Dulu Bangga Jadi Anak Punk Sekarang Bangga Jadi Anak Tuhan – Rudi Eikel

Dulu Bangga Jadi Anak Punk Sekarang Bangga Jadi Anak Tuhan – Rudi Eikel

Lori Official Writer
2193

Saya bangga jadi anak punk waktu itu. Kami ngamen, cari uang hanya untuk mabuk, beli obat dan beli lem. Itu sudah jadi ciri khas kami (anak punk) dan jadi bagian hidup kami. Bagi kami cara hidup seperti itu sudah menyenangkan sekali.

Suatu kali waktu saya ngamen, saya ketemu dengan tante saya. Tante saya bilang begitu, “Brengsek kamu bikin malu keluarga aja.”

Saya langsung kabur, lari saya. Saya lari karena malu juga takut. 

Saya tinggal dengan om dan tante saya di Madiun sejak saya berusia 8 bulan waktu itu.

 

Jadi Anak Nakal

Ketika saya tumbuh dewasa, saya jadi anak nakal. 

Saya menjadi kepahitan dengan Om saya karena saya sering dipukul dan dihajar. Akhirnya saya keluar dari rumah itu. Lebih baik saya bersama teman-teman saya dengan komunitas punk waktu itu.

Saya menemukan kebersamaan yang sangat luar biasa yang tidak pernah saya dapatkan ketika saya ada di rumah. Makanya saya lebih suka berada di komunitas jalanan karena di situ enak. Semuanya bebas. Gak makan ya gak makan sama-sama. Senang sama-sama, susah sama-sama. Di situlah saya terbentuk dengan suasana kebebasan.

Setelah sekian lama saya hidup di jalanan, ada rasa kejenuhan dalam hati saya, dalam batin saya. Ada banyak masalah, berantem di jalanan, rasanya capek, rasanya batin ini mau menangis waktu itu.

 

Baca Juga: Edo Kwan Mantan Kepala Geng Yang Dulu Ganas, Kini Berkata I Love You Jesus

 

Berangkat ke Sorong

Di Sorong, Papua, saya bertemu dengan kakak ipar saya. Saya menyalahkan mama atas semua yang terjadi dengan kami. 

Saya bahkan pernah punya rencana untuk membunuh mama kandung saya karena dia jahat kepada saya. Dia membanting saya, lalu dia membawa saya ke Madiun. Saya tidak berhasil di Madiun, saya menjadi gembel di Madiun. Saya lihat saudara perempuan saya di Maluku, mereka berhasil. Itu yang membuat saya jadi kepahitan dengan mama saya.

Ketika saya tinggal dengan kakak ipar, saya merasakan kasih sayang yang luar biasa. Kasih sayang yang tidak saya dapatkan ketika saya tinggal di Madiun. Dia baik dan care sama saya. Itu yang membuat saya merasa nyaman. Akhirnya apa yang dia sampaikan soal kebenaran kepada saya, saya bisa menerima dengan baik.

Suatu kali saya diajak oleh kakak ipar saya ke gereja waktu itu. Ketika saya masuk gereja, saya mengalami sesuatu yang berbeda. Badan saya gemetar waktu itu saat saya masuk gereja.

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Saat saya didoakan, saya tambah menangis. Ketika saya didoakan, akhirnya roh kepahitan itu bisa keluar dan saya bisa mengampuni orang-orang yang sudah menyakiti saya. Seperti mama saya, om saya dan orang-orang yang dulu pernah menyakiti saya.

Ketika saya sudah melepaskan pengampunan, rasanya itu sangat berbeda sekali. Saya merasakan ada damai dalam hidup saya. Berbeda dengan saat saya masih menyimpan dendam dalam hati saya, tidak ada sama sekali damai dalam hidup saya. Yang ada hanya emosi dan rencana jahat.

Tapi waktu itu, ketika saya melepaskan pengampunan saya merasakan damai sejahtera, sukacita yang gak pernah saya dapatkan waktu itu. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa Dia sudah mengampuni saya dari dosa-dosa saya dan saya juga mengampuni orang-orang yang sudah menyakiti saya.

 

Baca Juga: Sejak Usia 8 Tahun Sudah Jadi Preman, Tapi Sekarang Richard Memilih Tuhan

 

Masuk Sekolah Teologi

Saya lalu mengambil kesempatan untuk sekolah Teologi selama 1 tahun waktu itu. Setelah saya selesai di sekolah Teologia, Tuhan menaruh visi kepada saya untuk menjangkau teman-teman saya yang ada di jalanan. Akhirnya kita buat satu komunitas namanya waktu itu Komunitas Sajang (Satuan Anak Jalanan Madiun).

Saya mendatangi mereka. Pengalaman kebersamaan yang tidak pernah saya lupakan saat jadi anak punk waktu itu, saya terapkan kembali dalam pelayanan saya untuk menjangkau mereka. Akhirnya mereka bisa menerima saya dengan baik.

Sekitar tahun 2015, saya membuka rumah singgah. Namanya Pondok Pemulihan. Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus. Dia memulihkan hidup saya. Saya mengalami pembaharuan hidup yang luar biasa ketika saya berjumpa dengan Tuhan, mengalami pemulihan, ada hati yang baru yang Tuhan kasih.

Kebahagiaan yang sebenarnya (yang saya alami) adalah ketika kita menjadi berkat, menjadi dampak bagi orang-orang di luar sana.

 

 

Apakah Anda butuh didoakan? Hubungi SAHABAT 24 kami melalui kontak Whatsapp 0822 1500 2424 atau klik link doa ini https://bit.ly/ButuhDukunganDoa

 

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami