Omicron Lebih Berbahaya dari Covid Delta? Cek Faktanya Di Sini!

Omicron Lebih Berbahaya dari Covid Delta? Cek Faktanya Di Sini!

Claudia Jessica Official Writer
433

Virus corona varian baru B.1.1.529 atau yang disebut sebagai Omicron menjadi kekhawatiran baru bagi dunia di tengah lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara. Virus corona varian baru ini pertama kali dideteksi di salah satu negara Afrika Selatan (Afsel).

Virus corona varian baru Omicron diketahui telah menyebar ke berbagai negara sejak pekan lalu, diantaranya adalah Belanda, Denmark, Australia, Jerman, Belgia, Inggris, dan Hong Kong.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan Omicron menjadi varian of concern (VOC) atau varian yang mengkhawatirkan lantaran dianggap sangat menular karena memiliki banyak strain atau mutasi jika dibandingkan dengan varian Alpha, Beta, dan Delta.

Sampai artikel ini diterbitkan, belum ada kasus Omicron yang ditemukan di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, “Sampai sekarang belum teramati adanya varian Omicron,” tegas Budi.

Kendati demikian, banyak negara yang sepakat untuk memperketat karantina hingga menangguhkan sementara perjalanan di beberapa negara wilayah Afrika Selatan, termasuk Indonesia.

Berikut ini adalah kumpulan fakta-fakta Omicron yang dikutip dari berbagai sumber:

1. Asal-usul Omicron

Belum jelas darimana virus Omicron berasal, namun professor Afsel, Salim Abdool Karim mengatakan kalau Omicron pertama kali dijelaskan di Botswana dan tak lama kemudian di Afsel.

Dilansir dari cnbcindoneisa.com, para ilmuwan Afsel mengumumkan penemuan tersebut pada 25 November. Saat itu, kasus telah terdeteksi di Hong Kong. Beberapa hari setelahnya, ditemukan infeksi dengan varian tersebut di beberapa negara seperti Israel, Belgia, Inggris, Belanda, Kanada, Italian, dan Portugal.

2. Penularan Omicron

Statistik menunjukkan lonjakan kasus covid-19 yang terjadi di Afsel terus meningkat. Hampir dari seperempat kasus tersebut didorong oleh varian baru, Omicron.

Meski tidak semuanya merupakan kasus Omicron, tingkat positif Covid-19 harian naik pekan lalu dari 3,6% pada Rabu (24/11/2021) menjadi 6,5% pada Kamis (25/11/2021), dan pada Minggu (28/11/2021) mencapai 9,8%. Diperkirakan jumlah sebenarnya dari infeksi harian bisa tiga kali lipat menjadi sekitar 10.000 pada akhir minggu ini.

WHO juga memperingatkan kemungkinan terjadi lonjakan infeksi Covid-19 di masa mendatang serta kekhawatiran memiliki 'konsekuensi parah' pada beberapa area akibat varian baru, yang kemungkinan akan menyebar lebih luas dan menimbulkan risiko global ‘sangat tinggi’.

“Mengingat mutasi ini memiliki potensi mampu melawan sistem kekebalan yang terbentuk, ada kemungkinan potensi penyebaran omicron lebih lanjut di tingkat global,” tulis WHO dalam penjelasan teknis kepada 194 negara anggotanya seperti dikutip dari CNBC International pada hari Senin (29/11/2021).

3. Gejala dan tingkat penularan Omicron

Menurut dokter yang mencurigai gejala Omicron pertama kali mengatakan bahwa, sejauh ini gejala yang ditemukan pada pasien Omicron relative ringan dan dapat dirawat di rumah. Tidak seperti varian Delta, pasien Omicron sejauh ini belum melaporkan kehilangan penciuman atau rasa, dan tidak ada penurunan besar dalam kadar oksigen.

Hingga saat ini, WHO belum jelas mencatat apakah infeksi Omicron menimbulkan gejala yang lebih parah dibanding dengan corona varian lain.

 

BACA JUGA: WHO Umumkan Munculnya Virus Omicron, Indonesia Sigap Lakukan Upaya Pencegahan Ini…

 

4. Ditemukan di Beberapa Negara

Setelah virus Omicron diumumkan, negara-negara di seluruh dunia berusaha untuk mengidentifikasi banyak kasus varian Omicron di negara masing-masing. Dikutip dari CNN International, beberapa negara yang telah melaporkan kasus Omicron ini diantaranya adalah Australia (2 kasus), Austria (1), Belgia (1), Botswana (19), Kanada (3), Republik Ceko (1), Denmark (2), Jerman (3), Hong Kong (3), Israel (1), Italia (1), Belanda (13), Portugal (13), Afsel (77), Spanyol (1) dan Inggris Raya (9).

Untuk itu, WHO mengingatkan agar masyarakat tetap melindungi diri dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku seperti menjaga jarak, memakai masker, membuka jendela atau ventilasi di ruangan, menghindari kerumunan, mencuci tangan, bersin atau batuk dengan mengunakan tisu dan segera mendapatkan vaksin.

Jaga kesehatan ya JCers!

Sumber : berbagai sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami