Memberi Sesuai Kemampuan, atau Memberi Lebih Dari Apa yang Kita Miliki?
Kalangan Sendiri

Memberi Sesuai Kemampuan, atau Memberi Lebih Dari Apa yang Kita Miliki?

Claudia Jessica Official Writer
      1290

Ezra 2: 69

Mereka memberi sumbangan sekadar kemampuan mereka untuk perbendaharaan guna pekerjaan itu sebanyak enam puluh satu ribu dirham emas, lima ribu mina perak dan seratus helai kemeja imam.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 15; Wahyu 21; Ayub 6-7

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, mengajarkan kita tentang prinsip memberi secara proporsional dengan kemampuan kita.

Rasul Paulus mungkin menyinggung bagian ini ketika dia memerintahkan orang Kristen untuk memberi dengan pendapatan mereka (lihat 1 Kor. 16: 2), serta ketika dia memuji-muji orang Kristen Makedonia yang memberi sebanyak yang mereka mampu, bahkan di luar dari kemampuan mereka. Mereka meminta dan mendesak hak istimewa untuk berbagi dalam pelayanan ini kepada umat Tuhan (2 Kor. 8: 3-4).

Paulus memberikan contoh orang Makedonia sebagai orang Kristen yang berkomitmen dan penuh kasih, tidak berpusat pada kebutuhan, keinginan, dan hak mereka sendiri, tetapi pada kebutuhan orang lain.

Prinsip pemberian yang proporsional ini masuk akal, namun untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari tidak sesederhana itu. Mengapa? Karena gaya hidup yang kita pilih mempengaruhi kemampuan kita untuk mempraktikkan kedermawanan.

Dalam sebuah bacaan yang diadaptasi dari penulis Randy Alcorn, editor John Ortberg, Laurie Pederson dan Judson Poling berusaha mengidentifikasi kualitas penting dari gaya hidup yang alkitabiah sehubungan dengan kebiasaan belanja. Alcorn mulai dengan membandingkan dua keyakinan yang berlawan tapi sama-sama tentang uang, yakni materialisme dan asketisme. Catatan tambahan:

Selama Perang Dunia II, ketika bahan bakar sangat berharga, papan reklame dipasang secara rutin untuk bertanya kepada pengendara, “Apakah perjalanan ini diperlukan?” Setiap sumber daya yang digunakan untuk kenyamanan individu adalah satu sumber daya yang lebih sedikit untuk perhatian utama negara, memenangkan perang.

Sebagai orang Kristen, kita juga terlibat dalam pertempuran besar yang membutuhkan sumber daya yang besar. Kita juga harus menyadari bahwa membelanjakan sumber daya untuk kepentingan pribadi kita sendiri menyisakan lebih sedikit sumber daya untuk perhatian utama kerajaan kita.

Kita harus bertanya, “Apakah hal ini perlu?” Apakah hal ini benar-benar berkontribusi pada tujuan saya berada di bumi ini? Apakah hal ini merupakan aset bagi saya sebagai seorang prajurit Kristus?

Peter H. Davids mengatakan, “Gaya hidup yang alkitabiah pasti akan mengakui dirinya bertentangan dengan nilai-nilai dan gaya hidup budaya yang berlaku. Itu diinformasikan oleh pandangan realitas yang berbeda.”

Pandangan tentang realitas ini bukanlah pandangan yang kasar atau keras. Sebaliknya, itu adalah pandangan terhadap kekayaan kerajaan abadi.

Mereka yang menganut pandangan seperti itu dengan tulus berterima kasih atas sukacita yang menyegarkan dan harta benda yang bermanfaat dalam hidup ini.

Namun terlepas dari hal-hal material apa yang mengelilinginya, pandangan tentang realitas ini tetap terfokus pada apa yang benar-benar merupakan kesenangan dan kepemilikan terbesar dalam hidup, baik di sini, maupun di akhirat—kesenangan memiliki Kristus.

Doa: Tuhan, saya ingin hidup dengan cara yang mencerminkan pandangan Alkitab tentang realitas. Bantu saya untuk dapat melakukannya. Terimakasih tuhan.

 

Hak cipta oleh NIV Ste (FICM). DiswardShip Study Bible oleh Zondervan, disadurkan dari crosswalk.com.

Ikuti Kami