Ketika Penderita Virus HIV Seperti Saya Bertobat – Iwan Harto

Ketika Penderita Virus HIV Seperti Saya Bertobat – Iwan Harto

Lori Official Writer
911

Nama saya Iwan Harto. Saya mulai terjerumus kedalam pergaulan bebas karena saya putus sekolah. Saat itu saya mulai bergaul dengan orang-orang yang senasib dengan saya. Karena saya berpikir bahwa mereka akan menghargai saya.

Kadang saya disuruh beli minuman, saya dapat upah. Di situ juga saya ikut minum. Saya ditawari aqua jenis sabu dan di sana saya juga memakai barang haram itu.

Tiap hari disuruh, tiap hari saya pun memakai (narkoba). Sampai saya mulai kecanduan. Seiring waktu, teman-teman sudah tak lagi ada yang mau kasih saya barang itu, uang pun gak ada. Sampai akhirnya saya ajak teman saya mencuri rumah kosong. 

Sayangnya, saat saya mulai mengeluarkan barang ada orang yang mengenali saya. Di hari berikutnya, orang-orang mendatangi saya dan menangkap saya. Di situ saya dipukuli dan dibawa ke pos RT. Di sana saya dihajar babak belur.

Saat itu papa saya dipanggil sama RT dan ditanya-tanya dan dibentak-bentak. Melihat papa saya diperlakukan seperti itu, saya jadi sedih. Papa saya disuruh milih; mau tanggung jawab atau anaknya masuk penjara.

Papa memilih untuk bertanggung jawab. Saya lalu dibawa pulang. 

Tapi kejadian itu bukannya membuat saya bertobat dan menyesal. Sebaliknya, saya malah semakin menjadi-jadi. Saya mencari cara bagaimana supaya orangtua saya tidak tahu apa yang saya lakukan. 

 

Baca Juga: Gavrilla Setiawan, Masih Muda Tapi Divonis Kanker Stadium 4

 

Saat itu terbersit dalam pikiran untuk keluar dari rumah. 

Sejak keluar dari rumah, setiap hari saya melakoni kejahatan jadi perampok dan maling. Hasilnya saya pakai untuk minum-minuman ke diskotik dan sewa PSK. Sampai dia jadi pacar saya dan tinggal bareng sama saya.

Saya jalani kehidupan seperti itu selama tiga tahun. 

Walau begitu, ada perasaan takut yang muncul dalam hati saya. Di satu sisi, saya melihat teman saya sendiri ditembak mati saat tertangkap polisi. Saat itu dia melawan dan polisi tembak mati dia ditempat. 

Kejadian itu yang membuat saya menjadi paranoid. Saya berpikir saya tidak mau hidup saya seperti ini terus. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pergi jauh. Saya juga mau berhenti sebagai pecandu. Walaupun ada keinginan untuk mau memakai narkoba, saya coba tahan dengan mencari kesibukan. Sampai akhirnya saya bisa melewati masa-masa itu.

Selama hampir 2 tahun di Surabaya, saya menjalani hidup dengan baik tanpa narkoba. Saya juga bergaul dengan orang-orang baik.

 

Baca Juga: Cita-cita Kuliah Tak Tercapai, Gracella Fidelia Kecewa Sama Tuhan

 

Tapi suatu hari, saya jatuh sakit. Badan saya mulai demam, pusing dan mual. Sampai akhirnya saya dirawat di rumah sakit. Setelah beberapa waktu sembuh, saya kembali sakit lagi.

Saat diperiksa, dokter menemukan kejanggalan. Dia meminta saya untuk cek darah. Setelah hasilnya keluar, dokter mendiagnosa saya menderita virus HIV. 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami