Mengalahkan Raksasa Depresi

Mengalahkan Raksasa Depresi

Lestari99 Official Writer
4885

Lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah (1 Samuel 17:49)

 

Kisah Daud telah menjadi kisah kemenangan selama berabad-abad... seorang anak muda, sebuah batu, dan seorang raksasa tersungkur ke tanah dalam kekalahan. Daud datang ke pikiran saya ketika saya memikirkan raksasa lain yang sedang mengejek tentara Allah. Raksasa itu bernama Depresi.

Seperti Goliat, ia tidak datang sendirian. Beberapa orang Filistin menemaninya: ketakutan, kecemasan, dan hal lainnya melumpuhkan kita secara emosi. Saya mendengar banyak orang percaya yang enggan mengakui pergumulan mereka. Mereka kuatir jika mereka mengungkapkan pergumulan tersebut, maka orang lain akan menghakimi mereka sebagai orang yang ‘kurang beriman’ dan akibatnya mereka justru tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk melalui masa-masa sulit dalam hidup mereka. Merasa lemah karena tidak dapat mengalahkan depresi, mereka pun melanjutkan hidup di dalam kesakitan emosi.

Ketika depresi datang melanda, konseling dan obat-obatan medis mungkin diperlukan, tapi bagaimana jika seseorang mulai merasa sedih tak berujung? Apakah yang dapat ia lakukan? Dalam pertarungan Daud dengan Goliat, Daud memilih lima buah batu yang licin, namun hanya menggunakan satu. Dalam memerangi depresi, mungkin hanya ‘sebuah batu’ yang kita perlukan. Tapi di sisi lain, kita mungkin perlu menyiapkan lima batu. Izinkan saya menyarankan beberapa di antaranya:

Kebiasaan Sehat

Ketika kita sadar menderita depresi, hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah tubuh kita. Apakah kita sudah tidur dengan cukup? Apakah kita memakan buah dan sayuran, biji-bijian, ikan, daging tanpa lemak dan meminum banyak air? Kebutuhan diet dapat bervariasi, namun setiap kita membutuhkan protein esensial, karbohidrat, vitamin dan mineral.

Hal lain yang seringkali diabaikan saat seseorang menderita depresi adalah beraktivitas. Hobi dan olahraga yang menyenangkan seringkali diabaikan. Bangun dari tempat tidur dapat membantu memerangi perasaan sedih yang kronis, terutama saat kita keluar rumah dan berjalan di bawah sinar matahari.

Bagi beberapa orang, depresi muncul sebagai bagian dari kondisi yang tidak memungkinkannya untuk banyak bergerak, seperti pasien yang terbaring di tempat tidur dengan nyeri punggung yang kronis. Apakah masih ada cara untuk beraktivitas? Jika kaki tidak dapat digerakkan, dapatkan mengangkat tangan? Jika tubuh serasa lumpuh, dapatkah mulut bernyanyi?

Komunitas

Seperti disebutkan sebelumnya, perasaan takut ditolak mungkin akan menyertai depresi. Pikiran kita yang menyimpang akan berpikir seperti ini, “Jika saya seorang Kristen, tidak seharusnya saya merasa seperti ini. Jika saya terus menyembunyikan ini dari orang lain, mereka tidak akan meninggalkan saya.’ Namun apa yang dikatakan Alkitab?

Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yakobus 5:13-16)

Yang diperlukan adalah bantuan dari orang lain. Empat orang pria membawa seorang yang lumpuh di atas tilam, membuat lubang di atap dan menurunkannya di hadapan Yesus. Alkitab berkata ketika Yesus melihat “iman mereka”, orang lumpuh itupun diampuni dan dapat berjalan kembali (Matius 9:1-8, Markus 2:3-12, Lukas 5:18-26).

Saya terlibat dalam pelayanan penjara. Para narapidana menderita karena mereka telah kehilangan begitu banyak hal baik dan membuat begitu banyak pilihan buruk dalam hidup mereka. Banyak di antara mereka yang menderita depresi. Baru-baru ini, kami memperhatikan seorang wanita muda yang selalu melihat ke lantai dan tidak pernah bicara. Saat kami mengangkat wajahnya dengan lembut, kami melihat air mata mengalir di wajahnya dan ia mulai bercerita tentang pilihan hidup yang diambilnya dan juga perpisahan dengan salah satu anggota keluarganya yang sedang sekarat.

Kami tidak menentang penyesalannya. Kami hanya mulai menunjukkan harapan di dalam Kristus, membagikan Firman, tawa dan kasih sayang, dan air mukanya mulai berubah. Sukacita kembali merayap di hidupnya. Membicarakan masalah dengan mempercayai orang lain merupakan bagian terpenting untuk merasa lebih baik.

Doa

Doa merupakan salah satu ‘batu’ yang paling penting.

Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. (2 Korintus 10:3-5)

Paulus sedang berbicara mengenai salah satu aspek doa. Doa dapat meruntuhkan benteng yang memenjarakan hidup kita. semua pola pikir yang salah dihancurkan dan apa yang selama ini kita pegang erat-erat menjadi sesuatu yang tidak bernilai sama sekali. Daripada tinggal dalam kegelapan ini, pikiran yang mengendalikan depresi, pengharapan dan sukacita, setiap pikiran tunduk pada Kristus, dapat menjadi hasil dari doa. Doa akan membuka saluran kuasa Tuhan untuk mengubah persepsi kita dan memberi kita “pengenalan akan Tuhan”. Doa akan menghampiri Tuhan untuk mengalahkan musuh yang sebenarnya dibalik musuh depresi. Doa adalah cara dimana kita melibatkan Tuhan untuk membela kita.

Bersyukur

Kelompok pemahaman Alkitab saya membahas sebuah kata yang menyenangkan dalam kitab Lukas, “perkenanan”. Kami pun mulai mendorong satu sama lain untuk mencari tanda dari perkenanan Tuhan. Bagaimana Tuhan telah meringankan beban Anda? Bagaimana IA menjawab doa Anda? Ketika Anda berkata, “Terima kasih Tuhan, karena kasih-Mu telah menyentuh hati mereka dan menunjukkan kasih itu kepada saya” atau “Terima kasih Tuhan karena Engkau membuat situasi ini menjadi lebih mudah bagi saya”, dll, Anda pun akan lebih merasakan kehadiran dan pertolongan Tuhan. Ucapan syukur akan membuat Anda berpikir dengan berbeda dan menghilangkan perasaan depresi yang mengintimidasi Anda dengan situasi yang buruk dan tidak adanya harapan di dalamnya. Tentu saja, tinggal di dalam “perkenanan” Tuhan akan mendatangkan kedamaian.

Melayani Orang Lain

Mudah bagi kita untuk melihat kesusahan kita sendiri sebagai yang terburuk sampai kita melihat kesusahan orang lain. Menolong mereka dapat membuat kita tidak lagi tinggal pada rasa sakit, sebaliknya, kita akan kembali merasa dibutuhkan dan berharga.

Akhirnya beberapa orang akan berkata, “Tidak ada hal yang lebih baik selain memutuskan untuk tetap bersukacita di tengah angka pengangguran yang meningkat, ekonomi yang morat-marit dan perang yang terus bergejolak,” karena sukacita di dalam kita tidak bergantung pada keadaan.

Rasul Paulus seringkali menerima respon positif dalam banyak keadaan. Di Psidian Antiokhia, orang-orang berbalik bersikap asam padanya, “...penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus.” (Kis. 13:34). Paulus dan Barnabas diusir dari wilayah tersebut (Kis. 13:50). Mereka bisa saja diliputi kesedihan. Namun Alkitab berkata para murid itu meninggalkan kota penuh dengan sukacita dan dengan Roh Kudus.” (Kis. 13:52).

Saya yakin bahwa inilah yang diinginkan Tuhan bagi anak-anak-Nya, melemparkan lima batu licin saat menghadapi raksasa depresi, dengan meminta pertolongan Tuhan.

Sumber : cbn.com
Halaman :
1

Ikuti Kami