Jangan Takut! Kamu Dirancang Tahan Uji Terhadap Badai

Jangan Takut! Kamu Dirancang Tahan Uji Terhadap Badai

Lori Official Writer
      1096

2 Korintus 4: 8-9

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 70; Ibrani 4; 2 Raja-raja 20-21 

“Seekor burung yang takut menghadapi turbulensi tidak akan pernah tahu seberapa tinggi ia bisa terbang,” kata filsuf Afrika Matshona Dhliwayo. 

Pernyataan itu membuat saya menghargai rubulensi, setelah keluar dari penerbangan non-stop selama 15 jam. Pasalnya, untuk mencapai tujuan akhirnya, sebuah pesawat harus menghadapi turbulensi. Tapa turbulensi, pesawat tidak bisa lepas landas. 

Selama masa-masa turbulensi, Kapten akan menyampaikan peringatan. “Tuan dan nyonya, Kapten telah menyalakan tanda sabuk pengaman. Saat ini kita melintasi zona turbulensi. Silakan kembali ke tempat duduk Anda dan kencangkan sabuk pengaman Anda. Terima kasih.”

Sekalipun turbulensi sama sekali tidak nyaman, pesawat sebenarnya sudah dirancang untuk menahan hantaman turbulensi tersebut. Pensiunan maskapai Delta Kapten Bill Watts menyampaikan fakta seputar pesawat. Katanya, “Pesawat memiliki struktur yang sangat kokoh. Pesawat dibangun dengan standar keamanan yang ekstrim. Dan jika Anda melihat semua statistik, Anda akan melihat bahwa sangat sekali sebuah pesawat kecelakaan saat menghadapi turbulensi.” 

Lalu apa yang membuat para penumpang merasa tidak nyaman? Penumpang tidak mengetahui bahwa turbulensi adalah bagian dari proses dan hal itu tidak akan merugikan kita, kecuali sabuk pengaman kita dilepas.

Dari cara kerja pesawat saya menyadari bahwa sebagai orang percaya kita juga dibangun untuk menahan badai. Kebenaran ini membantu kita untuk tidak takut dengan kondisi apapun. Jika turbulensi atau badai kehidupan membuat kita takut, kita tidak akan pernah naik ke level kehidupan kita berikutnya. 

Yang Tuhan inginkan dari kita adalah supaya kita selalu mengenakan sabuk pengaman saat badai itu datang. 

Ada 3 sabuk pengaman yang akan membuat kita tetap aman saat di tengah badai:

1. DNA Allah ada di dalam kita

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” – Kejadian 1: 27

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” - Mazmur 139: 13

2. Firman Tuhan Menuntun Kita

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”  - Mazmur 119: 105

3. Roh Kudus Adalah Penolong Kita

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya...” – Yohanes 14: 16

Jadi bagaimana kita menerapkan kebenaran sederhana ini saat badai kehidupan datang? Pertama, kita perlu memperkatakan kebenaran ini dengan lantang kepada diri kita sendiri. Saat kita mendengar apa yang kita ucapkan, hal itu akan membangun iman dalam diri kita untuk berani menghadapi badai.

Kedua, kita perlu bersyukur mengetahui bahwa badai akan berlalu. Ketiga, kita perlu memuliakan Tuhan lewat pujian kita. Jadi, marilah kita memanfaatkan badai yang datang untuk memperkuat iman kepada Tuhan dan jangan lupa untuk selalu mengencangkan sabuk pengaman rohani kita setiap saat.

 

Hak cipta Towera Loper, digunakan dengan izin CBN.

 


Kamu diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

DAFTAR

Ikuti Kami