Hatiku Hancur dan Sedih Saat Anakku Divonis Autis – Debi Sianturi

Hatiku Hancur dan Sedih Saat Anakku Divonis Autis – Debi Sianturi

Lori Official Writer
315

Anak kedua kami Joshua merupakan anak yang ditunggu. Jarak usianya lima tahu dengan kakaknya, anak pertama kami. 

Bahkan untuk kehamilan yang kedua ini kami harus melakukan berbagai program. Karena hampir frustrasi, kami sempat ingin menjalani program bayi tabung. Tetapi sebelum kami melakukannya, saya akhirnya hamil juga. Bagi saya itu adalah mujizat atau hadiah dari Tuhan.

Sebagai orangtua, tentu saja saya dan suami memiliki harapan supaya anak kedua kami tumbuh dengan baik seperti anak-anak lainnya.

Tetapi kenyataan berkata lain, di usia dua tahun anak kedua kami Joshua divonis oleh dokter mempunyai ciri-ciri autistik.  

Saat itu dia kehilangan kemampuan berbicara, kehilangan indra pendengaran dan tidak menunjukkan kontak mata dengan siapapun. Hal ini membuat kami mulai bertanya-tanya hingga akhirnya kami membawa dia ke dokter psikiatris anak dan juga dokter anak. Dari hasil pemeriksaan tersebut kami dikejutkan dengan vonis dokter.

 

Baca Juga: Kisah Nyata Bocah yang Sembuh dari Autisme

 

Vonis tersebut sangat menakutkan. Apalagi waktu itu pengetahuan saya tentang autisme sangat minim. Jadi saya kaget, takut dan gak tahu harus berbuat apa. Kita hanya menerima tuntunan dari dokter.

Menurut dokter, penanganan untuk Joshua harus dilakukan dengan terapi, baik untuk bicara, ABA (Applied Behaviour Analysis) dan terapi-terapi lainnya. 

 

Terpuruk Dengan Keadaan Joshua

Setiap hari kami selalu menangis. Sedih menyaksikan dia harus seperti itu. Pada saat itu semuanya campur aduk antara marah, pahit, bertanya-tanya dan bahkan terlalu muluk-muluk mengharapkan kesembuhan anak ketika dinyatakan cacat.

Sebagai orangtua yang tidak punya pengetahuan tentang autisme, kami malah harus terlibat untuk mengurus dia. Sementara kami juga harus memberikan perhatian kepada anak kami yang lain dan juga pekerjaan kami. 

Ada banyak hal-hal yang kami tidak tahu tentang terapi autisme. Bahkan hasilnya sendiri kami tidak tahu seperti apa. 

 

Menyalahkan Diri Sendiri

Sebagai orangtua, kami mulai melakukan instropeksi sendiri. Kami mulai menganalisis salahnya dimana? Kenapa anak kami jadi seperti ini? Sebagai orangtua, itu memang sangat manusiawi. Kami mulai bertanya-tanya entah karena kutuk keturunan atau karena dosa-dosa yang kami lakukan sebelumnya. 

Kami bahkan memutuskan semua hal yang menurut kami sebagai pemicu dari Joshua menjadi autis. Di situlah kami harus menjadi orangtua yang tangguh.

 

Baca Juga: Terlahir Cacat Penglihatan Tak Halangi Jordy Wong Sidharta Capai Sukses di Usia Muda

 

Sebagai ibu yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, saya merasa perlu mengikuti komunitas autisme di Jakarta. Ketika kami mempunyai kelompok Parents Support Group Association akhirnya kami membuat sebuah survey tentang cita-cita para ibu dengan anak berkebutuhan khusus.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Memang terdengar muluk-muluk, tetapi saya menulis cita-cita saya untuk Joshua, bahwa dia akan mendapat gelar S1 dari Amerika, S2 dari Amerika dan S3 dari Amerika. Itu mungkin terdengar seperti burung pungguk merindukan bulan. Ibu-ibu lain bahkan seolah mencemooh saya.

Tetapi secara khusus saya berdoa ke Tuhan dan bilang, “Tuhan Engkau adalah Tuhan yang besar. Tuhan yang ajaib. Engkau bisa menyembuhkan Joshua dari kelainan autisme-nya secara instan.” Tapi saya juga bilang ke Tuhan, “Kalau memang Tuhan tidak bersedia melakukan suatu mujizat yang spontan, mujizat yang instan, seperti orang buta dicelikkan matanya, orang bisu bisa bicara, orang lumpuh berjalan, Tuhan maunya ini adalah mujizat proses, untuk pembentukan karakter saya, silahkan Tuhan.”

Saya sama sekali tidak tahu hasilnya akapn seperti apa. Saya tidak tahu apakah Joshua akan sukses dan berhasil. Tetapi kami harus menyangkali mata kami. Kami harus menyangkali apa yang kami lihat dengan mata. Jadi saya pikir itu yang disebut dengan iman. Karena iman melihat apa yang tidak kelihatan. Jadi kami melatih iman kami melalui Joshua.

 

Baca Juga: Terapi-Terapi Dasar Bagi Anak Penyandang Autisme

 

Saya percaya bahwa di dalam segala perkara, Tuhan melakukannya untuk mendatangkan kebaikan bagi kami. Tuhan memang dahsyat. Dia sudah menyelesaikan SMA dan S1-nya di Filipina dimana kampusnya berkolaborasi dengan Amerika. Lalu S2-nya sekarang lulus Desember ini. 

Sebagai orangtua apapun kondisi anak Anda, mungkin anak Anda sekarang ini tidak autisme tetapi mungkin dia anak yang tinggal kelas, mungkin dia anak yang sedang memberontak, usahakan dari mulut orangtua itu jangan keluar kata-kata kutuk. Tapi ucapkanlah kata-kata berkat.

Saya percaya dari mulut orangtua itu ada kuasa. Karena kita adalah wakil dari Tuhan di bumi dan doa kita itu gak akan sia-sia. Daripada kita kuatir, lebih baik kita mendoakan anak kita dan terus memperkatakan berkat sesuai dengan firman Tuhan. Karena ketika segala sesuatunya genap, Tuhan akan bertindak.

Demikian kata firman Tuhan, “Janganlah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu.” – Efesus 6: 4

 

 

Apakah kamu butuh dukungan doa? Hubungi SAHABAT 24 kami melalui kontak Whatsapp 0822 1500 2424 atau klik link doa ini: https://bit.ly/ButuhDukunganDoa

 

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami