Dibesarkan Oleh Orangtua Gay dan Benci Kristen, Pria Ini Percaya Tuhan Lewat Alkitab

Dibesarkan Oleh Orangtua Gay dan Benci Kristen, Pria Ini Percaya Tuhan Lewat Alkitab

Lori Official Writer
1032

Sebelum percaya Tuhan, penulis Caleb Kaltenbach pernah berkata bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi orang Kristen. 

Namun siapa sangka sekeras apapun dia mencoba untuk membantah dan menyangkal kebenaran Alkitab, ia justru terbuka dengan kekristenan. Alkitab mengubah hati dan pikirannya.

Perjalanan iman dan pandangan teologis Caleb Kaltenbach terbilang menakjubkan. Dia dibesarkan oleh orangtua gay di tengah lingkungan yang serba bebas.

“Orangtua saya bercerai saat saya berusia dua tahun dan mereka menjalin hubungan sesama jenis,” ungkapnya.

 

Baca Juga: 8 Ayat Alkitab yang Menentang LGBT

 

Kenyataan itu membawa Caleb dan keluarganya menjadi aktivis LGBTQ di mana dia sering menghadapi kebencian dan pandangan diasingkan oleh orang Kristen. Perlakuan itulah yang membuatnya benci kepada kekristenan.

“Saya belajar sangat cepat dari hal-hal yang saya lihat dari parade LGBTQ, cara saya memandang orang Kristen memperlakukan orang, cara saya melihat keluarga mengabaikan anak laki-laki mereka yang meninggal karena Aids pada tahun 1980-an, saya melihat dengan sangat cepat bahwa orang Kristen membenci orang gay,” terangnya.

Saat itulah semua pemandangan ini membuat Caleb berjanji tidak akan pernah menjadi Kristen. “Jika orang Kristen seburuk ini, saya tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya Yesus jika Dia adalah pemimpin mereka,” ungkapnya.

Hingga sesuatu yang tak terduga terjadi selama masa remajanya. Di usia 16 tahun, Caleb bergabung di komunitas Kristen hanya untuk mencari tahu dan mencoba menyangkal kekristenan. Terlepas dari upaya terbaiknya, Caleb secara mengejutkan mendapati dirinya tertarik dengan Alkitab. Lalu segalanya mulai berubah.

“Saya menjadi orang Kristen, mengubah pandangan saya tentang seksualitas menjadi apa yang saya pegang hari ini, bahwa Tuhan merancang keintiman dan kasih sayang seksual untuk diekspresikan dalam pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita,” katanya.

 

Baca Juga: LGBT Semakin Marak, Apa Penyebabnya?

 

Perjalanan iman Caleb tentu tidak mudah, terutama saat keluarganya tahu tentang pertobatannya. Orangtuanya yang gay sekaligus aktivis LGBTQ mengusir dia dari rumah.

“Saya pikir orangtua sata akhirnya menyadari bahwa saya bukan salah satu dari orang-orang Kristen itu,” katanya.

Perjalanan iman Caleb tak berhenti di situ. Dia memutuskan untuk menjadi pendeta. Sementara orangtuanya mulai bisa percaya dan menjadi Kristen di tahun-tahun terakhir hidup mereka.

Selain memegang pandangan Alkitab tentang pernikahan, Caleb mengatakan bahwa dia juga menganut pandangan lain bahwa kepercayaan teologis tidak boleh menjadi katalisator untuk merendahkan orang lain.

Atas pengalaman di masa lalunya dan pandangan terhadap kekristenan yang begitu membenci orang-orang LGBTQ, dia pun memutuskan untuk membuka pandangan orang-orang Kristen tentang hukum kasih. Dia mencoba menawarkan keseimbangan antara kebenaran dan kasih untuk menunjukkan kasih Yesus terhadap semua orang.

Caleb percaya bahwa penting sekali bagi orang Kristen untuk menunjukkan empati kepada orang lain. “Kita perlu menunjukkan banyak empati…saya tidak mengartikan empati sebagai menerima. Bagi saya, empati mirip dengan kerendahan hari…empati adalah mengakui realitas seseorang,” terangnya.

 

Baca Juga: Pernikahan Sesama Jenis Resmi Sah di Irlandia Utara, Para Pemimpin Kekristenan Prihatin

 

Pengalaman tentang apa yang ia alami meyakinkan Caleb bahwa semua orang bisa dijangkau dengan injil. 

Apakah Anda mengenal seseorang yang mengalami penyimpangan seksual di sekitar Anda? Sebagai orang percaya, kita diminta untuk mengasihi mereka sama seperti Yesus mengasihi semua orang. Hak penghakiman hanya ada di tangan Tuhan karena itu mari mengasihi mereka sebagai pribadi, tetapi bukan berarti memaklumi dosanya. 

Mari bantu mereka untuk lepas dan sembuh dari keadaannya dengan belas kasih dan dukungan doa.

Sumber : CBN News
Halaman :
1

Ikuti Kami