Di Balik Keluhan, Ada Banyak Hal yang Dapat Kita Syukuri
Kalangan Sendiri

Di Balik Keluhan, Ada Banyak Hal yang Dapat Kita Syukuri

Claudia Jessica Official Writer
      1574

1 Tawarikh 16:8

Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 5; Wahyu 11; Nehemia 1-3

Saya memulai percakapan sederhana dengan suami saya. Saya berbagi beberapa keluhan yang saya rasakan tentang berbagai proyek yang saya kerjakan. Dia mendengarkan dengan sabar dan kemudian saya menunggu dia setuju dengan semua keluhan saya.

Namun alih-alih setuju, sebaliknya, dia menjawab, “Terkadang saya bertanya-tanya, apakah kamu benar-benar menyukai apa yang kamu lakukan?” Saya bingung dan langsung mengatakan, “Tentu saja! Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”

Nada suaranya lembut, namun kata-katanya memukul keras: “Caramu membicarakannya.”

Sebenarnya, saya menyukai apa yang saya lakukan. Tapi ternyata, kata-kata saya menunjukkan hal yang berbeda. Suami saya lebih banyak mendengarkan hal negatif daripada yang positif. Dia lebih banyak mendengarkan keluhan daripada kepuasan dalam percakapan saya.

Tapi, bukan hanya tentang proyek-proyek itu saja. Terkadang saya mengeluh tentang lalu lintas. Hari berikutnya pekerjaan. Hari berikutnya mengenai jadwal yang padat. Saya mempertanyatakan mengapa ada begitu banyak makanan di rumah yang hanya beranggotakan dua orang. Saya mengerang ketika saya harus meletakkan dudukan toilet (lagi).

Dalam Bilangan 11, kita mendapati orang Israel yang sedang berjalan ke tanah perjanjian. Kehidupan hutan belantara menghadirkan tantangan yang adil, namun Tuhan telah menyediakan setiap langkahnya.

Meski demikian, orang Israel berulang kali mengungkapkan ketidakpuasan mereka, “...orang Israel pun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”” (Bilangan 11:4-6).

Keinginan mereka meredupkan ingatan mereka. Jika Anda tidak tahu ceritanya, Anda akan mengira Mesir adalah Resor lengkap yang menyediakan banyak hal. Namun ketika bangsa Israel di Mesir, mereka sama sekali tidak liburan. Mereka adalah budak di bawah pemerintahan yang menindas dari firaun yang jahat. Belum lama sejak mereka berseru kepada Tuhan untuk mengeluarkan mereka dari sana (Keluaran 2:23).

Kendati demikian, bangsa Israel bukan satu-satunya yang memilih untuk mengeluh tentang apa yang tidak mereka miliki alih-alih bersyukur atas apa yang mereka miliki. Saya sama bersalahnya seperti mereka.

Ketika memproses pengamatan suami saya, saya menyadari: Bagaimana jika semua yang keluhkan diambil?

Mengeluhkan lalu lintas berarti saya memiliki mobil untuk dikendarai ke berbagai tempat. Ketika saya frustasi terhadap pekerjaan saya, artinya saya memiliki tubuh yang sehat yang memungkinkan untuk melakukan pekerjaan saya. Pekerjaan itu juga memberikan penghasilan untuk membantu saya mengurus keluarga.

Jadwal yang padat menunjukkan orang-orang dalam hidup saya dan tujuan yang saya kejar. Pekerjaan rumah tangga menunjukkan saya memiliki rumah untuk diurus. Piring kotor menunjukkan bahwa saya memiliki makanan. Bahkan dudukan toilet yang harus turunkan menjadi pengingat akan suami saya yang luar biasa yang saya doakan selama bertahun-tahun.

Bahkan jika kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, setidaknya selalu ada hal yang bisa kita syukuri. Lain hari, napas lain, keindahan ciptaan Tuhan, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang dapat disyukuri.

Tentu saja, kita semua membutuhkan kesempatan untuk menyuarakan rasa frustrasi kita dengan cara yang sehat. Namun, saya tidak ingin hati saya yang bersyukur dibayangi oleh kata-kata keluhan saya. Alkitab menginstruksikan kita demikian: “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (1 Tawarikh 16:8).

Dalam ayat ini, “mengucap syukur” berarti lebih dari sekedar sikap batin. Ungkapan Ibrani menyiratkan pengakuan terima kasih. Ini sejalan dengan sisa perintah dalam ayat ini untuk “mewartakan” dan “membiarkan seluruh dunia tahu” apa yang telah Tuhan lakukan.

Selain itu kita diharapkan untuk, “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” (Filipi 2:14-15).

Kesaksian kita sebagai pengikut Kristus terikat pada apa yang kita lakukan dan katakan. Saya masih dalam proses, tetapi doa saya adalah bahwa kata-kata saya akan mencerminkan hati saya dan tidak ada keraguan tentang betapa bersyukurnya saya.

Mari kita berdoa, “Ya Tuhan, saya meminta maaf karena lebih banyak mengeluh daripada menghitung berkat yang saya terima. Bahkan dalam keadaan yang menantang, tolong bantu saya untuk tetap fokus pada kebaikan. Dalam Nama Yesus, Amin.”

 

Hak cipta oleh Anitha Abraham, disadurkan dari crosswalk.com.

Ikuti Kami