Ditolak Karena Terlalu Miskin

Ditolak Karena Terlalu Miskin

Lori Official Writer
      609

Matius 11: 28

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 67; Ibrani 1; Mikha 1-2

Dahulu kala hiduplah seorang raja yang bijaksana dan benar yang sangat memperhatikan rakyatnya. Untuk memastikan bahwa kerajaannya makmur, raja memanggil salah satu pelayannya dan memberinya keputusan ini.

“Pergi dan berdirilah di pintu istana. Jika seseorang datang dan meminta untuk menemuiku, bukalah pintu itu dan izinkan dia masuk sehingga aku bisa berbicara dengan mereka.”

Maka pergilah hamba itu dan melakukan seperti yang diperintahkan raja. Orang-orang datang dari jauh dan luas untuk melihat raja. Beberapa orang kaya, beberapa sarjana besar, yang lain dari keluarga bangsawan dan ketika mereka meminta untuk melihat raja, penjaga pintu itu memberi mereka masuk. Lalu suatu hari seorang pengemis miskin datang mendekati pintu istana dan meminta untuk bertemu raja. Penjaga pintu menatapnya dan mengerutkan kening.

Pakaian pengemis itu kotor dan sobek, dia bertelanjang kaki dan penampilannya sangat tidak enak dipandang oleh mata.

“Tentunya rajaku tidak ingin bertemu dengan pria seperti ini,” pikir sang penjaga pintu.

Tak lama kemudian penjaga pintu tersebut mengusir pengemis miskin itu. Karena dia menilai jika orang itu miskin, buruk dan penyakitan. Saat raja tahu apa yang dilakukan penjaga pintu itu, dia pun memanggilnya.

“Mengapa kamu mengusir orang itu dari pintu istana,” ucap sang raja dengan marah.

Lalu penjaga pintu tersebut mulai ketakutan dan menjawab dengan lemah lembut. “Rajaku, aku hanya melakukan tugas yang engkau sampaikan kepadaku.”

Jawab sang raja, “Tugasmu adalah membuka pintu untuk orang-orang yang ingin bertemu denganku. Kamu tidak diperintahkan untuk memutuskan apakah mereka layak atau tidak layak bertemu denganku.” 

Berapa banyak dari kita kadang kala bersikap seperti sang penjaga pintu itu. Sebagai orang yang berpendidikan atau memiliki status ekonomi yang baik, kita sering memandang mereka yang hidupnya kurang beruntung seperti kita sebagai orang yang tidak pantas. Kita mulai mengabaikan mereka. Kita mulai memperlakukan mereka seenaknya. Kita mencuri kesempatan besar yang mungkin bisa mengubah hidup mereka. Kita tidak memberi mereka kesempatan untuk dikasihi dan merasa layak dikasihi. 

Berapa banyak orang seperti pengemis miskin itu yang kita temui dan kita abaikan? Berapa banyak dari orang-orang seperti ini yang kita perhatikan atau bahkan kita bantu supaya mereka bisa melihat kasih Tuhan terpancar melalui hidup kita?

Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk memiliki kehidupan yang pantas dan layak saat ini, itu artinya Tuhan meminta kita untuk melakukan tugas untuk mempersilahkan semua orang untuk masuk melalui pintu kasih-Nya (melalui kasih kita) dan mengalami kasih karunia yang sudah disediakan Tuhan atas hidup mereka. 

Hari ini, apakah Anda sudah menyadari tugas apa yang Tuhan perintahkan untuk Anda lakukan? Mari mulailah dengan hal yang sederhana yaitu menyambut siapapun yang datang dengan belas kasihan.

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 39)

 

Hak cipta Ryan Duncan, disadur dari Crosswalk.com

 


 

Kamu diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

DAFTAR

Ikuti Kami