Manuel Raintung: Gereja Harus Rawat Relasi yang Baik dengan Masyarakat

Manuel Raintung: Gereja Harus Rawat Relasi yang Baik dengan Masyarakat

daniel.tanamal Official Writer
321

Wakil Sekretaris di FKUB Provinsi DKI Jakarta, Pendeta Manuel Raintung mendorong gereja-gereja di Indonesia pada umumnya, dan di ibukota khususnya untuk merawat relasi dan komunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar di lingkungan masing-masing, agar setiap kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam sebuah seminar edukasi umat gereja, “Aset Gereja Sebagai Saluran Berkat bagi Masyarakat” yang disiarkan secara daring bersama Fungsionaris Ketua IV/V Majelis Sinode GPIB Adrie P.H. Nelwan, Ketua Majelis Jemaat GPIB Nazareth Jaktim Pdt Henry B. Jacob dan Ketua Majelis Jemaat GPIB Penabur Jaktim Pdt Erick E. Hethari. Dalam bincang tersebut Raintung menceritakan kesuksesan dalam merawat relasi dan komunikasi di masyarakat akan membuat proses-proses penting di gereja dapat terpenuhi, salah satunya adalah surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Dalam posisi sebagai Ketua Majelis Jemaat GPIB Kharis, Jakarta Timur, bersama-sama dengan seluruh perangkatnya, Raintung berhasil dalam proses penerbitan IMB, sehingga GPIB Kharis dapat memiliki surat tersebut dalam penantian selama 27 tahun. “Kuncinya, jalin relasi yng baik dimanapun berada dari tingkat paling bawah RT, RW dan Lurah. Saya selalu menjadikan RW itu sahabat,” ujarnya.

Raintung secara khusus mengajak setiap gereja untuk menjalin relasi dengan pemerintah setempat secara rutin, dan jangan hanya kalau ada kepentingan saja. Kehadiran gereja di tengah masyarakat penting sekali dan dibutuhkan. “Kadang kala gereja baru hadir atau mau berurusan dengan masyarakat kalau ada perlunya,” tandasnya.

Bagi Raintung, menjalin kekerabatan dengan siapapun menjadi kunci dalam pergauluan di tengah masyarakat dengan aneka latar belakang. Semua elemen masyarakat harus menjadi perhatian agar tercipta relasi yang baik. “Kalau saya, Gubernur saja saya temani,” ujarnya sembari mengajak warga gereja untuk inklusif, tidak memisahkan diri dengan masyarakat sekitar. Tembok gereja tidak boleh menjadi pemisah dengan masyarakat. Tembok gereja tembus pandang, sehingga orang bisa melihat sesungguhnya kedamaian terjadi di gereja dan menjadi berkat.

Sumber : Daniel Tanamal - Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami