Kepala Sekolah Ini Lestarikan Toleransi Dengan Bangun 3 Rumah Ibadah di Sekolah

News / 4 November 2021

Kalangan Sendiri

Kepala Sekolah Ini Lestarikan Toleransi Dengan Bangun 3 Rumah Ibadah di Sekolah

Lori Official Writer
1298

Sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah baru-baru ini menjadi viral karena memiliki tiga rumah ibadah yang berbeda di dalam sekolah tersebut yaitu musholla untuk umat Islam, gereja untuk umat Kristen dan pura untuk umat Hindu.

Awalnya, SMA Negeri 2 Palangkaraya ini hanya memiliki musholla yang biasa digunakan oleh para siswa Muslim untuk sholat dan menjalani mata pelajaran agama. Sementara tidak ada gereja dan pura yang tersedia untuk siswa Kristen dan Hindu, yang terbilang cukup banyak di sekolah tersebut.

Badah merasa prihatin menyaksikan para siswa beragama Kristen dan Hindu kerap berdesakan dan harus bergantian ruangan saat menjalani mata pelajaran agama. Karena itu, dia memutuskan untuk merenovasi ruangan kosong di sekolah tersebut untuk dijadikan sebagai gereja dan pura mini.

 

Baca Juga: 2021 Berlin Mulai Pembangunan The House Of One, Satu Rumah Ibadah Untuk Tiga Agama

 

Keberadaan ketiga rumah ibadah inipun dimanfaatkan oleh siswa SMA Negeri 2 Palangkaraya tersebut untuk menjalani ibadahnya.

“Saya selalu mengajarkan kepada siswa-siswi dalam memperkuat toleransi antar sesama. Karena di sekolah itu, murid-muridnya memiliki agama yang beragam,” ungkap Badah.

 

Diprotes Warga Karena Dianggap Berisik

Siapa sangka niat baik Badah Sari rupanya mengundang respon yang kurang baik dari masyarakat. Banyak warga yang memprotes suara-suara musik dan ibadah dari gereja mini tersebut.

Namun protes tersebut berhasil diredakan oleh Kepala Sekolah Badah dengan memberikan pengertian kepada warga soal toleransi. 

“Mereka keberatan dan bilang bikin ribut, tapi saya berikan mereka pemahaman bahwa kita ini hidup di NKRI, dengan beragam agama serta suku, tanpa harus membeda-bedakan. Saya juga sempat berikan perumpamaan, yaitu seperti agama kita (Islam), di masjid kan juga sering mikrophone (adzan, pengajian atau lainnya) terdengar kemana-mana, apa ada yang protes,” ujar Badah.

Pemahaman inilah yang membuat warga setempat memilih tak lagi mempersoalkan hal tersebut. Sejak saat itu pula, isu soal suara ribut yang muncul dari rumah ibadah sekolah SMA Negeri 2 Palangkaraya ini tidak lagi menjadi masalah.

 

Rumah Ibadah Jadi Simbol Toleransi

Hingga saat ini, siswa SMA Negeri Palangkaraya masih tetap menggunakan rumah ibadah tersebut untuk menjalankan ibadahnya.

Keberadaan rumah ibadah ini juga telah dianggap sebagai simbol toleransi antarumat beragama.

 

Baca Juga: Bukit Masbait, Bukti Hidupnya Toleransi Solid di Tengah Masyarakat Maluku

 

Tanpa kesadaran dan pemahaman yang benar dari mantan Kepala Sekolah Badah Sari, keberadaan tiga rumah ibadah ini tidak akan ada hingga hari ini. Tentu saja kita membutuhkan orang-orang yang berpikiran terbuka seperti ini. Sehingga perbedaan yang ada di tengah kehidupan sosial di Indonesia tidak lagi menjadi masalah yang harus dipersoalkan. 

Baik umat Muslim, Kristen maupun agama lainnya patut memahami bahwa perbedaan harus diterima dan bukan ditolak.

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami