4 Pesan Moral Squid Game yang Tidak Kamu Pikirkan Sebelumnya

4 Pesan Moral Squid Game yang Tidak Kamu Pikirkan Sebelumnya

Claudia Jessica Official Writer
1351

Peringatan, konten ini mengandung spoiler.

Squid Game, film bergenre thriller yang saat ini menjadi sorotan lantaran menempati peringkat pertama di berbagai negara. Menceritakan tentang sekelompok orang yang melakukan survival death, Squid Game berhasil mengangkat berbagai isu kemanusiaan yang relevan dengan keadaan saat ini. Seperti diskriminasi perempuan, hubungan keluarga yang hancur, penjualan organ, perlakuan tidak adil di dunia kerja, dan masih banyak lagi.

Squid Game terdiri dari 6 permainan yang biasa dilakukan oleh anak-anak Korea. Namun pada awalnya, para peserta tidak tahu bahwa mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka dalam bermain game tersebut. Setelah mengetahui bahwa nyawa mereka menjadi taruhan dan menyelesaikan game pertama, game sempat dihentikan dan peserta kembali ke kehidupan masing-masing.

Sayangnya, 93% dari peserta yang bertahan dari game pertama memilih untuk kembali ke Squid Game lantaran dorongan ekonomi. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan uang agar bisa membayar hutang mereka.

Meski film ini terlihat sadis, rupanya ada begitu banyak pesan moral yang tersirat di dalamnya.

1. Hutang yang Menghancurkan Keluarga

Secara garis besar, seluruh peserta Squid Game adalah orang-orang yang memiliki hutang dalam jumlah yang fantastis bahkan kesulitan untuk membiayai hidup mereka sendiri. Tak terkecuali Giheon dan Sangwoo yang merupakan pemain inti. Dengan alasan tersebut, 456 peserta rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan uang sebesar 45,6 miliar Won agar dapat melanjutkan hidup mereka.

BACA JUGA: Kamu Alami Kesulitan Keuangan? Atasi dengan 6 Cara Ini

2. Keserakahan

Setelah diberhentikan secara tidak terhormat setelah bekerja selama 10 tahun, Giheon menjadi seorang pecandu judi yang rela menghabiskan banyak uang demi memenuhi hasratnya. Kebiasaan buruknya ini membuat ia harus berpisah dengan istri dan anak kesayangannya.

Teman semasa kecil Giheon, Sangwoo adalah seseorang yang cerdas. Ia adalah kebanggaan di kotanya bahkan berhasil lulus dari perguruan tinggi paling ternama di Korea. Sangwoo memiliki pekerjaan baik, namun ia dibutakan oleh keserakahannya dalam berinvestasi. Sangwoo menggelapkan uang perusahaan bahkan menjadikan rumah dan toko ibunya sebagai jaminan. Sayangnya investasi tersebut tidak berjalan lancar dan mendatangkan kerugian. Akibatnya, Sangwoo dilaporkan ke polisi dan menjadi buronan.

3. Kerjasama dan Rasa Percaya

Ketika menghadapi situasi genting, kerjasama menjadi hal penting yang membuat mereka mampu bertahan hidup. Pada game pertama, dimana pemain tidak boleh bergerak ketika “lampu merah,” Giheon yang terpeleset dan hampir tewas diselamatkan oleh Ali yang menahannya agar tidak bergerak.

Demikian juga yang terjadi pada game tarik tambang. Tanpa kekompakan seluruh anggota, tim bisa kalah dengan mudah. Satu momen yang menarik dalam kerja sama adalah dimana tim Giheon dan Sangwoo hampir kalah, tetapi Sangwoo memiliki ide gila untuk menang. Jika kekompakkan tim mereka tidak berjalan dengan lancar, maka ide gila Sangwoo untuk “maju tiga langkah” demi membuat pertahanan lawan goyah, dapat menjadi petaka bagi seluruh timnya dan terjatuh dari arena pertandingan.

4. Pentingnya tujuan

Pada permainan kelereng, pemain harus membentuk tim dua orang. Para pemain lantas membentuk tim dengan orang yang paling mereka percaya. Siapa sangka, mereka justru harus mengalahkan satu sama lain dimana yang kalah akan dibunuh oleh staff pekerja.

Kang Saebyeok dan Jiyeon adalah dua orang gadis yang menjadi dekat usai berbincang banyak hal. Saebyeok berharap jika memenangkan game, ia bisa membeli rumah untuk tinggal bersama adik dan membawa ibunya yang ada di Korea Utara agar bisa tinggal bersama dengannya di Korea Selatan. Sedangkan Jiyeon adalah seorang anak yatim piatu yang tidak memiliki tujuan sekalipun nanti berhasil memenangkan pertandingan.

Jiyeon dan Saebyeok memutuskan untuk memainkan pertandingan lemparan kelereng dengan aturan yang paling dekat ke tembok akan menjadi pemenangnya. Saebyeok melemparkan kelerengnya dekat ke tembok, sedangkan Jiyeon hanya menjatuhkan kelereng di tempatnya berdiri. Jiyeon rela berkorban demi Saebyeok yang memiliki impian untuk berkumpul kembali dengan keluarganya, sedangkan Jiyeon tidak tahu harus melakukan apa sekalipun ia bisa menjadi pemenang.

BACA JUGA: Hidup Bukan Hanya Untuk Jadi Juara

Jika saja para peserta tidak memiliki banyak hutang dan mampu mengelola apa yang mereka miliki dengan baik, mungkin mereka tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan uang tersebut. Untuk itu, kita perlu menjaga hati kita agar tidak menjadi serakah, berusaha bertanggung jawab, membahagiakan orang yang kita sayangi sebelum mereka dipanggil oleh Tuhan. Kita memerlukan bimbingan Tuhan untuk menuntun hidup kita.

Sumber : jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami