusaha memamerkan diri saya sendiri. Sebaliknya, saya semakin menikmati kebebasan, karena keyakinan saya pada kemampuan Tuhan untuk mencapai rancangan-Nya. Itulah kasih karunia.

 

Hak cipta oleh Jane Anne Wilson. Betters, disadurkan melalui crosswalk.com.

Ikuti Kami