Maleakhi, Kitab Percakapan Manusia dan Tuhan

Maleakhi, Kitab Percakapan Manusia dan Tuhan

Lori Official Writer
      1229

Maleakhi 3: 1

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 147; Yohanes 7; 2 Samuel 21-22

Istilah Maleakhi berarti ‘utusan’. Jadi gak heran kalau isi kitab ini relevan dengan tujuannya yaitu untuk mengkomunikasikan pesan Tuhan kepada umat-Nya.

Kitab ini ditata sebagai sebuah percakapan antara manusia dan Tuhan, berbentuk argumentasi, dari hati ke hati dan penuh keyakinan.

Mari melihat 3 karakter Tuhan yang bisa kita pelajari dari nabi kecil Maleakhi.

1. Tuhan Tidak Berubah

Maleakhi mengungkapkan sifat Tuhan yang tidak berubah. Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah (Maleakhi 3: 6). 

Di sepanjang kitab ini, kita bisa menemukan Tuhan berbicara dengan emosi yang berputar-putar. Dari yang penuh kasih, penuh kemarahan, keadilan, Tuhan tetap setia pada karakter-Nya.

2. Sebutan Nama Tuhan Menimbulkan Pandangan yang Berbeda

Sepanjang kitab Maleakhi kita akan membaca tentang sebutan nama yang berbeda dari Tuhan. Masing-masing nama ini sendiri diartikan secara berbeda oleh manusia. Seperti contoh:

Bapa – Di Maleakhi 1: 6, Tuhan menyebut diri-Nya ‘Bapa’ dan Dia mendorong penghormatan dari umat-Nya. Sebagaimana seorang anak hormat kepada bapa-nya.

Tuan – Di ayat yang sama, Tuhan juga disebut dengan Tuan. Sebutan ini mengandung arti penghormatan yang biasanya terjalin antara hamba dengan tuannya.

Sang Pencipta – Beberapa kali kitab Maleakhi menyebut nama Tuhan dengan ‘Allah Semesta Alam’. Hal ini diartikan sebagai pemilik otoritas dan penguasa atas segala makhluk. Sebagai ciptaan-Nya, kita dituntut untuk memuliakan dan mengangungkan nama-Nya (Maleakhi 1: 11; Maleakhi 2: 2).

3. Tuhan Menjawab Setiap Pertanyaan Aneh Kita  

Maleakhi ditulis sebagai percakapan antara Tuhan dan manusia. Di percakapan tersebut, salah satu hal aneh yang bisa kita temukan adalah waktu Tuhan membuat pernyataan yang lugas diikuti oleh pertanyaan kontra-argumentatif manusia yang seringkali ditanggapi oleh Tuhan.

Kalimat pembuka di awal kitab Maleakhi diawali dengan ungkapan kasih Tuhan bagi bangsa Isreal. Anehnya, Tuhan mengajukan pertanyaan ini. “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” Orang-orang ini adalah saksi melihat bagaimana tangan Tuhan yang kuat bekerja, membimbing, menyelamatkan, melindungi dan mengawasi mereka. Tapi mereka malah kembali mempertanyakan kasih-Nya atas mereka.

Di pasal 1, waktu Tuhan berkata bahwa mereka membenci nama-Nya dan mempersembahkan makanan yang tercemar, mereka menanggapinya dengan berkata. “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?...Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” (Maleakhi 1: 6-7)

Kita pasti berpikir bahwa orang-orang ini belajar untuk tidak membalas Tuhan. Tapi empat pertanyaan lain yang ada di Maleakhi, yang merupakan pertanyaan retoris yang samar-samar, yang mencerminkan sifat orang yang tidak sadar. Mereka tidak menghormati atau memahami apa yang sudah Tuhan lakukan untuk mereka, mereka juga tidak melihat hidup mereka sendiri dan merefleksikan tuduhan Tuhan.

Kitab Maleakhi sebenarnya adalah refleksi dari masa-masa penantian kita akan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya. Seperti yang dijanjikan-Nya, Dia akan datang kembali. 

Jadi, mari merendahkan diri untuk selalu menghormati Tuhan dan menaati firman-Nya.

 

 

Hak cipta Alice William, disadur dari Crosswalk.com


Kamu diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

DAFTAR DI SINI

Ikuti Kami