Yang Terbesar Bukan Kita, Melainkan...

Yang Terbesar Bukan Kita, Melainkan...

Claudia Jessica Official Writer
      1170

1 Petrus 5: 6

“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 130; 2 Korintus 3; 1 Samuel 26-27

Hidup saya terkadang terasa seperti ‘ratu’ yang mendominasi dalam sebuah permainan. Queen of the Court dalam bola voli adalah seseorang yang mendominasi dalam permainan. Tujuannya sederhana, untuk mempertahankan keunggulan, membuat permainan jadi mendominasi, mengendalikan permainan.

Saya berusaha, menetapkan tujuan, membuat rencana untuk memenangkan permainan hingga membuat strategi. Saya ingin menjadi yang terbaik namun, terkadang tujuan saya berubah. Awalnya saya ingin mengalami semua hal baik dari Tuhan, kemudian berubah menjadi ingin menjadi yang terbaik.

Saya harus memeriksa hati saya.

Apakah saya berusaha menjadi yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan atau saya melakukan itu karena saya ingin membuat orang lain terkesan dan membuat diri saya lebih diatas daripada orang lain? Itu adalah dua hal yang sangat berbeda.

Saya ingin menjadi yang terbaik, ingin menjadi karyawan terbaik, bekerja di perusahaan terbaik, menjadi jemaat di gereja terbesar dengan pendeta yang paling populer. Kami ingin menjadi orang tua dari anak-anak terpintar, melayani di bagian yang paling penting, menggandeng suami yang keren. Kami ingin penampilan kami yang berkilau tampil di media sosial.

Tuhan, ampuni kami.

Kami ingin menjadi hebat. Itu bukan hal yang buruk.

Kita perlu menjadi orang yang unggul. Yesus menceritakan sebuah kisah, perumpamaan tentang bakat, dimana DIa mengajarkan kita bertanggung jawab secara bijaksana untuk menggunakan apa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing (Matius 25: 14-30). Tuhan berharap kita menggunakan bakat, kepribadian, karunia, serta energy kita dengan produktif. Masalanya adalah motivasi kita. Jika kita berjuang untuk kesempurnaan sehingga membuat orang lain terkesan, maka kita bertindak dengan kebanggaan diri sendiri.

Alih-alih meninggikan Tuhan, kita justru meninggikan diri sendiri.

Tuhan, ampuni kami.

Queen of the Court adalah latihan bola voli yang berguna, tetapi ini bukanlah permainan yang wajib dimainkan oleh orang Kristen. Jika saya benar-benar ingin memberikan pengaruh seperti yang Tuhan inginkan, maka saya harus lebih fokus pada kebesaran Tuhan, bukan kebesaran diri saya sendiri.

Petrus mengingatkan kita hal ini dalam suratnya kepada orang-orang percaya di gereja mula-mula. “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."” (1 Petrus 5: 5).

Tugas kita: rendah hati di hadapan Tuhan dan orang lain. Berhenti memainkan permainan kehebatan.

Tugas Tuhan: untuk mengangkat kita sesuai keinginanNya. Ketika kita cocok dengan keinginanNya, semuanya adalah untuk meninggikan diriNya.

Mari berdoa,

Ya Tuhan, Engkau adalah Allah yang Agung. Bantu saya untuk fokus pada kebesaran-Mu daripada kebesaran saya sendiri. Murnikan hati saya dan biarlah Engkau di dalam saya dan melalui saya hari ini.

Dalam Nama Yesus, Amin.

 

Hak cipta oleh Gwen Smith, disadurkan dari crosswalk.com.

Ikuti Kami