Jangan Sampai Kering, Ayo Isi Ulang Sukacitamu!

Jangan Sampai Kering, Ayo Isi Ulang Sukacitamu!

Claudia Jessica Official Writer
      700

Mazmur 16: 11

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 9; Matius 9; Obaja 1

Saya bekerja untuk sebuah pelayanan tetapi saya mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup saya. Saya juga kesulitan dalam mempertahankan sukacita saya.

Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen dan belajar sejak usia dini bahwa sukacita tidak bergantung pada keadaan. “Sukacita” saya diajarkan oleh sekolah Kristen, “berasal dari urutan pemberi sukacita: Yesus, orang lain, lalu Anda (sukacita).”

Saya berpikir prioritas saya sudah sesuai. Saya melayani Tuhan dan orang lain dalam pelayanan namun saya tidak menghasilkan cukup uang untuk mempertahankan batasan kebutuhan dalam hidup saya. Jadi saya tidak merasa sukacita, saya merasa STRES.

Namun ketika saya pergi ke kantor, saya akan melihat semua orang tampak penuh sukacita terlepas dari keadaan mereka. Bahkan salah satu pria bernama William, sangat menonjol daripada yang lain. Dia selalu meluap-luap dengan sukacita Tuhan. Dia akan selalu menyapa setiap orang yang ditemuinya dan berkata “Tuhan itu baik sepanjang waktu”, atau “Puji Tuhan”, atau “Pandanglah Tuhan!”

Suatu hari saya menghentikan William dan mengatakan padanya bahwa saya mengaguminya tentang bagaimana dirinya menunjukan sukacita Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Saya bertanya, apakah dia akan menumpangkan tangan pada saya dan berdoa untuk saya.

Saya sangat berharap dia akan meletakkan tangannya di bahu saya dan berdoa. Namun saya benar-benar terkejut ketika dia menajawab “Tidak, saya tidak akan melakukannya.” Dia pasti melihat ekspresi saya yang terkejut, lalu dengan cepat dia menambahkan, “Alkitab memberitahu kita dalam Mazmur 16:11 bahwa 'di hadirat-Nya ada sukacita penuh.' Jika kamu ingin sukacita, kamu harus masuk ke hadirat Tuhan. Dia adalah satu-satunya yang bisa mengisimu dengan sukacita.”

Saya diingatkan oleh teman saya William bahwa sukacita adalah buah Roh. Buah tidak diberikan, melainkan tumbuh. Buah harus dipelihara. Buah Roh datang dengan berdiam di dalam Pokok Anggur. Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” Yohanes 15:5.

William memang berdoa untuk saya, namun alih-alih berdoa atas sukacita, dia berdoa agar saya haus dan lapar akan kehadirat Tuhan.

Ketika saya pulang kerja hari itu, saya melangkahkan kaki ke gereja. Setelah beberapa saat berdoa dan memuji, stres hari itu mulai terangkat dan saya mulai merasakan kehadiran Tuhan yang manis. Saat saya berlutut dalam doa dan menyembah Pencipta saya, perlahan-lahan saya merasakan sukacita saya kembali kepada saya.

Seperti yang Rasul Paulus katakan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Filipi 4:12-13.

Pada Abad Pertama – masa penganiayaan besar terhadap orang Kristen, Yakobus menuliskan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” Yakobus 1:2-4.

Jadi jika Anda merasa tangki sukacita Anda hampir habis, datanglah ke hadirat Tuhan hari ini. Luangkan waktu untuk berdoa dan memuji Pencipta Anda. Dia akan memenuhi Anda dengan sukacita dan mengembangkan dalam diri Anda ketekunan untuk apa pun yang Dia panggil untuk Anda lakukan.

Sukacita datang dari rasa haus dan lapar akan kehadirat Tuhan.

 

Hak Cipta © Craig von Buseck. Digunakan dengan izin.

Ikuti Kami