Sukacita Tuhan Berikan Apabila Kita Menginginkannya

Sukacita Tuhan Berikan Apabila Kita Menginginkannya

Claudia Jessica Official Writer
      1057

Mazmur 16: 11

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 5; Matius 5; 2 Raja-Raja 1-2

Periode tergelap dalam hidup saya terjadi ketika saya tampaknya memiliki banyak alas an untku bersukacita. Dan saya telah mengalami kegembiaraan yang luar biasa selama situasi sulit dan menyakitkan.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, setelah serangkaian perpindahan dan pergantian pekerjaan, keluarga kami menetap di sebuah kota kecil di timur laut Kansas City, MO.

Saya belajar di rumah pada saat itu, dan kami tidak kaya. Tetapi keuangan kami stabil dan tagihan kami dibayar, pernikahan kami kuat, dan kehidupan rumah kami sebagian besar bebas dari ketegangan.

Tapi saya sengsara. Kalah dan bingung. Ketika saya mengejar sesuatu yang saya kira akan mendatangkan sukacita, hal itu justru merampok sukacita saya.

Saat itu, saya sedang berusaha untuk mendapatkan gelar mengajar menjadi guru (geologi atau fisika, saya tidak begitu inagt) saya selalu berubah pikiran tentang rencana karir potensial di setiap semester. Sepertinya karena saya tidak dipanggil ke salah satu dari mereka.

Melaui ketenangan yang hanya bisa datang dari Roh Kudus, saya tahu dengan pasti bahwa di dalam diri saya, Tuhan ingin saya menulis. Menulis adalah satu-satunya hal yang dapat saya lakukan tanpa masalah, saya melakukannya sebagai hobi dan menulis sesuai dengan kriteria saya.

Tapi Tuhan memanggil saya untuk berserah. Segala sesuatu. Rencana, keinginan, kebijaksanaan, dan semua prospek saya pasti termasuk gaji tetap yang cukup dan aman. Karena tentu saja, bukankah hal-hal tersebut adalah manfaat dari semua materi yang Dia berikan, hal-hal yang membawa sukacita?

Jika itu benar, saya akan memilikinya dalam jumlah banyak. Sebaliknya, hati saya terasa tumpul dan gelap, kegelapan yang bertambah karena, melalui ketidaktaatan, saya terus menjauhkan diri dari Tuhan dan kasih-Nya.

Cahaya dan kegembiraan membanjiri saat aku berserah.

Saya mengalami kebalikannya pada tahun 2012 ketika penyakit misterius mulai mencuri energi dan harga diri saya. Meskipun kemudian saya menemukan penyebab penurunan berat badan saya yang drastic dan gejala-gejala terkait, selama hampir satu tahun saya duduk dalam ketegangan karena tidak tahu.

Dari perasaan resah, membayangkan, dan berjuang untuk mengendalikan tubuh yang terasa seperti sedang memberontak. Tetapi di tengah semua ketidakpastian dan rasa sakit saya, saya mengalami kedamaian dan sukacita.

Sukacita yang jauh lebih besar dan lebih kuat dan lebih kekal daripada keadaan saya. Sukacita yang ditemukan dalam kelimpahan saat saya duduk, setiap hari, di hadirat Tuhan. Mazmur 16:11 mengatakan, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”

Dengan kata lain, sukacita datang bukan karena tidak adanya kesulitan, melainkan dalam hadirat Tuhan. Saat kita berhenti sejenak pada kesibukan kita hari, saat kita membiarkan bisikan lembut-Nya meredam kekhawatiran dan ketakutan kita, Dia melahirkan sukacita dalam diri kita.

Sukacita bukan milik kita. Namun sukacita adalah hadian yang Dia berikan ketika kita mau menerimanya.

 

Hak cipta © 24/2/2019 Jennifer Slattery, digunakan dengan izin.

Ikuti Kami