Pertumbuhan Iman Sama Seperti Berolahraga

Pertumbuhan Iman Sama Seperti Berolahraga

Claudia Jessica Official Writer
      631

Lukas 6: 30

Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 87; Lukas 8; Yeremia 13, 22

Setiap saya, saya pergi ke gym dan menghabiskan waktu untuk melakukan beberapa olahraga setelah selesai bekerja. Saya suka work out. Itu adalah adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan, dan menghilangkan stres di saat yang bersamaan.

Rutinitasku sangat sederhana. Saya mulai dengan berlari di atas treadmill, kemudian berkeliling di bagian bebas untuk berbagai latihan. Yang terakhir, saya mencoba untuk berenang mengitari kolam beberapa kali. Ketika semua itu selesai, saya selalu merasa lelah dan nyeri. Namun itu bagus karena saya menyelesaikan serangkaian olahraga yang saya tetapkan.

Suatu ketika, teman saya mengajak untuk berolahraga bersama. Saat kami berjalan di sekitar ruang angkat beban, teman saya berhenti di bench press dan meletakkan dua beban besar di sisi bar. Saya menjadi gugup. Saya memang sudah melakukan bench press sebelumnya, tapi tidak pernah dengan beban sebanyak itu. Saya tidak yakin bisa mengangkatnya. Harga diri menguasai diriku. Alih-alih mengatakan sesuatu untuk memberi pengertian, saya menguatkan diri dan mengangkat mistar dengan seluruh kekuatan saya.

Betapa mengejutkannya, ternyata beban itu tidak seberat yang saya bayangkan. Benar bahwa mengangkatnya membutuhkan usaha lebih dari biasanya, tapi saya menyadari bahwa olahraga rutin saya membuat saya menjadi lebih kuat. Saya telah meremehkan kekuatan saya sendiri.

Saya kira orang Kristen terkadang memiliki masalah yang sama dengan iman mereka. Kita mengatakan kepada diri kita bahwa kita belum siap, dan kita membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Kita meremehkan kemampuan kita untuk melayani Tuhan. Luangkan waktu sejenak untuk membaca kutipan dari kitab Kisah Para Rasul ini.

Kisah Para Rasul 18: 1-3 “Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.”

Kisah Para Rasul menjelaskan bahwa ketika Paulus melayani di Korintus, Akwila dan Priskila membuka rumah mereka, membantu pengajarannya, bahkan mengikutinya dalam beberapa perjalanannya. Sekarang, baca lagi ayatnya. Akwila dan Priskila bukanlah sesuatu yang istimewa, mereka adalah pembuat tenda.

Jika seseorang memiliki alasan untuk berpikir bahwa mereka tidak siap untuk pelayanan, itu adalah mereka. Sebaliknya, mereka memberikan apa yang mereka miliki sambil melayani di mana mereka bisa dan Tuhan melakukan hal-hal yang menakjubkan melalui mereka.

Jadi, daripada bertanya-tanya apakah Anda siap untuk melayani, tanyakan pada diri Anda sendiri: apa yang dapat Anda lakukan untuk melayani?

 

Hak cipta oleh Ryan Ducan, disadur dari crosswalk.com.

Ikuti Kami