Anda Percaya Yesus  Atau Percaya Agama?

Anda Percaya Yesus Atau Percaya Agama?

Lori Official Writer
16433
Sebagian orang menganggap bahwa kegiatan keagamaan menjadi salah satu tangga menuju ke surga. Namun apakah percaya dan melakukan tata ibadah agama itu cukup? Agama tidak dapat memenuhi kebutuhan terdalam manusia. Sebaliknya, hal itu hanya akan bisa didapatkan dari hubungan pribadi yang terjalin dengan Bapa melalui anak-Nya, Yesus Kristus.

Banyak orang yang berpandangan keliru bahwa dengan menganut agama yang dibentuk manusia, seseorang sudah dinyatakan sebagai pengikut Kristus. Iman seseorang diukur dari agama yang dianutnya. Padahal untuk menjadi percaya, seseorang harus benar-benar mengalami pertemuan dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, bukan hanya sekedar berpindah dari satu agama ke agama lainnya.

Beberapa alasan ini menjelaskan bahwa percaya Yesus itu lebih penting daripada percaya  hanya pada ajaran agama semata.

1. Kristus adalah pusat kepercayaan

Kristus lebih dari sebuah sistem, tradisi atau keyakinan. Dia adalah pusat dari iman percaya. Dia adalah pribadi yang telah menukarkan dosa-dosa manusia dengan menawarkan dirinya di kayu salib. Dia menunjukkan kepada kita bahwa Dia dapat menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya, dan menjadi jalan keselamatan menuju surga. Dia menawarkan dirinya sebagai hadiah bagi siap saja yang percaya kepada-Nya (Yohanes 20: 24-31). Jadi, orang percaya bukanlah orang yang mengaku masuk Kristen, tetapi orang yang mengalami pertemuan dengan Tuhan dan merasakan perubahan dalam hidupnya.

 

Baca Juga: Percaya Yesus, Belum Tentu Masuk Sorga

 

2. Agama adalah sesuatu dilakukan karena sudah percaya

Kristen adalah agama. Kristen adalah sebuah lembaga yang dibetuk sebagai identitas komunitas yang orang-orang percaya. Lewat agama, orang-orang yang sudah percaya diajak untuk mengalami proses pembaharuan dengan menjalankan beragam pelajaran agama, dibaptis dan menerima komuni. Agama bisa dibilang menjadi sebuah rangkaian tradisi, ritual, upacara yang dikehendaki Tuhan sebagai bentuk penghormatan orang percaya kepada Tuhan yang dipercayainya.

Sayangnya, orang Farisi adalah orang-orang yang kita kenal taat dengan Hukum Taurat dan melakukan ibadah namun tidak percaya kepada Yesus. Mereka membenci-Nya bukan hanya karena Ia melanggar tradisi mereka (Matius 15: 1-9), tetapi karena Ia melihat orang-orang Farisi telah meletakkan hatinya kepada agama bukan kepada Tuhan.

 

3. Agama tidak mengubah hati

Yesus membuat perumpamaan bahwa orang-orang Farisi ibarat mesin pencuci piring yang hanya membersihkan bagian luar piring sementara meninggalkan kotoran di bagian dalamnya. Yesus berkata, “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? (Lukas 11: 39-40)”.

Yesus tahu bahwa seseorang bisa mengubah gambar tanpa mengubah tindakannya (Matius 23: 1-3). Dia tahu bahwa kepercayaan agama dan upacara tidak dapat mengubah hati. Ia menegaskan bahwa seseorang yang paling religius sekalipun tidak akan melihat Kerajaan Allah, apabila ia masih belum dilahirkan kembali dari Roh (Yohanes 3: 3).

 

Baca Juga :  Hitler Juga Percaya Yesus

 

4. Agama hanya melihat hal besar tanpa melihat hal yang paling esensi

Dalam Lukas 11: 42, Yesus menegaskan bahwa orang-orang Farisi kerap mengabaikan keadilan dan kasih Allah dan hanya memfokuskan diri pada hal-hal besar dan mengabaikan hal lain yang harus dilakukan. Yesus mengingatkan kebiasaan kita yang suka membuat aturan dan wajib melakukannya. Bukan seberapa besar dan banyaknya kita berbuat hal benar, tetapi seberapa banyak kita peduli akan keadilan dan kasih.

 

5. Agama menjadi selubung

Yesus berkata, celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi! Orang-orang agamawi hanya melihat apa yang terlihat, seperti menganggap baik jika orang-orang menghadiri ibadah keagamaan dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan peraturan keagamaan. Tetapi abai dengan perilaku dan tindakan mereka dalam hal-hal inti, seperti cara hidupnya, hubungannya dengan istri, anak dan orang lain serta perilakunya dalam kehidupan sosial. Yesus tahu, bahwa kita sering melupakan hal-hal yang lebih esensi dan hanya melihat kebenaran dari kuantitas melakukan ritual keagamaan.

 

Baca Juga: Gak Nyangka! Dua Lembar Kertas yang Terbang di Pintunya Bikin Pria Iran Ini Percaya Yesus

 

6. Agama membuat seseorang menipu diri sendiri                                

Orang-orang Farisi membanggakan dirinya dengan agama yang dianutnya dan standar kebenaran yang harus dilakukan oleh manusia. Agama memang mengajarkan tentang mengasihi sesama. Namun pada praktiknya, seperti orang-orang Farisi, mereka justru ingin berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Perkataan lidah tidak selamanya berasal dari hati!

 

Sumber : Discoveryseries.org | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami