Ambisi Sukses Saya Runtuh Seketika Karena Penyakit Mematikan - Felicia

Ambisi Sukses Saya Runtuh Seketika Karena Penyakit Mematikan - Felicia

Lori Official Writer
2116

Ambisi terbesar saya adalah saya ingin mengalahkan orang lain. Saya ingin menjadi nomor satu. Pokoknya saya ingin terlihat hebat. Saya juga menomorsatukan pekerjaan saya dibandingkan Tuhan.

Setiap hari, saya bekerja dari pagi sampai tengah malam. Tanpa saya sadari pekerjaan saya di bidang bisnis marketing membuat saya lupa waktu.

Namun di luar dari yang saya pikirkan, kesehatan saya semakin memburuk di pertengahan tahun 2019 yang lalu. Secara gak langsung saya tidak menyadarinya.

Karena kehidupan saya dari keluarga susah, saya gak mau hidup saya juga susah jadinya saya tetap memaksakan diri saya untuk terus bekerja. Saya masih tetap melakukan kegiatan saya. Pergi traveling ke luar negeri.

Di bulan November tahun 2019, saya masih ingat saya sudah tidak lagi bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Saya akhirnya pergi memeriksakan diri ke dokter. Dokter A bilang saya sakit maag. Lalu saya pergi lagi ke dokter kenalan suami saya. 

Akhirnya kami diperkenalkan kepada salah satu dokter internist ternama. Lalu dokternya mendiagnosa bahwa saya mengalami sakit jantung.

Dari sana saya dirujuk ke EKG. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa detak jantung saya mencapai 159. Tapi dokter kembali mendiagnosa bahwa saya mengalami penyakit tiroid. Akhirnya dokter merujuk saya untuk tes darah. Tetapi hasil pemeriksaan tersebut menemukan jika kondisi saya normal.

Masa-masa itu adalah titik terendah dalam hidup saya. Karena saya gak tahu penyakit saya apa. Selama saya sakit berbulan-bulan, terus terang saya tidak pernah melihat cermin. Saya down karena saya melihat diri saya tampak sangat tua, kurus dan jelek, tidak seperti saya yang dulu.

Jadi hari itu saya memutuskan saya tidak mau bercermin lagi.

 

Baca Juga: Aku Dibebaskan Dari Kuasa Kegelapan- Jenny Kusuma

 

Alami Gangguan Pikiran

Akhirnya saya memutuskan untuk mencari dokter psikiater. Karena saya gelisah dan tidak bisa tidur. Saya menceritakan semua kondisi saya kepada dokter tersebut dan ternyata saya baru tahu jika penyakit yang saya derita muncul dari kondisi yang saya buat sendiri.

Jadi saya merasa penyakit saya ini muncul dari kepahitan. Sehingga saya mencari tahu siapa orang yang saya benci, siapa orang yang punya masalah dengan saya. Sama akhirnya saya menyadari bahwa itu bukan masalah dari penyakit saya.

Waktu itu saya ingat, tanggal 21 Desember 2019 saya panas tinggi. Waktu saya masuk rumah sakit, saya gak tahu bahwa ternyata nilai albumin saya itu tinggal dua (dari albumin normal 3.5 hingga 4.5 mg/dL). Akhirnya saya memutuskan untuk menjalani transfusi albumin. Saat proses transfuse tersebut, saya mengalami masa kritis dimana hidup saya sepertinya akan berakhir.

Saat itu, saya merasa akan kehilangan nyawa saya. Kondisi yang saya alami saat itu sangat mencekam. Saya teriak sekencang-kencangnya sampai satu lantai rumah sakit kaget.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Takut mati secara manusia memang iya. Tapi saya takut karena masih ada satu cita-cita yang belum saya gapai dalam hidup saya. Saya bilang sama Tuhan, “Jangan ambil saya sekarang. Tolong jangan ambil saya sekarang.”

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, saya merasa ada seseorang yang ada di atas kepala saya. Jadi waktu itu saya cuma ingat satu ayat firman Tuhan, pernyataan seorang perempuan yang 12 tahun mengalami pendarahan dia beriman bahwa “asal kujatah saja jubah-Nya aku pasti akan sembuh” (Markus 5: 28).

Kata-kata itu teringang sepanjang malam dalam diri saya. Saya bilang sama Tuhan, “Pokoknya saya percaya. Perempuan yang 12 tahun pendarahan aja bisa sembuh saya pasti akan sembuh.”

 

Memilih Untuk Berubah

Saya adalah pribadi yang sangat perfeksionis. Saya mau segala sesuatunya sesuai dengan keinginan saya, bukan seperti apa yang Tuhan mau. Kalau tidak sesuai saya akan marah, saya akan emosi. Jadi saya mulai mengintropeksi diri saya. Sebenarnya apa sih yang membuat saya jadi seperti ini?

Kehidupan miskin di masa lalu membuat saya bertekad harus terkenal. Saya harus jadi orang kaya, punya banyak uang. Tapi ternyata bukan itu tujuan Tuhan. 

Tujuan Tuhan (atas hidup saya) bukan seberapa banyak uang yang saya punya, tapi bagaimana saya bisa menjadi berkat buat orang lain. 

 

Baca Juga: Vaginismus Bikin Aku Merasa Gak Layak Jadi Seorang Istri - Yuanita

 

Saat itulah saya beriman bahwa saya pasti sembuh. Itu adalah iman saya. Tetapi dibalik itu ada proses yang harus saya lewati. Kenyataannya saya tidak bisa berjalan. Saya mengalami satu kemunduran fisik yang secara manusia mungkin saya tidak bisa terima.

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan fisioterapi supaya saya bisa belajar berjalan. Jalannya cuma setapak dua tapak supaya menggerakkan saraf-saraf saya. 

Jadi proses itu saya jalani hingga saya bisa berjalan kembali sekitar 5 bulan. Saya mulai mengontrol emosi saya menjadi pribadi yang jauh lebih sabar. 

Bersyukur dalam keadaan yang tidak baik itu, saya mengaku jika itu tidak mudah. Tapi saya belajar satu hal bahwa kehidupan yang tidak baik itu membuat saya belajar melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. 

Setelah saya sakit, saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Jadi sakit ini adalah salah satu proses Tuhan supaya saya bisa menjadi berkat bagi orang lain.

Dari peristiwa yang saya alami di masa sakit saya ini, saya mengerti bahwa hidup itu menjadi inspirasi bagi banyak orang. Sukses itu mungkin bagi kita adalah menjadi kaya atau terkenal. Atau menjadi sesuatu yang lebih hebat dari orang lain. Tapi bagi saya definisi sukses itu bukan seberapa banyak uang yang saya punya. Tapi bagaimana saya bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Itu adalah kesuksesan yang sejati.

 

 

Sumber : Solusi TV
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami