Pendeta Gereja Sulteng Dampingi Keluarga Korban Pembunuhan di Poso Pulih Dari Trauma

Pendeta Gereja Sulteng Dampingi Keluarga Korban Pembunuhan di Poso Pulih Dari Trauma

Lori Official Writer
808

Bagi sebagian masyarakat yang belum tahu, pada Selasa, 11 Mei 2021 sebuah insiden pembunuhan terjadi di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebanyak empat petani ditemukan mati mengenaskan. 

Menurut hasil penyelidikan pelaku pembunuhan sadis tersebut diduga adalah teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso. 

Tindakan tak manusiawi inipun mengundang keprihatinan dari berbagai kalangan, termasuk para pendeta dari Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Klasis Napu Kabupaten Poso. Secara khusus keluarga korban tentu saja masih diliputi perasaan duka yang mendalam sekaligus trauma terkait pembantaian yang dilakukan terhadap anggota keluarganya. Karena itulah dianggap perlu untuk memberikan pelayanan rohani berupa trauma healing kepada seluruh keluarga korban. 

“Sudah tentu dengan kejadian ini membuat warga di sana trauma begitu juga keluarganya. Makanya kami terpanggil untuk datang ke sana memberikan pelayanan,” ucap Pendeta Thomas Tontosi, seperti dikutip Kumparan.com, Minggu (16/5).

Bukan hanya itu, para pendeta Sinode GKST juga satu suara mendesak pemerintah untuk menjamin keamanan dan perlindungan para petani di Poso. Mereka juga mengingatkan supaya kejadian serupa tidak lagi terulang di kemudian hari.

“Kami menyadari mungkin aparat kita terbatas. Mereka tidak mungkin ada di setiap sudut. Namun jangan sampai kejadian ini membuat nilai kebangsaan kita tercabik-cabik. Saya kira kami masih percaya kepada aparat keamanan,” ungkap Pendeta Thomas, salah satu pendeta GKST.

 

Baca Juga: Berani Tuntaskan Konflik Ambon-Poso, JK Bangun Sekolah Alkitab Tuk Cegah Radikalisme

 

Sikap PGI Terkait Kasus Teroris MIT

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pun menyampaikan sikap tegas

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA -->

terkait tindakan teroris MIT tersebut. PGI menyebut tindakan tersebut sebagai pembantaian yang dilakukan dengan sadis dan biadab. 

Kemarahan PGI dianggap cukup beralasan lantaran insiden ini menjadi kali kedua setelah pembantaian serupa juga dilakukan MIT di akhir tahun 2020 lalu.

Selain mendesak pemerintah dan aparat keamanan menyelesaikan teror ini, PGI juga menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan yang mendalam kepada seluruh keluarga korban. 

 

Baca Juga: Pesan Menohok Dari Pendeta Gilbert Lumoindong dan Menag ke Pendeta Jozeph Paul Zhang

 

Terdapat 3 seruan yang disampaikan oleh PGI terkait insiden pembunuhan di Poso, diantaranya:

1. Mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk meningkatkan upaya penanganan kelompok teroris ini, sehingga tidak lagi jatuh korban warga tak bersalah yang dibantai dengan cara-cara barbar. Masyarakat berhak atas jaminan keamanan dan ketentraman, serta bebas dari segala bentuk terror, dan pemerintah wajib memberikannya.

2. Mengimbau masyarakat setempat untuk tetap waspada, sambil memperkuat ketahanan soSial dan memberi dukungan terhadap upaya-upaya pemerintah  untuk menangani kasus ini.

3. Mendorong seluruh elemen masyarakat untuk bersikap proaktif melawan gerakan ekstremisme yang melegalkan cara-cara kekerasan dan terror, karena sungguh melecehkan nilai-nilai luhur agama maupun kebangsaan.

“Kami terus mendoakan dan mendukung semua langkah dan upaya pemerintah untuk memelihara keamanan dan ketentraman masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bebas dari aksi teror dan ekstremisme,” demikian disampaikan PGI di akhir suratnya.

Mari berdoa mendukung keluarga korban yang hingga saat ini masih dihantui trauma supaya diberikan kekuatan dan pemulihan dari Tuhan. Kita juga berdoa supaya Poso tetap dilindungi Tuhan dan dijauhkan dari segala tindakan kejahatan apapun.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami