Marahi Suami Mabuk Malah Dipenjara, Apa yang Harusnya Istri Kristen Lakukan?

Marahi Suami Mabuk Malah Dipenjara, Apa yang Harusnya Istri Kristen Lakukan?

Lori Official Writer
313

Ibarat jatuh ditimpa tanggal pula. Beginilah gambaran keadaan yang dihadapi wanita asal Karawang Valencya (45) setelah dituduh melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap suaminya Chan Yung Ching.

Valencya dilaporkan oleh suami sendiri karena dinilai melakukan kekerasan psikis yaitu memarahi Chan karena pulang dalam keadaan mabuk. Dia pun tak habis pikir jika ternyata tindakannya memarahi suami dijadikan barang bukti untuk menuntut dirinya.

Kasus yang menyeret dirinya kepada hukum mendorong Valencya mengingatkan semua wanita-wanita Indonesia untuk tidak memarahi suami mereka saat pulang dalam keadaan mabuk.

“Ini perhatikan ibu-ibu se Indonesia, tidak boleh marahi suami kalau suaminya pulang mabuk-mabukan. Harus duduk manis nyambut dengan baik, marah sedikit dipenjara,” ucap Valencya setelah menghadiri proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Karawang, Kamis (11/11).

 

Baca Juga: Alami KDRT, Haruskah Dipublikasikan di Sosial Media?

 

Meski begitu, prahara rumah tangga Valencya rupanya sudah berlangsung lama. Berawal sejak dirinya melaporkan sang suami atas tuduhan penelantaran istri dan anak pada tahun 2020 silam. 

Lalu kemudian pria asal Taiwan tersebut balik melaporkan Valencya karena terbukti mengusir dan memarahinya dengan kata-kata kasar yang menyebabkan sang suami mengalami gangguan psikis. Lantaran hal ini, Valencya dijatuhi hukuman 1 tahun penjara.

 

Sikap Istri Dalam Rumah Tangga

Percekcokan dalam rumah tangga bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya adalah karena kelakuan buruk pasangan. Misalnya, mabuk-mabukan dan perselingkuhan. 

Berada di posisi menjadi seorang istri memang tidak mudah. Karena dalam Alkitab, seorang istri memiliki kewajiban untuk menghormati suami. 

Tapi pertanyaannya, apakah istri masih harus menghormati suami yang suka mabuk-mabukan atau tidak bertanggung jawab atas keluarganya?

Walaupun sulit, namun kisah kesaksian Hanna Hutagalung yang ditayangkan di Solusi TV jadi salah satu contoh perjuangan seorang istri menghadapi suami yang suka mabuk-mabukan, selingkuh dan melakukan KDRT.

Meski dilukai secara fisik, dikhianati dan tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, Hanna tetap bertahan. Hingga akhirnya, sang suami jatuh sakit dan Hanna tetap setia merawat hingga ajal.

 

Baca Juga: Hanna Hutagalung: Penderitaan Istri yang Tidak Dianggap Oleh Suami

 

Secara logika, semua wanita dalam posisi sebagai istri pasti tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh Hanna. Namun, dia belajar untuk berjuang dan mengampuni sang suami sebelum akhir hayatnya. 

Tapi tahukah Anda, perjuangan Hanna dalam menghadapi suaminya yang berperilaku buruk tersebut menggerakkan Tuhan untuk memberkati hidupnya. 

Sebagaimana disampaikan dalam Kolose 3: 19, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Ini adalah inti dari sebuah pernikahan. 

Saat suami benar-benar memahami tanggung jawab ini, tidak akan ada pertengkaran dan perkelahian. Jadi tak heran jika ada banyak istri yang mencoba membela haknya karena ternyata suami gagal mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Ada juga banyak suami yang memperlakukan istri dengan kasar karena ternyata istri tidak menghormati suami sebagaimana kita menghormati Tuhan.

Atau bisa jadi masalah dalam rumah tangga muncul karena kedua pasangan tidak menjalankan tanggung jawabnya. Dalam kondisi ini, keduanya perlu mengevaluasi diri. Atau jika salah satunya gagal (suami atau istri), maka pihak yang disakiti perlu mencari pertolongan dari pihak yang dipercaya untuk menjembatani masalah. Sehingga konflik bisa diselesaikan dengan baik.

Dari kasus ini, mari belajar untuk menghadapi konflik rumah tangga dengan cara yang lebih bijaksana dan diselesaikan dengan dialog. Sehingga tindakan saling lapor bisa dihindari.

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” – Kolose 3: 14

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami